INDOPOSCO.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan bahwa masa depan aliansi politik dan militer internasional pada bidang keamanan (NATO) terancam, jika para sekutu tidak turut serta mengamankan jalur perdagangan vital di Selat Hormuz.
“Kami memiliki sesuatu yang disebut NATO,” kata Trump yang sering mengkritik negara-negara anggota NATO dalam aliansi militer yang dipimpin AS di Timur Tengah kepada Financial Times (FT) seperti dilansir dari Al Jazeera, Senin (16/3/2026).
Ia kemudian menyinggung peran Amerika Serikat dalam upaya meredam konflik Ukraina, sembari menyayangkan sikap negara-negara anggota NATO yang dianggap tidak membantu AS dalam menangani konflik di Timur Tengah.”
“Kami tidak perlu membantu mereka dengan Ukraina. Ukraina berjarak ribuan mil dari kita. Tapi kami membantu mereka. Sekarang kita akan lihat apakah mereka membantu kita,” ucap Trump.
“Karena saya sudah lama mengatakan bahwa kami akan ada untuk mereka tetapi mereka tidak akan ada untuk kami. Dan saya tidak yakin bahwa mereka akan ada di sana,” tambahnya.
Di samping itu, ia merasa frustrasi terhadap sikap Inggris dalam menangani konflik di Timur Tengah. Namun pada akhirnya, Inggris mengambil langkah tegas dengan mengerahkan kapal perang HMS Dragon ke Siprus di tengah konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
“Inggris mungkin dianggap sebagai sekutu nomor satu, yang paling lama bertugas, dan sebagainya, dan ketika saya meminta mereka untuk datang, mereka tidak mau datang,” ujar Trump.
“Dan segera setelah kami pada dasarnya menghapus kapasitas bahaya dari Iran, mereka berkata, ‘oh ya sudah, kami akan mengirim dua kapal’, dan saya berkata, ‘kami membutuhkan kapal-kapal ini sebelum kami menang, bukan setelah kami menang’.” sambungnya.
Ia menyatakan rencana pertemuan dengan Xi Jinping pada akhir Maret 2026 kemungkinan tertunda karena dirinya tengah fokus mendesak pemerintah Tiongkok guna membuka jalur Selat Hormuz.
“Adalah wajar bahwa orang-orang yang menjadi penerima manfaat Selat akan membantu memastikan bahwa tidak ada yang buruk terjadi di sana,” imbuhnya.
Selat Hormuz berada dalam kondisi blokade efektif atau dibuka secara sangat terbatas oleh Iran sebagai respons atas serangan militer Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026. (dan)










