• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Megapolitan

Kuliner Ikonik Lebaran Betawi

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Senin, 23 Maret 2026 - 00:21
in Megapolitan
KH Lutfi Hakim
Share on FacebookShare on Twitter

oleh: KH. Lutfi Hakim, Imam Besar Forum Betawi Rempug (FBR)

Salam rempug, Rasulullah tidak pernah makan ketupat, sayur godog, opor ayam atau semur daging kebo di hari Lebaran. Tapi leluhur kita secara sengaja menyembunyikan pesan-pesan beliau di dalam semua makanan tersebut. Kita memakannya setiap tahun tanpa pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik semua itu?

BacaJuga:

Jakarta Bidik Kota Global, Empat Ranperda Jadi Mesin Penguatan Infrastruktur dan BUMD

Jaga Kesehatan Mental Pelajar, P2G Dorong Pemprov Jakarta Hadirkan Psikolog di Sekolah

Singgung Isu Kesehatan Mental Pelajar, JPPI Desak Pemprov DKI Benahi Sistem Perlindungan Anak di Sekolah

Leluhur kita tidak punya mimbar megah. Tidak punya pengeras suara. Tidak punya platform digital. Tidak punya akun media social (medsos). Namun mereka punya satu hal, yaitu kemampuan melihat bahwa manusia belajar bukan hanya lewat telinga, tapi dari tangan yang menganyam janur, lewat aroma santan dan daging kebo yang menguar dari dapur, lewat suapan pertama di pagi hari raya. Islam tidak datang dengan menghancurkan budaya, tapi menyusup ke dalam budaya pelan, dalam, dan permanen.

Sampai sekarang, kita masih menganyam ketupat, menuang sayur godok dan opor ayam, menyantap lahap semur daging kebo. Tanpa sadar kita sedang berdakwah di meja makan kita sendiri, setiap tahun tanpa henti.

Rasulullah tidak meninggalkan ketupat, sayur godog, opor ayam dan semur daging kebo sebagai makanan ikonik di hari raya. Tapi beliau meninggalkan nilai: suci, bersih, maaf, kerukunan dan toleran. Leluhur kita menyimpannya lewat makanan dalam lidah dan budaya kita. Kemungkinan itulah cara dakwah yang paling sunyi sekaligus abadi.

Ketupat Betawi

Ketupat adalah nasi yang dibungkus dalam anyaman daun kelapa muda yang kemudian direbus hingga padat dan kenyal. Proses pembuatan ketupat ini bukan hanya tentang makanan, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan bahan alam sekitar sebagai pelajaran hidup.

Ketupat dalam tradisi Betawi merupakan simbol untuk mengingat asal-usul dan leluhur mereka yang agraris sekaligus maritim. Beras, bahan dasar ketupat, merupakan kekentalan tradisi agraris, sementara daun kelapa yang digunakan untuk membungkus, adalam lambang masyarakat maritim.

Ketupat memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Betawi. Ketupat merupakan simbol kesucian dan kebersihan, karena beras yang dibungkus dengan daun kelapa menjadi putih dan bersih tidak tercemar oleh apapun.

Para leluhur mengajarkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya secara perlahan dan mendalam kepada masyakat Betawi hingga meresap sampai ke akarnya, sampai ke meja makan, sampai ke lidah anak cucu yang bahkan mereka tidak tahu sedang belajar agama.

Kemungkinan alasan tersebut yang menjadikan ketupat bukan hanya dikonsumsi pada hari raya, tapi juga di malam pergantian Surah Al-Qur’an saat melaksanakan salat taraweh di malam pertengahan bulan Ramadan dan di malam-malam yang diyakini sebagai malam turunnya Lailatul Qadr (malam ke-21, 23, dan 25). Bahwa Lailatul Qadr dan Idulfitri hanya bisa diperoleh dengan kebersihan hati dan kesucian diri.

Opor Ayam dan Semur Daging Kebo

Selanjutnya kenapa opor ayam atau semur daging kebo bukan soto, bukan gulai atau lainnya? Dari sini kita bisa melihat pengaruh budaya Jawa dan Sunda yang cukup kental terhadap masyarakat Betawi dan dapat dimaknai sebagai sikap inklusifitas mereka.

Dalam lisan Jawa, kata “opor” berarti “ngapuro”, maaf; meminta maaf atau memaafkan. Sementara santan yang putih pekat, yang mengalir dan menyatukan aneka bumbu, juga terdapat dalam sayur Godog, dalam bahasa Jawa “Santen”, bunyinya seperti “pengapunten”, dan dalam bahasa Sunda, bunyinya seperti “punten” yang artinya permohonan maaf atau permintaan izin. Kuah yang putih bersih itu menyembunyikan sebuah doa dan harapan agar hati dapat kembali putih setelah Ramadhan.

Bagaimana dengan ayamnya? Ayam adalah hewan yang senang berkumpul, yang selalu kembali ke kawanan atau komunitas. Makhluk yang menyukai silaturrahmi dan kebersamaan.

Semur dalam sejarah kuliner Betawi memiliki kaitan erat dengan pengaruh penjajahan Belanda yang membawa teknik memasak Eropa ke Indonesia. Semur awalnya terinspirasi oleh teknik memasak daging sapi yang digunakan oleh orang Belanda, tetapi kemudian dikembangkan dengan sentuhan rasa lokal seperti kecap manis, yang menjadi ciri khas masakan Betawi. Daging yang dimasak dalam semur akan terasa empuk dan meresap dengan bumbu yang kaya, menciptakan hidangan yang gurih, manis, dan lezat.

