INDOPOSCO.ID – Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai dampak lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Menurut Eddy, perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi membuat harga energi global meningkat drastis dan memberi tekanan besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pernyataan itu disampaikan Eddy kepada wartawan di Jakarta pada Senin (9/3/2026).
“Harga minyak mentah pada asumsi makro APBN adalah 70 dolar AS per barel dengan defisit terhadap PDB sekitar 2,68 persen. Jika harga minyak naik di atas 100 dolar AS per barel, kemungkinan defisit anggaran bisa menembus lebih dari 3,6 persen,” ujar Eddy.
Harga Minyak Naik Lebih dari 30 Persen
Lonjakan harga energi global terjadi setelah konflik di Timur Tengah meningkat dalam sepekan terakhir.
Harga minyak mentah dunia dilaporkan melonjak lebih dari 30 persen hingga mencapai sekitar US$107 per barel, jauh melampaui asumsi harga minyak dalam APBN Indonesia.
Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan tekanan fiskal yang cukup besar bagi Indonesia, terutama karena kebutuhan impor energi nasional masih tinggi.
Indonesia Berpotensi Berebut Pasokan Energi
Eddy menjelaskan bahwa negara-negara besar pengimpor energi seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan kemungkinan akan mencari sumber pasokan minyak alternatif jika konflik di Timur Tengah mengganggu distribusi energi.
Beberapa negara pemasok minyak seperti Nigeria, Angola, dan Brasil diperkirakan akan menjadi tujuan baru bagi negara-negara pengimpor tersebut.
Situasi ini bisa membuat Indonesia harus bersaing dengan negara-negara besar dalam mendapatkan suplai minyak mentah.
“Indonesia berpeluang berebut suplai minyak dengan negara-negara pengimpor besar,” kata Eddy.
Beban Impor Migas Berpotensi Membengkak
Eddy menjelaskan kebutuhan minyak mentah Indonesia saat ini mencapai sekitar 1 juta barel per hari.
Ketika harga minyak global meningkat dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah, biaya impor energi otomatis akan semakin besar.
Data tahun 2025 menunjukkan Indonesia mengimpor sekitar 17,6 juta ton minyak mentah, dan 37,8 juta ton produk petroleum dengan total nilai mencapai US$32,8 miliar atau sekitar Rp551 triliun.
Jika volume impor tetap sama sementara harga minyak naik, kebutuhan devisa Indonesia untuk membeli energi diperkirakan akan meningkat signifikan.
“Kita perlu mewaspadai kondisi disruptif di pasar energi, bukan hanya dari kenaikan harga migas tetapi juga dari sisi ketersediaan pasokan,” ujar Eddy.
Diversifikasi Pasokan Energi
Meski demikian, Eddy meyakini pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi situasi tersebut, termasuk mencari sumber pasokan energi dari berbagai negara.
Diversifikasi pasokan dinilai penting agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu kawasan tertentu.
“Yang perlu kita perhatikan adalah ketahanan fiskal negara pengimpor migas ketika harga energi terus melambung dalam waktu yang cukup panjang,” kata Eddy.
Ia menegaskan bahwa stabilitas energi dan ketahanan fiskal harus menjadi perhatian utama pemerintah di tengah ketidakpastian geopolitik global saat ini. (dam)




















