INDOPOSCO.ID – Pengembangan Lapangan Ronggolawe di Wilayah Kerja (WK) Pangkah memasuki babak baru setelah mendapatkan persetujuan Rencana Pengembangan Lapangan (Plan of Development/POD) dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).
Persetujuan tersebut menjadi tonggak penting bagi PT Saka Energi Indonesia (SAKA) dalam mengakselerasi transformasi temuan eksplorasi menjadi produksi nyata yang berkontribusi terhadap ketahanan energi nasional.
Sebagai perusahaan hulu migas yang berada di bawah Subholding Gas Pertamina, SAKA terus memperkuat perannya dalam mendukung peningkatan produksi migas nasional melalui pengembangan lapangan-lapangan prospektif. Lapangan Ronggolawe-PHE-7 yang berada di WK Pangkah direncanakan mulai berproduksi pada akhir tahun 2029 dengan kapasitas puncak mencapai 5.126 barrel minyak per hari (Barrel of Oil Per Day/BOPD).
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan SAKA, Fuji Koesumadewi, menyebut persetujuan POD tersebut sebagai langkah strategis dalam mempercepat pemanfaatan sumber daya migas yang telah ditemukan menjadi aset produksi yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan maupun negara.
“Persetujuan POD ini merupakan langkah penting dalam upaya SAKA mengakselerasi pengembangan sumber daya migas menjadi produksi yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan,” ujarnya, dikutip Sabtu (13/6/2026).
Persetujuan tersebut didukung oleh hasil analisis komprehensif dari sumur appraisal RGL-3 yang memberikan landasan teknis kuat bagi pengembangan lapangan. Sebelumnya, SAKA telah menyerahkan dokumen Penentuan Status Eksplorasi (PSE) Lapangan Ronggolawe pada 2025 sebagai tindak lanjut atas keberhasilan penemuan hidrokarbon melalui sumur eksplorasi RGL-1 pada 2012. Potensi tersebut kemudian dikonfirmasi kembali melalui pengeboran sumur appraisal RGL-3 pada 2024.
Lapangan Ronggolawe diperkirakan memiliki sumber daya sekitar 10 juta barel minyak yang dapat dimanfaatkan hingga berakhirnya masa kontrak kerja sama. Potensi tersebut dinilai mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap upaya peningkatan produksi migas nasional yang saat ini menjadi salah satu fokus pemerintah.
Keberadaan hidrokarbon di Struktur Ronggolawe teridentifikasi pada lapisan CD Carbonate. Temuan tersebut telah melalui berbagai tahapan evaluasi teknis, mulai dari uji kandung lapisan (Drill Stem Test), pengujian tekanan reservoir, hingga pengambilan dan analisis sampel fluida. Hasil evaluasi menunjukkan lapangan tersebut memiliki prospek ekonomi yang layak untuk dikembangkan.
Dalam rencana pengembangan yang telah disetujui, SAKA akan melakukan pengeboran empat sumur pengembangan yang akan dihubungkan dengan fasilitas produksi eksisting di WK Pangkah melalui jaringan pipa bawah laut. Pendekatan ini memungkinkan pengembangan dilakukan secara lebih efisien dengan memanfaatkan infrastruktur yang sudah tersedia.
Menariknya, pengembangan Lapangan Ronggolawe-PHE-7 juga menjadi contoh implementasi strategi unitisasi antara WK Pangkah dan WK West Madura Offshore (WMO) yang dioperasikan oleh Pertamina Hulu Energi WMO. Sinergi tersebut diharapkan mampu mengoptimalkan produksi sekaligus mempercepat monetisasi hasil eksplorasi.
Menurut Fuji, efisiensi operasional tetap menjadi prioritas dalam setiap tahapan pengembangan lapangan. Namun demikian, perusahaan tetap berkomitmen menjaga standar keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan sebagai bagian dari praktik operasi yang berkelanjutan.
“Dalam pelaksanaannya, SAKA akan terus mengedepankan efisiensi dan efektivitas biaya maupun kegiatan operasional, dengan tetap menjunjung tinggi aspek keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan,” tambahnya.
Dengan persetujuan POD Ronggolawe, SAKA tidak hanya memperkuat portofolio produksi masa depan perusahaan, tetapi juga mempertegas kontribusinya dalam mendukung target peningkatan produksi migas nasional. Dukungan para pemangku kepentingan dan mitra kerja diharapkan mampu mempercepat realisasi proyek sehingga manfaat ekonomi, energi, dan sosial dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat dan negara. (rmn)










