INDOPOSCO.ID – Perluasan akses pendidikan anak usia dini (PAUD) menjadi kunci peningkatan kualitas siswa dari keluarga kurang mampu.
Pernyataan tersebut diungkapkan Kepala Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik), Andhika Ganendra kepada indoposco.id, Selasa (3/3/2026). Andhika menuturkan, berdasarkan berbagai penelitian, anak yang sudah mendapatkan pengalaman belajar pada usia golden age, perkembangan akademiknya di SMA cenderung lebih pesat.
“Pengalaman bersekolah sejak usia dini terbukti berpengaruh pada perkembangan akademik di jenjang selanjutnya,” ungkapnya.
Lebih jauh ia mengungkapkan, saat ini penerima bantuan pendidikan masih menunjukkan kesenjangan pada jenjang menengah atas. Di tingkat SD dan SMP, jumlah penerima relatif seimbang antara laki-laki dan perempuan.
Namun di SMA, lanjut dia, jumlah siswa laki-laki penerima bantuan menurun drastis. “Di SD dan SMP jumlahnya imbang. Tapi ketika masuk SMA, penerima laki-laki tinggal sekitar 20 persen. Sebagian putus sekolah, sebagian beralih ke SMK,” ucapnya.
“Ini menunjukkan program bantuan masih lebih banyak membuka akses, tetapi belum sepenuhnya meningkatkan kualitas pendidikan siswa miskin,” sambung Andhika.
Ia menilai salah satu faktor penyebabnya adalah rendahnya partisipasi pendidikan anak usia dini, karena biaya taman kanak-kanak yang selama ini dianggap mahal bagi keluarga kurang mampu. “Pemerintah mendorong wajib belajar yang mencakup pendidikan prasekolah serta menyalurkan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) sejak tingkat TK,” katanya.
Dengan demikian, lanjutnya, pendidikan TK sudah masuk dalam skema wajib belajar. Meskipun baru pada tahap awal, bantuan pendidikan sudah diberikan sejak TKA.
“Perluasan bantuan pendidikan usia dini dilakukan dengan mengalokasikan ulang anggaran agar manfaatnya lebih luas,” ujarnya.
“Dengan alokasi yang sama, satu penerima di sekolah tertentu bisa setara dengan beberapa penerima di TK. Artinya, kita memanfaatkan anggaran yang ada untuk dampak yang lebih besar,” imbuhnya. (nas)










