INDOPOSCO.ID – Penguatan kualitas riset nasional kini tidak lagi hanya berbicara soal kecerdasan intelektual, tetapi juga karakter dan ketangguhan personal periset. Inilah yang menjadi pijakan kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Ary Ginanjar (UAG University) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Gedung BRIN, Jakarta Pusat, Rabu (25/3/2026).
Kepala BRIN Arif Satria, menyampaikan apresiasi atas dukungan Ary Ginanjar Agustian dalam memperkuat manajemen talenta di lingkungan BRIN.
Menurutnya, manajemen talenta menjadi langkah strategis untuk melahirkan periset unggul yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas dan memiliki daya tahan menghadapi tantangan riset global.
“Riset unggul tidak semata bertumpu pada kecerdasan intelektual, melainkan juga membutuhkan fondasi karakter yang kuat. Pendekatan ESQ dinilai relevan dalam membentuk periset yang cerdas, berintegritas, dan tangguh,” ujar Arif.
Ia menegaskan, semangat yang terus didorong kepada para periset BRIN adalah semangat Khairunnas — menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain melalui riset dan inovasi yang berdampak nyata.
Menurut Arif, salah satu tantangan besar riset nasional saat ini adalah belum optimalnya hilirisasi hasil riset ke dunia industri. Kolaborasi ini diharapkan menjadi jembatan yang memperkuat keterhubungan antara inovasi riset dan kebutuhan industri.
“Kita ingin mencetak periset kelas dunia yang impactful, yang karyanya membawa kemajuan nyata, bukan sekadar aktivitas riset biasa. Manajemen talenta adalah jalan paling tepat untuk meningkatkan kualitas human capital di BRIN,” tegasnya.
Kerja sama ini tidak hanya berfokus pada penguatan internal BRIN, tetapi juga membuka peluang kolaborasi akademik. Mahasiswa dan dosen UAG dapat memanfaatkan fasilitas BRIN, mulai dari program Degree by Research, akses laboratorium, hingga program magang riset.
Sementara itu, Ary Ginanjar menekankan pentingnya identifikasi talenta sejak dini agar pengembangan SDM tidak salah arah. UAG, kata dia, telah mengembangkan pendekatan manajemen talenta berbasis data yang telah diuji coba pada sekitar 1.100 periset BRIN dan akan diperluas ke ribuan periset lainnya.
“Jika kita menemukan orang yang tepat dan mengembangkannya secara tepat, maka riset akan menghasilkan dampak besar. Inilah yang ingin kita dorong bersama agar Indonesia benar-benar menjadi negara berbasis riset,” katanya.
Melalui penguatan manajemen talenta ini, BRIN optimistis hambatan sumber daya manusia dalam riset dapat diminimalkan dan mempercepat lahirnya ilmuwan top yang membawa Indonesia semakin disegani di kancah global. (rmn)










