• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Krisis Tidak Hancurkan Reputasi Bila Tepat Merespons: Perspektif Komunikasi Krisis Coombs

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Senin, 16 Februari 2026 - 11:42
in Nasional
Ali-Rachman
Share on FacebookShare on Twitter

oleh: Ali Rachman, Mahasiswa Prodi Magister Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta

INDOPOSCO.ID – Di era digital, kebocoran data bukan lagi kemungkinan melainkan keniscayaan. Pertanyaannya bukan lagi apakah sebuah institusi akan mengalami krisis siber, tetapi bagaimana mereka berkomunikasi ketika krisis itu terjadi. Kasus dugaan kebocoran data di sebuah bank syariah besar level nasional pada 2023 dan beberapa insiden serupa yang melibatkan lembaga publik seperti komisi pemilihan umum menunjukkan satu hal penting: krisis digital adalah krisis kepercayaan.

BacaJuga:

2 Aplikasi Kemendikdasmen Diakui PBB, Indonesia Selangkah Lagi Juara Dunia Digital Pendidikan

Gelar Demo Besok, BEM UI Bawa 5 Tuntutan untuk Pemerintah

Putusan Inkrah Eksekusi Tak Kunjung Jalan, Yayasan Trisakti Tagih Ketegasan Negara

Dalam The Handbook of Crisis Communication, Coombs (2023) menjelaskan bahwa krisis bukan hanya peristiwa negatif, melainkan ancaman terhadap reputasi yang dipengaruhi oleh bagaimana publik memberi makna atas peristiwa tersebut. Artinya, yang paling menentukan bukan semata-mata gangguan sistem, melainkan persepsi publik tentang siapa yang bertanggung jawab.

Coombs melalui Situational Crisis Communication Theory (SCCT) menegaskan bahwa publik akan secara otomatis melakukan atribusi: apakah organisasi korban, lalai, atau memang bersalah? Makin tinggi tanggung jawab yang dilekatkan publik, makin besar ancaman reputasi.

Di sinilah banyak institusi keliru. Mereka sibuk menjelaskan aspek teknis server down, sistem sedang dipulihkan, investigasi berjalan tetapi lupa menjawab pertanyaan yang ada di benak publik: Apakah data saya aman? Apakah saya dirugikan? Apakah Anda peduli pada saya?.

Menurut Coombs, ada dua jenis informasi yang wajib diberikan saat krisis, Pertama, instructing information petunjuk praktis bagi publik. Dalam konteks kebocoran data, ini berarti panduan jelas: apakah nasabah harus mengganti Personal Identification Number (PIN) atau nomor identifikasi pribadi, memantau transaksi, atau melakukan langkah pengamanan tertentu. Kedua, adjusting information atau informasi yang bersifat empatik. Organisasi harus mengakui kecemasan publik, menunjukkan kepedulian, dan menyampaikan komitmen perbaikan.

Masalahnya, dalam banyak kasus di Indonesia, respons awal sering kali defensif. Alih-alih menyampaikan empati, pernyataan resmi cenderung normatif dan birokratis. Dalam teori SCCT, strategi seperti ini berisiko memperburuk krisis, terutama jika publik sudah menilai ada kelalaian.

Coombs menyarankan bahwa ketika tanggung jawab organisasi dianggap tinggi, strategi yang tepat adalah rebuild strategy permintaan maaf terbuka, kompensasi jika diperlukan, serta komitmen konkret untuk memperbaiki sistem. Strategi ini memang terasa “berat” karena mengandung pengakuan moral. Namun dalam jangka panjang, ia lebih efektif memulihkan reputasi dibanding penyangkalan.

Krisis siber berbeda dari krisis konvensional. Dampaknya tidak selalu terlihat secara fisik, tetapi efek psikologisnya besar. Data pribadi bukan sekadar angka; ia adalah identitas. Ketika data bocor, yang retak bukan hanya sistem digital, tetapi rasa aman publik.

Dalam konteks Indonesia, di mana literasi digital masih berkembang dan kepercayaan pada institusi sering kali fluktuatif, komunikasi krisis menjadi faktor penentu legitimasi. Transparansi dan empati bukan sekadar pilihan strategi komunikasi, melainkan investasi reputasi.

Kita perlu menyadari bahwa di era media sosial, kecepatan informasi mengalahkan kecepatan klarifikasi. Kekosongan komunikasi akan segera diisi spekulasi. Dan sekali kepercayaan publik runtuh, memperbaikinya jauh lebih sulit dibanding memperbaiki server yang diretas.

Akhirnya, pelajaran terpenting dari teori Coombs adalah ini: krisis tidak menghancurkan reputasi; respons yang keliru lah yang melakukannya. Maka ketika kebocoran data terjadi lagi dan besar kemungkinan itu akan terjadi pertanyaannya bukan hanya “apakah sistem sudah dipulihkan?”, tetapi juga “apakah kepercayaan sudah dipulihkan?”.*

Tags: Ali RachmanFISIP UMJkebocoran dataKomunikasi Krisis dan RisikoUniversitas Muhammadiyah Jakarta

Berita Terkait.

dasmen
Nasional

2 Aplikasi Kemendikdasmen Diakui PBB, Indonesia Selangkah Lagi Juara Dunia Digital Pendidikan

Jumat, 12 Juni 2026 - 01:11
demo
Nasional

Gelar Demo Besok, BEM UI Bawa 5 Tuntutan untuk Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 - 23:53
trisakti
Nasional

Putusan Inkrah Eksekusi Tak Kunjung Jalan, Yayasan Trisakti Tagih Ketegasan Negara

Kamis, 11 Juni 2026 - 23:13
dadan
Nasional

Kejagung Ungkap Modus Baru Korupsi MBG, Titik Dapur Diduga Dijadikan Ladang Mainan

Kamis, 11 Juni 2026 - 21:21
kemenag
Nasional

Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Kemenag Bakal Standarisasikan Kosa Isyarat Keislaman

Kamis, 11 Juni 2026 - 21:01
soni
Nasional

Kejagung Bongkar Peran Orang Dalam Sony Sonjaya dalam Kasus Dugaan Korupsi MBG

Kamis, 11 Juni 2026 - 20:52

BERITA POPULER

  • Beraksi Puluhan Kali, Pelaku Curanmor di Tambora Diringkus Polisi

    Beraksi Puluhan Kali, Pelaku Curanmor di Tambora Diringkus Polisi

    1217 shares
    Share 487 Tweet 304
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    1455 shares
    Share 582 Tweet 364
  • Diduga Rombongan Caketum HIPMI, 10 Penumpang dari Bangkok Positif Narkoba

    888 shares
    Share 355 Tweet 222
  • AFF U-19: Indonesia Cukur Timor Leste, Persaingan Puncak Klasemen Makin Panas

    1175 shares
    Share 470 Tweet 294
  • Jadi Tulang Punggung Mobilitas Warga, Penyesuaian Tarif TransJakarta Dinilai Rasional

    747 shares
    Share 299 Tweet 187
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.