INDOPOSCO.ID – Di balik aktivitas industri migas yang menjaga pasokan energi nasional, ada denyut lain yang tak kalah penting: kesehatan masyarakat di sekitar wilayah operasi. Dari balita yang pertumbuhannya harus dijaga sejak dini, ibu hamil yang membutuhkan pendampingan gizi, remaja yang belajar memahami kesehatan reproduksi, hingga lansia dan penyandang disabilitas yang memerlukan layanan kesehatan ramah dan inklusif.
Kebutuhan nyata itulah yang mendorong Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1 menghadirkan rangkaian intervensi kesehatan berbasis tanggung jawab sosial di enam wilayah kerja. Program dijalankan melalui kolaborasi erat dengan puskesmas dan dinas kesehatan setempat, memastikan intervensi tidak berhenti pada bantuan sesaat, melainkan membangun kemandirian warga dalam menjaga kualitas hidup.
Momentum World Health Day setiap 7 April menjadi penguat pesan bahwa menjaga kesehatan berarti menjaga harapan hidup secara berkelanjutan. Inisiatif ini hadir di sekitar wilayah operasi Pertamina Hulu Energi Jambi Merang, Pertamina EP Jambi, Pertamina EP Lirik, Pertamina EP Pangkalan Susu, Pertamina EP Rantau, serta Pertamina Hulu Energi North Sumatra Offshore, dengan fokus utama pada kelompok rentan.
Manager Community Involvement & Development (CID) Regional 1 Iwan Ridwan Faizal mengatakan, program kesehatan dirancang agar dampaknya berkelanjutan.
“Kami meyakini keberlanjutan lahir ketika program mampu menambah pengetahuan, kepedulian, dan daya masyarakat untuk menjaga kesehatan secara mandiri,” ujarnya dalam keterangannya, Senin (13/4/2026).
Sepanjang 2025, pencegahan stunting menjadi fokus utama. Hasilnya, 130 balita berhasil keluar dari kondisi stunting. Program ini juga menjangkau 260 ibu hamil, 100 ibu menyusui, 250 orang tua, 100 keluarga, 100 remaja, serta 770 remaja putri. Intervensi dilakukan melalui pemberian makanan tambahan, penguatan fasilitas posyandu, pelatihan kader kesehatan, edukasi gizi keluarga, hingga pengembangan kebun pangan masyarakat sebagai sumber pangan bergizi berkelanjutan.
Perubahan mulai terasa di tingkat keluarga. Pengetahuan gizi tidak lagi berhenti sebagai informasi, tetapi hadir dalam pilihan makan sehari-hari dan kebiasaan rutin ke posyandu.
“Sekarang saya jadi lebih paham bagaimana menjaga kesehatan selama hamil, mulai dari pola makan sampai pentingnya rutin memeriksakan kandungan. Rasanya lebih tenang karena tahu apa yang harus dilakukan untuk kesehatan saya dan bayi,” ujar Amelia, ibu hamil delapan minggu di sekitar wilayah PEP Jambi.
Kepedulian serupa menjangkau kelompok disabilitas di sekitar wilayah kerja PEP Rantau. Sebanyak 100 peserta inklusif mengikuti kelas kesehatan, sementara 30 penyandang difabel memperoleh dukungan alat bantu serta layanan kesehatan yang membantu meningkatkan kualitas hidup mereka.
Perhatian juga diberikan kepada lansia. Sekitar 180 lansia terlibat dalam program kesehatan masyarakat. Di wilayah PEP Jambi, 80 lansia memperoleh peningkatan pengetahuan kesehatan dan mental, 50 lansia meningkat produktivitasnya melalui kegiatan pemberdayaan. Sementara di wilayah PHE Jambi Merang, 50 lansia menerima bantuan stimulan kesehatan.
“Sekarang kami merasa lebih diperhatikan. Bukan hanya diperiksa kesehatannya, tapi juga diajak tetap aktif dan punya kegiatan. Rasanya lebih semangat menjalani hari,” ungkap Maisarah, Duta Lansia Desa Kota Karang 2025.
Energi yang dihasilkan dari wilayah operasi tidak hanya bermakna bagi ketahanan nasional, tetapi juga meninggalkan jejak manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Langkah ini memperkuat kontribusi perusahaan terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SGs), khususnya poin ke-2 (Tanpa Kelaparan) dan ke-3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera). (srv)










