INDOPOSCO.ID – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa keberhasilan Indonesia melewati krisis energi tidak dicapai dengan mudah. Menurutnya, diskusi tanpa henti dilakukan untuk menemukan jalan keluar terbaik bagi persoalan energi nasional yang kompleks.
“Khususnya saya di ESDM (red), Bapak, Ibu semua, memang terjadi perdebatan alot dan diskusi yang luar biasa terkait dengan bagaimana bisa kita menyelesaikan persoalan krisis energi,” kata Bahlil dalam acara Halalbihalal Idulfitri 2026 di DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (8/4/2026).
Ia menyatakan masa krisis energi, terutama mengenai isu Liquefied Petroleum Gas (LPG) sudah berakhir. Keberhasilan itu disebutnya sebagai buah dari kerja keras tim dan pola komunikasi yang berjalan dengan baik di internal pemerintahan.
“Tapi, Alhamdulillah berkat kerja tim, komunikasi yang baik, saya menyampaikan dengan senang hati bahwa masa krisis kita sudah lewat. Masa krisis LPG itu sebenarnya kemarin. Ini saya sampaikan saja jujur,” ucap Bahlil.
Bahlil menyoroti besarnya impor LPG Indonesia yang mencapai 75 persen dari total konsumsi. Ia menyebutkan bahwa kemampuan produksi domestik tidak lebih dari 1,6 juta ton, padahal kebutuhan masyarakat mencapai 8,5 juta ton.
“Jadi itu yang menjadi impor itu yang bikin saya pusing tidurnya agak repot,” ucap Ketua Umum Golkar itu.
“Nah, di tanggal 4 (April) kemarin cadangan LPG kita itu tidak sampai 10 hari. Tanggal 4 kemarin kemarin. Idealnya itu harus minimal 10 hari,” tambahnya.
Ia mengungkapkan rasa syukurnya karena pemerintah berhasil mengamankan pasokan energi melalui pengalihan beberapa kargo. Keberhasilan tersebut merupakan hasil dari negosiasi strategis dengan beberapa negara, yakni Jepang, Australia, dan Brunei Darussalam.
“Dan sekarang kapal sudah ada yang masuk dan cadangan kita sekarang sudah di atas 10 hari untuk LPG. Jadi sudah lewat. Ini ini yang membuat saya bingung betul,” imbuh Bahlil. (dan)