Sementara masyarakat Betawi lebih memilih kerbau atau kebo dan bukan sapi karena di samping sebagai mitra kerja masyarakat agraris, yakni sebagai alat bercocok tanam dan transportasi hasil pertanian, juga melambangkan kesuburan dan kemakmuran.

Tambahan lagi, pilihan kebo merupakan bentuk toleransi masyarakat Betawi terhadap pemeluk agama Hindu, yang menghormati sapi. Prinsip kerukunan sebagai poin penting dalam menciptakan harmoni tetap terjaga.

Jadi, dalam satu porsi ketupat di hari Lebaran, di setiap suapan dan gigitan daging ayam dan kebo terkandung makna yang dalam bahwa keadilan bukan hanya soal hukuman, tapi juga keseimbangan dan harmoni sosial, di mana semua orang diperlakukan setara dalam kebersamaan.

Keadilan itu tidak hanya soal hukum di pengadilan, tapi juga tentang mengakui kesalahan, memaafkan, dan menjaga keseimbangan dalam hubungan antar manusia. Inilah yang disebut keadilan restoratif, yang mensyaratkan pelakunya mengakui kesalahan secara jujur dan penuh kesadaran.

Tujuan utama keadilan restoratif bukan menghukum, melainkan memulihkan hubungan antara pelaku, korban, dan masyarakat, sehingga kembali rukun dan harmoni, bukan kalah-menang. Keadilan bukan hanya soal benar atau salah, tapi tentang keberanian mengakui kesalahan dan kesediaan untuk memulihkan hubungan. (rmn)

Tags: idul fitriKuliner BetawilebaranSuku Betawi

Berita Terkait.

“Surat Kaleng Modern” untuk Bakom Ramai di Medsos, Pengamat Ingatkan Publik Cek Akurasi
Megapolitan

Jakarta Bidik Kota Global, Empat Ranperda Jadi Mesin Penguatan Infrastruktur dan BUMD

Jumat, 2 Oktober 2026 - 06:06
salim
Megapolitan

Jaga Kesehatan Mental Pelajar, P2G Dorong Pemprov Jakarta Hadirkan Psikolog di Sekolah

Kamis, 1 Oktober 2026 - 12:02
bk'
Megapolitan

Singgung Isu Kesehatan Mental Pelajar, JPPI Desak Pemprov DKI Benahi Sistem Perlindungan Anak di Sekolah

Kamis, 1 Oktober 2026 - 09:39
pram
Megapolitan

Pemprov Jakarta Tunggu Restu Pemerintah Pusat terkait Penerbitan Obligasi

Kamis, 1 Oktober 2026 - 09:09
hujan
Megapolitan

Sediakan Payung, Hujan Berpotensi Mengguyur Wilayah Jakarta Merata Hari Ini

Kamis, 1 Oktober 2026 - 08:30
pramono
Megapolitan

Pramono Bungkam Soal Pelajar Meninggal Dunia Diduga Bunuh Diri di Jaktim

Rabu, 30 September 2026 - 19:09

OLAHRAGA

Susunan Pemain Indonesia vs Bangladesh: Rizky Ridho Starter, Maarten Paes Cadangan
Olahraga

Susunan Pemain Indonesia vs Bangladesh: Rizky Ridho Starter, Maarten Paes Cadangan

Editor Dilianto
Kamis, 1 Oktober 2026 - 19:58

INDOPOSCO.ID – Timnas Indonesia mengusung misi wajib menang saat menghadapi Bangladesh pada laga terakhir Grup A FIFA ASEAN Cup 2026...

SelengkapnyaDetails
Indonesia vs Bangladesh: John Herdman Ajak Skuad Garuda Kenang Tragedi Kanjuruhan

Indonesia vs Bangladesh: John Herdman Ajak Skuad Garuda Kenang Tragedi Kanjuruhan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:12
Hotspot Nasional Tembus 559 Titik, Kemenhut Perkuat Pengendalian Karhutla di Kalimantan Tengah

Optimistis Tatap Laga Penentu, John Herdman: Takdir Ada di Tangan Kita Sendiri

Kamis, 1 Oktober 2026 - 15:17
Suara Pelanggan Jadi Inspirasi JAECOO J5 EV Genuine Body Kit

Indonesia-Malaysia Main Bareng, Ini Skenario Garuda Lolos ke Final FIFA ASEAN Cup

Kamis, 1 Oktober 2026 - 14:35
john

Jelang Lawan Bangladesh, Herdman Menagih Janji Takdir Garuda di SUGBK

Kamis, 1 Oktober 2026 - 14:04

BERITA POPULER

  • puan

    Kembali Raih Emas Asian Games 2026, Ketua DPR Dorong Penghargaan Bagi Atlet Secara Utuh

    3893 shares
    Share 1557 Tweet 973
  • Transformasi Pelayanan BPN Banten Dimulai, Urus Balik Nama Tanah Tak Lagi Berbulan-bulan

    3921 shares
    Share 1568 Tweet 980
  • Lolos Seleksi Barca Academy, Pesepak Bola Muda Bekasi Terbang ke Spanyol

    1132 shares
    Share 453 Tweet 283
  • Kanwil BPN Banten Serahkan Sertifikat BMN dan BMD Senilai Rp 1,4 Triliun di Momentum Hantaru 2026

    832 shares
    Share 333 Tweet 208
  • Dorong Ekonomi dan Pariwisata, Pengusaha Muda Boyolali Dirikan PO Sa’roni Trans

    800 shares
    Share 320 Tweet 200
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.