INDOPOSCO.ID – Penelitian dari Universitas Indonesia mengungkap bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mendorong peningkatan pendapatan serta menekan pengeluaran rumah tangga.
Riset tersebut dilakukan oleh tim peneliti dari Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia yang dipimpin oleh Fentiny Nugroho bersama tim peneliti Dr. Annisah, Dr. Anna Sakreti Nawangsari, Dr. Arif Wibowo, serta Shinta Tris Irawati.
Prof. Fentiny menjelaskan penelitian ini menelaah secara kritis dampak Program MBG terhadap dinamika ekonomi rumah tangga, mulai dari perubahan struktur pendapatan hingga pola pengeluaran keluarga.
“Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mampu menggerakkan dana hingga Rp10–12 miliar per tahun. Sekitar 85 persen anggaran digunakan untuk membeli bahan baku dari petani lokal,” kata Fentiny di Kampus UI Depok, Rabu (11/3/2026).
Ciptakan Lapangan Kerja dan Pendapatan Baru
Dalam riset tersebut, setiap unit SPPG disebut dapat mempekerjakan sekitar 50 orang serta melibatkan puluhan petani dan pemasok bahan pangan.
Selain itu, relawan yang terlibat dalam operasional SPPG kini memperoleh penghasilan harian sekitar Rp100 ribu hingga Rp125 ribu.
“Mereka menyampaikan rasa senang karena kini memiliki penghasilan harian yang relatif stabil, berkisar Rp100 ribu hingga Rp125 ribu,” jelas Fentiny.
Pengeluaran Rumah Tangga Ikut Berkurang
Penelitian tersebut juga menemukan adanya penurunan pengeluaran rumah tangga, terutama untuk kebutuhan pangan bagi keluarga penerima manfaat Program MBG.
Dampak ini paling terasa bagi keluarga miskin dan rentan miskin karena sebagian kebutuhan makanan anak telah terpenuhi melalui program tersebut.
Meski demikian, sebagian orang tua mengaku pengeluaran keluarga mereka tidak banyak berubah karena tetap memasak makanan di rumah seperti biasa.
Potensi Jangka Panjang untuk SDM
Prof. Fentiny menilai dalam jangka pendek Program MBG dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, khususnya terkait akses terhadap makanan bergizi.
Sementara dalam jangka panjang, program ini berpotensi meningkatkan kualitas sumber daya manusia karena nutrisi yang baik dapat mendukung pertumbuhan anak secara optimal.
“Dengan nutrisi yang baik, anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sehingga di masa depan mampu berkontribusi positif terhadap pembangunan dan meningkatkan kondisi ekonomi keluarga,” ujarnya.
Meski memberikan dampak positif, penelitian ini juga memberikan sejumlah rekomendasi untuk penguatan Program MBG.
Beberapa di antaranya adalah melakukan asesmen kebutuhan menu bagi penerima manfaat, memperhatikan aspirasi anak dalam penentuan menu, memprioritaskan wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi, serta meningkatkan sarana makan yang higienis dan berkualitas.
Selain itu, peneliti juga merekomendasikan agar kantin sekolah yang terdampak program dapat diberdayakan menjadi unit usaha yang memasok bahan baku bagi SPPG.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah (FGD), observasi, serta studi dokumen.
Riset dilakukan di tiga wilayah, yakni Jakarta Timur, Depok, dan Tangerang Selatan, untuk melihat secara langsung dampak Program MBG terhadap masyarakat. (dam)










