• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Polemik Penghapusan PBI JKN

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Senin, 16 Februari 2026 - 19:06
in Nasional
nasuha
Share on FacebookShare on Twitter

oleh: Nasuha, Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Dalam kajian komunikasi krisis modern, nama W. Timothy Coombs hampir selalu menjadi rujukan utama. Melalui karyanya, terutama buku Ongoing Crisis Communication: Planning, Managing, and Responding, Coombs (2023) menegaskan satu hal penting: krisis bukan sekadar peristiwa, tetapi persepsi publik tentang tanggung jawab sebuah organisasi atas peristiwa tersebut.

BacaJuga:

Mendikdasmen: Anak Berkebutuhan Khusus Bukan Kutukan, Wajib Dapat Pendidikan

Layanan Kesehatan Dioptimalkan, 15.349 Jemaah Telah Diberangkatkan ke Tanah Suci

Benahi Parpol, KPK Serahkan Kajian ke Prabowo-DPR

Berangkat dari kerangka itu, polemik yang sempat muncul minggu lalu terkait isu penghilangan anggaran PBI (Penerima Bantuan Iuran) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk penderita penyakit kronis dalam sistem BPJS Kesehatan menjadi contoh menarik bagaimana krisis komunikasi dapat berkembang. Bahkan ketika substansi kebijakan akhirnya diklarifikasi dan diselesaikan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Krisis Bukan Soal Fakta, Tapi Persepsi

Menurut Coombs, melalui Situational Crisis Communication Theory (SCCT), publik akan secara otomatis melakukan atribusi tanggung jawab ketika muncul isu yang berpotensi merugikan mereka. Dalam kasus BPJS, isu penghapusan anggaran PBI bagi pasien kronis yang menyentuh kelompok rentan secara emosional langsung masuk dalam kategori krisis “preventable cluster” di benak publik.

Artinya, meskipun secara administratif mungkin hanya terjadi kesalahpahaman teknis atau persoalan klasifikasi anggaran, publik melihatnya sebagai kelalaian moral: negara dianggap “mencabut hak orang sakit”.

Di sinilah letak krusialnya teori Coombs. Ia menegaskan bahwa semakin tinggi persepsi tanggung jawab organisasi, semakin besar pula tuntutan publik atas permintaan maaf, koreksi kebijakan, dan kompensasi.

Kesalahan Strategis: Respons Terlambat dan Minim Empati

Coombs membagi strategi respons krisis menjadi tiga kelompok utama: Deny (menyangkal); Diminish (meminimalkan); dan Rebuild (membangun kembali kepercayaan melalui empati dan koreksi).

Dalam kasus ini, yang menjadi sorotan bukan hanya isi kebijakan, tetapi tempo dan nada komunikasi. Ketika isu pertama kali beredar, ruang publik, khususnya media sosial dipenuhi kekhawatiran bahwa pasien kronis akan kehilangan jaminan kesehatan.

Respons yang terlalu teknokratis atau administratif berisiko dibaca sebagai “tidak peka”. Padahal, menurut Coombs, pada krisis yang menyentuh aspek kemanusiaan, organisasi harus segera masuk ke strategi rebuild: menunjukkan empati sebelum menjelaskan prosedur.

Ketika kemudian Kementerian Keuangan memberikan klarifikasi dan memastikan tidak ada penghapusan manfaat bagi pasien kronis, substansi masalah memang selesai. Namun dalam logika komunikasi krisis, penyelesaian administratif tidak otomatis menghapus jejak emosional publik.

Dimensi Komunikasi Risiko

Selain krisis, Coombs juga menekankan pentingnya komunikasi risiko (risk communication). Risiko adalah potensi ancaman sebelum menjadi krisis. Dalam konteks BPJS, isu PBI sebenarnya adalah isu risiko reputasi yang sangat sensitif karena menyangkut hak dasar kesehatan.

Komunikasi risiko yang efektif menuntut tiga hal: Transparansi sejak awal; Konsistensi pesan antar lembaga; Kejelasan bahasa agar tidak multitafsir.

Jika koordinasi komunikasi antara BPJS dan Kementerian Keuangan sejak awal disampaikan secara terbuka, misalnya menjelaskan bahwa tidak ada penghapusan manfaat, hanya penyesuaian mekanisme anggaran, maka eskalasi opini publik mungkin bisa ditekan.

Pelajaran Strategis

Dari perspektif Coombs, ada beberapa pelajaran penting: Isu kesehatan publik selalu masuk kategori krisis berisiko tinggi; Kecepatan respons sama pentingnya dengan akurasi data; dan Empati harus mendahului klarifikasi teknis.

Koordinasi lintas lembaga menentukan konsistensi persepsi publik. Dalam era digital, krisis tidak menunggu konferensi pers. Ia tumbuh dalam hitungan jam melalui potongan informasi yang belum tentu utuh.

BPJS dan Kementerian Keuangan memang telah menyelesaikan polemik tersebut secara kebijakan. Namun, dalam perspektif komunikasi krisis ala Coombs, yang lebih penting adalah bagaimana publik merasa aman dan dihargai sejak awal, bukan setelah tekanan opini memuncak.

Krisis, ujar Coombs, bukan sekadar soal benar atau salah. Ia adalah soal bagaimana organisasi menjaga kepercayaan saat badai persepsi datang. Dan dalam isu kesehatan rakyat, kepercayaan adalah mata uang yang tak boleh pernah defisit. *

Tags: NasuhaPBI JKNumjUniversitas Muhammadiyah Jakarta

Berita Terkait.

ABK
Nasional

Mendikdasmen: Anak Berkebutuhan Khusus Bukan Kutukan, Wajib Dapat Pendidikan

Sabtu, 25 April 2026 - 22:01
Jemaah-Haji
Nasional

Layanan Kesehatan Dioptimalkan, 15.349 Jemaah Telah Diberangkatkan ke Tanah Suci

Sabtu, 25 April 2026 - 21:00
KPK
Nasional

Benahi Parpol, KPK Serahkan Kajian ke Prabowo-DPR

Sabtu, 25 April 2026 - 20:09
Menkop
Nasional

Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih di NTT akan Menjadi Ekosistem Baru Ekonomi

Sabtu, 25 April 2026 - 17:26
Mendikdasmen
Nasional

Berkaitan 7 KAIH, Mendikdasmen Tegaskan Anggaran MBG Tak Bersumber dari Pendidikan

Sabtu, 25 April 2026 - 17:06
Kuota Adaptif TN Komodo, Kemenhut Jaga Keseimbangan Ekologi dan Ekonomi
Nasional

Kuota Adaptif TN Komodo, Kemenhut Jaga Keseimbangan Ekologi dan Ekonomi

Sabtu, 25 April 2026 - 16:05

BERITA POPULER

  • pemain-Semen-Padang

    Semen Padang vs Persijap: Krisis Pemain, Kedalaman Skuad Kabau Sirah Diuji

    1350 shares
    Share 540 Tweet 338
  • Ragam Busana Adat Daerah Warnai Kemeriahan Peringatan Hari Kartini 2026 di Permatahati

    885 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Isu Lengser hingga Gibran Diseret, Pengamat Buka Peta Ancaman Prabowo

    911 shares
    Share 364 Tweet 228
  • House of Representatives Urges Non-Subsidized Fuel Price Hike Not to Burden Public

    694 shares
    Share 278 Tweet 174
  • Tragedi Kebakaran Tanjung Duren, DPRD Sebut Bukti Kegagalan Pemprov Jakarta

    690 shares
    Share 276 Tweet 173
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.