INDOPOSCO.ID – Upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar diesel kini memasuki babak baru. PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mulai mengakselerasi pemanfaatan gasifikasi biomassa sebagai solusi energi yang lebih bersih dan efisien, khususnya bagi wilayah yang belum tersambung jaringan listrik utama.
Langkah strategis ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara PLN EPI dan PT Karimun Power Plant (KPP) di Jakarta, awal pekan ini. Kolaborasi tersebut difokuskan pada pengembangan syngas berbasis biomassa yang diharapkan mampu menjadi tulang punggung energi alternatif di daerah terpencil.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menegaskan bahwa biomassa kini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dalam membangun sistem energi berkelanjutan.
“Potensi biomassa nasional mencapai sekitar 80 juta ton, namun baru dimanfaatkan sekitar 20 juta ton. Artinya, masih ada peluang besar yang bisa dioptimalkan untuk mendukung ketahanan energi nasional,” ujar Hokkop dalam keterangannya, Rabu (8/4/2026).
Menurut Hokkop, selama ini pemanfaatan biomassa masih didominasi skema cofiring di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Namun, pendekatan tersebut dinilai memiliki keterbatasan dari sisi desain dan kesiapan infrastruktur.
Karena itu, PLN EPI membuka jalur baru melalui teknologi gasifikasi biomassa yang dinilai lebih fleksibel, terutama untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dan sistem kelistrikan terisolasi.
“Gasifikasi biomassa ini menjadi solusi konkret untuk daerah isolated yang masih bergantung pada solar. Dengan pendekatan ini, kita bisa menekan biaya energi sekaligus mengurangi emisi,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa diversifikasi pemanfaatan biomassa menjadi langkah krusial untuk menjawab tantangan energi di berbagai wilayah Indonesia.
“Karena itu kita membuka branch baru melalui gasifikasi biomassa. Ini bukan hanya opsi teknis, tapi juga solusi bisnis yang lebih adaptif untuk menjawab kebutuhan energi di wilayah terpencil ,” tegasnya.
Pulau Karimun dipilih sebagai lokasi percontohan dalam proyek ini. Saat ini, fasilitas yang ada telah mampu menghasilkan listrik berbasis biomassa sebesar 1 MW dan berpotensi ditingkatkan hingga 2 hingga 5 MW.
Dari sisi operator, PT KPP melihat peluang besar sekaligus tantangan dalam transformasi ini. Direktur PT Karimun Power Plant, Arthur Palupessy, mengungkapkan bahwa peralihan dari diesel ke biomassa membutuhkan kepastian pada aspek biaya dan rantai pasok.
“Kami sudah terbiasa dengan sistem diesel yang memiliki standar biaya jelas. Tantangannya di biomassa adalah memastikan harga dan pasokan tetap stabil agar operasional tetap feasible,” kata Arthur.
Kebutuhan bahan baku pun tidak kecil. Untuk pembangkit berkapasitas 1 MW, diperlukan sekitar 35 ton biomassa setiap hari. Hal ini menuntut adanya sistem pasokan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
“Kalau pasokan dan harga bisa dijaga stabil, maka gasifikasi biomassa akan menjadi solusi yang sangat kompetitif dibandingkan diesel,” ungkapnya.
Dalam kerja sama ini, PLN EPI mengambil peran sebagai penggerak utama ekosistem biomassa, mulai dari pemetaan sumber daya, pembangunan fasilitas, hingga penyediaan teknologi dan distribusi energi berbasis syngas.
Tak hanya menghasilkan listrik, proyek ini juga membuka peluang ekonomi baru melalui produk turunan seperti biochar.
Ke depan, model pengembangan di Karimun diharapkan bisa direplikasi secara luas. PLN EPI menargetkan implementasi di sekitar 200 lokasi PLTD di berbagai daerah, sebagai langkah nyata menekan konsumsi solar sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih di Indonesia. (her)










