INDOPOSCO.ID – Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) kembali menyelenggarakan Workshop Mining for Journalist untuk keempat kalinya di Jakarta, Selasa (10/2/2026). Kegiatan ini menjadi wadah berbagi informasi dan diskusi terkait perkembangan serta isu-isu terkini di industri pertambangan kepada wartawan sektor energi.
Ketua Umum PERHAPI, Sudirman Widhy Hartono, mengatakan kegiatan yang telah dimulai sejak 2023 ini rutin digelar setiap tahun sebagai ajang silaturahmi sekaligus forum pertukaran informasi antara pengurus PERHAPI dan insan pers.
“Kegiatan ini menjadi wadah bagi PERHAPI menyampaikan berbagai informasi terkait perkembangan terkini di sektor pertambangan, sekaligus ajang sharing knowledge mengenai isu-isu strategis industri,” ujar Sudirman dalam sambutannya.
Menurutnya, industri pertambangan nasional tengah menghadapi berbagai tantangan, baik dari dinamika global maupun kebijakan dalam negeri. Beberapa isu yang mencuat di antaranya perubahan persetujuan RKAB yang kembali menjadi satu tahun, pengurangan kuota produksi batubara dan nikel, isu Satgas PKH, penerapan B50, hingga rencana pengambilalihan tambang emas Martabe.
PERHAPI, lanjutnya, terus berperan sebagai mitra pemerintah dengan memberikan masukan konstruktif demi kemajuan usaha pertambangan, baik di sektor hulu maupun hilir.
Dalam sesi pertama, Prof. Irwandy Arif memaparkan gambaran industri pertambangan Indonesia di tengah transisi energi global. Ia menegaskan peran krusial mineral kritis dan strategis dalam mendukung energi bersih serta pertumbuhan ekonomi masa depan.
“Permintaan mineral kritis hingga 2030 diproyeksikan meningkat. Potensi Indonesia luar biasa, tetapi ketidakpastian kebijakan bisa menghambat investasi. Pemerintah dan industri harus memiliki visi yang sama agar tidak kehilangan momentum,” tegasnya.
Irwandy juga menyoroti pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional yang masih membutuhkan infrastruktur memadai. Ia menyebut Indonesia merencanakan penggunaan baterai berbasis NMC (nikel, mangan, cobalt), meski secara global banyak kendaraan listrik menggunakan baterai LFP.
Wakil Ketua Umum PERHAPI, Resvani, menambahkan mineral kritis, strategis, dan pengembangan advanced materials harus menjadi fondasi pertumbuhan menuju Indonesia Emas 2045. Namun, ia menilai hilirisasi nasional masih terbatas pada tahap primer dan eksplorasi hulu belum optimal.
Resvani menegaskan sektor minerba harus diposisikan sebagai instrumen strategis negara, tidak hanya berorientasi pada penerimaan jangka pendek, tetapi juga pada ketahanan industri, pertahanan negara, serta pemerataan ekonomi.
Rizal Kasli menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM) pertambangan melalui sertifikasi profesi dan standar keinsinyuran untuk menjawab tantangan hilirisasi dan transisi energi.
Pada sesi kedua, tiga pembicara memaparkan peluang dan tantangan dari berbagai segmen industri. F.H. Kristiono membahas industri batu bara, Muhammad Toha mengulas sektor mineral, sementara Ardhi Ishak memaparkan perkembangan usaha jasa pertambangan.
Sesi ketiga menyoroti aspek keberlanjutan dan ESG (Environmental, Social, and Governance). Tonny Gultom menjelaskan pentingnya penerapan prinsip ESG untuk menjaga keberlanjutan industri sekaligus menarik minat investor.
“Prinsip ESG tidak hanya meningkatkan keberlanjutan lingkungan dan sosial, tetapi juga memperkuat citra positif industri pertambangan,” ujarnya.
Budi Hartono turut memaparkan langkah PERHAPI dalam mendorong ekonomi hijau melalui kajian Ekonomi Hijau Pertambangan (EHP), termasuk pemanfaatan lahan pascatambang dan program pemberdayaan masyarakat.
Workshop ditutup dengan paparan Andi Erwin Syarif yang menegaskan peran pertambangan sebagai prime mover pembangunan nasional dan regional.
“Pertambangan harus dipahami sebagai katalis dan transformatif. Bukan tujuan akhir, tetapi alat untuk mendorong pembangunan regional yang berkelanjutan,” pungkasnya. (rmn)









