INDOPOSCO.ID – Persaingan politik yang mulai dipanaskan dengan narasi “Banteng vs Gajah” menjelang Pemilu 2029 dinilai terlalu dibesar-besarkan. Analis komunikasi politik Hendri Satrio justru melihat arah pertarungan politik nasional sudah bisa ditebak jika melihat pola sejarah politik Indonesia.
Menurut pria yang akrab disapa Hensa itu, publik seharusnya tidak terjebak pada dikotomi pertarungan antarpartai, karena ada satu faktor dominan yang berulang kali terbukti sulit dikalahkan dalam sejarah pemilu Indonesia, petahana.
“Saya bingung mengapa masyarakat begitu meributkan ‘banteng vs gajah’ di Pemilu 2029, padahal jelas sekali berkaca dari sejarah yang menang 2029 itu garuda alias petahana saat ini,” ujar Hensa melalui gawai, Selasa (17/2/2029).
Hensa menilai, status petahana memberikan keuntungan struktural yang sangat besar. Tingkat pengenalan publik yang sudah tinggi, rekam jejak kebijakan, hingga jaringan elite politik membuat petahana memiliki modal elektoral yang tidak dimiliki penantang.
Ia menekankan, pola kemenangan petahana bukan sekadar teori, tetapi sudah berulang kali terjadi dalam pemilu nasional. Konsolidasi kekuasaan di periode pertama sering kali menjadi batu loncatan kuat menuju kemenangan periode kedua.
“Pola-pola itu menurut saya sudah teruji beberapa waktu belakangan, PDI Perjuangan dengan Jokowi unggul besar dari 2014-2024 bahkan ia masih memenangi Pileg, Demokrat dengan SBY di periode 2004-2014 pun juga sama bahkan kursinya melonjak di DPR saat Pemilu 2009,” kata Hensa.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa petahana juga memiliki keunggulan strategis dalam memanfaatkan kebijakan yang dampaknya cepat dirasakan publik. Momentum program populis menjelang pemilu kerap menjadi senjata elektoral yang efektif.
Namun, Hensa mengingatkan bahwa keunggulan itu bukan tanpa risiko. Faktor eksternal seperti krisis ekonomi atau skandal politik besar tetap bisa menggoyang dominasi petahana.
“Posisi petahana itu lebih mudah memanfaatkan momentum kebijakan yang terasa langsung ke pemilih, tapi dengan catatan bahwa keunggulan ini tetap bisa goyah jika terjadi guncangan besar seperti krisis ekonomi atau skandal politik yang merusak legitimasi,” tutur founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu.
Dengan berbagai faktor tersebut, Hensa menilai polemik pertarungan PDI Perjuangan versus Partai Solidaritas Indonesia terlalu prematur dan kurang relevan jika melihat peta kekuatan nasional yang lebih luas. Menurutnya, narasi konflik kedua partai itu lebih banyak menjadi noise (kegaduhan) politik yang ramai di ruang publik, tetapi belum tentu mencerminkan dinamika kekuatan politik yang sesungguhnya di tingkat nasional.
Ia juga menilai PSI masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam membangun basis massa akar rumput, meski dikaitkan dengan pengaruh Joko Widodo.
“Meski ada Jokowi yang disebut akan membantu, namun itu menurut saya belum cukup untuk melawan PDI Perjuangan yang saat Pemilu 2024 tetap menjadi pemenang Pileg,” tambahnya. (her)










