• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Ekspor Indonesia di Tengah Konflik Timur Tengah: Tahan Guncangan atau Tertekan?

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Jumat, 20 Maret 2026 - 02:02
in Ekonomi
ekspor

Ilustrasi - Pekerja membongkar muat peti kemas ke atas mobil pengangkut saat pelepasan perdana ekspor langsung produk feronikel di Pelabuhan Kendari New Port, Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (28/1/2026). Foto: Antara

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Memanasnya konflik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar global. Harga energi berpotensi melonjak, biaya logistik meningkat, dan volatilitas keuangan tak terhindarkan. Namun bagi Indonesia, dampak langsung terhadap perdagangan dinilai masih terbatas.

Eksposur Indonesia ke kawasan tersebut relatif kecil. Data Badan Pusat Statistik yang diolah Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) menunjukkan, ekspor ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2 persen dari total nasional. Komoditas utamanya meliputi minyak kelapa sawit, perhiasan, serta kendaraan bermotor.

BacaJuga:

Persetujuan POD Ronggolawe Jadi Momentum SAKA Dorong Produksi Migas Nasional

Siap Hadapi Transformasi Hukum Pidana Nasional, Pegadaian Gelar LEXIS 2026

Hadiri TikTok ForYouBeauty 2026, Wamen Ekraf Dukung Brand Lokal Naik Kelas

Di sisi lain, impor dari kawasan itu berada di kisaran 3,9 persen, didominasi energi, khususnya minyak. Struktur ini menegaskan bahwa ketergantungan langsung Indonesia terhadap kawasan konflik masih rendah.

Sebaliknya, pengaruh terbesar justru datang dari jalur tidak langsung. Kenaikan harga energi, gejolak nilai tukar, hingga perlambatan ekonomi mitra dagang utama menjadi faktor yang lebih menentukan. Pasalnya, sebagian besar ekspor Indonesia mengalir ke Asia Timur (36,4 persen), Asia Tenggara (20,8 persen), Amerika Utara (11,5 persen), Asia Selatan (9,6 persen), dan Eropa Barat (5,7 persen).

Head of Indonesia Eximbank Institute Rini Satriani menegaskan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan situasi, terutama terkait jalur energi global.

“Kami memonitor secara cermat dinamika di kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang merupakan salah satu arteri utama perdagangan energi dunia,” ujar Rini dalam keterangannya, Kamis (19/3/2026).

Selat Hormuz memegang peran vital, dengan lebih dari 30 persen produksi minyak dunia berasal dari kawasan tersebut dan sekitar 20–30 persen perdagangan minyak global melintas di jalur itu. Gangguan sekecil apa pun dapat langsung mendorong lonjakan harga energi.

Meski impor minyak Indonesia tidak sepenuhnya berasal dari Timur Tengah, dampaknya tetap terasa. Sekitar 75 persen pasokan minyak Indonesia datang dari Singapura dan Malaysia—dua hub energi yang juga bergantung pada minyak mentah dari kawasan Teluk.

“Kedua negara tersebut juga mengimpor minyak mentah dari Timur Tengah, sehingga gangguan pasokan di kawasan tersebut dapat mendorong kenaikan harga energi yang dihadapi Indonesia,” ungkapnya.

Tekanan juga bisa datang dari negara mitra utama seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan. Negara-negara ini adalah konsumen besar energi sekaligus pasar penting bagi ekspor Indonesia. Ketika biaya energi naik, aktivitas industri mereka berisiko melambat.

“Apabila ketegangan geopolitik berlangsung dalam periode yang relatif lama, harga minyak global sepanjang 2026 diperkirakan bergerak pada kisaran USD85–120 per barel secara rata-rata, lebih tinggi dibandingkan rata-rata awal tahun yang masih berada di sekitar USD60 per barel,” jelas Rini.

Kenaikan biaya energi dan logistik berpotensi menekan margin industri, terutama sektor yang bergantung pada bahan baku impor seperti manufaktur, petrokimia, dan logam dasar. Ditambah pelemahan nilai tukar, beban biaya produksi bisa semakin berat.

Namun di tengah tekanan tersebut, ada peluang. Komoditas energi seperti batubara—yang menyumbang sekitar 8–9 persen ekspor—berpotensi terdorong naik. Harga minyak kelapa sawit juga tetap kuat seiring permintaan global yang stabil.

“Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat membantu menopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Namun volatilitas pada komoditas logam dan sektor industri tetap perlu diantisipasi, terutama jika perlambatan ekonomi global terjadi lebih dalam,” tambah Rini.

Dengan berbagai dinamika tersebut, ekspor Indonesia pada 2026 diproyeksikan masih tumbuh di kisaran 4–5 persen, dan berpotensi meningkat menjadi 5–6 persen pada 2027, selama tensi geopolitik mereda dan permintaan global kembali pulih. (her)

Tags: eksporImpor

Berita Terkait.

Persetujuan POD Ronggolawe Jadi Momentum SAKA Dorong Produksi Migas Nasional
Ekonomi

Persetujuan POD Ronggolawe Jadi Momentum SAKA Dorong Produksi Migas Nasional

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:15
Siap Hadapi Transformasi Hukum Pidana Nasional, Pegadaian Gelar LEXIS 2026
Ekonomi

Siap Hadapi Transformasi Hukum Pidana Nasional, Pegadaian Gelar LEXIS 2026

Sabtu, 13 Juni 2026 - 22:06
Irene-Umar
Ekonomi

Hadiri TikTok ForYouBeauty 2026, Wamen Ekraf Dukung Brand Lokal Naik Kelas

Sabtu, 13 Juni 2026 - 11:07
jakone
Ekonomi

Bank Jakarta Ramaikan Jakarta Fair 2026, JakOne Mobile Jadi Andalan Transaksi Pengunjung

Jumat, 12 Juni 2026 - 23:13
Prestasi Bening Saguling Foundation dalam meraih Kalpataru Lestari 2026 menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menjaga kelestarian lingkungan. Foto: Dokumen PLN IP
Ekonomi

INVIROTECH 2026 Jadi Panggung PLN Indonesia Power Tunjukkan Komitmen ESG dan Dekarbonisasi

Jumat, 12 Juni 2026 - 22:39
abdul
Ekonomi

Komisi IV DPR Dorong Keterlibatan Akademisi dalam RUU Pangan

Jumat, 12 Juni 2026 - 21:11

BERITA POPULER

  • Hasil Piala Dunia: Qatar Buyarkan Kemenangan Swiss, Brasil Gagal Tumbangkan Maroko

    Hasil Piala Dunia: Qatar Buyarkan Kemenangan Swiss, Brasil Gagal Tumbangkan Maroko

    1913 shares
    Share 765 Tweet 478
  • Jadi Tulang Punggung Mobilitas Warga, Penyesuaian Tarif TransJakarta Dinilai Rasional

    963 shares
    Share 385 Tweet 241
  • Diduga Rombongan Caketum HIPMI, 10 Penumpang dari Bangkok Positif Narkoba

    905 shares
    Share 362 Tweet 226
  • Beraksi Puluhan Kali, Pelaku Curanmor di Tambora Diringkus Polisi

    1238 shares
    Share 495 Tweet 310
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    1526 shares
    Share 610 Tweet 382
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.