INDOPOSCO.ID – Pengembangan Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik (Electric Vehicle/EV) terintegrasi di Karawang dinilai efektif mendorong industrialisasi sekaligus menciptakan multiplier effect yang signifikan bagi perekonomian nasional. Keberadaan ekosistem ini menjadi tonggak penting transformasi ekonomi Indonesia dari pengekspor bahan baku menuju negara produsen produk berteknologi tinggi.
Dengan pengembangan industri baterai dalam negeri, Indonesia tidak lagi bergantung pada ekspor mineral mentah, khususnya nikel, melainkan beralih ke produksi baterai sebagai komponen inti kendaraan listrik dan berbagai produk teknologi strategis lainnya.
Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development Universitas Indonesia (RESSED UI), Ali Ahmudi, mengatakan kebijakan pemerintah dalam melarang ekspor komoditas mineral mentah, terutama nikel, telah menjadi langkah awal yang krusial dalam memperkuat basis industri nasional.
“Saat ini semakin banyak proyek hilirisasi nikel menjadi cell battery, termasuk di Karawang. Ini akan menjadi motor peningkatan nilai tambah ekonomi yang belasan kali lipat dibandingkan hanya menjual tanah atau bijih mentah,” ujar Ali dalam keterangannya, Senin (19/1/2026).
Menurutnya, hilirisasi industri baterai memberikan dampak ekonomi yang luas, mulai dari peningkatan penerimaan negara melalui pajak pertambahan nilai (PPN), penciptaan lapangan kerja di sektor manufaktur, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan industri.
“Efeknya sangat besar. Hilirisasi ini harus berlanjut agar dampak penggandanya benar-benar nyata bagi ekonomi nasional,” tegasnya.
Ali juga menekankan proses menuju industrialisasi membutuhkan ketegasan regulasi. Indonesia, kata dia, tidak boleh berhenti hanya sebagai negara perakit produk akhir.
“Kita tidak boleh terus bergantung pada produk luar. Jika ada teknologi dari luar, maka mereka harus membangun pabrik di Indonesia agar terjadi transfer teknologi. Memang akan ada ekses jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang ini adalah sebuah keharusan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ali optimistis kehadiran industri baterai domestik akan membuka peluang terciptanya kendaraan listrik yang lebih terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Pasalnya, nilai baterai mencapai sekitar 35–40 persen dari total biaya produksi kendaraan listrik.
“Dalam kondisi normal, pembangunan pabrik baterai di dalam negeri akan menekan harga jual EV secara umum. Jika komponen utamanya bisa ditekan, maka harga unit kendaraan pasti turun,” tambahnya.
Di sisi lain, negara melalui holding industri pertambangan MIND ID terus konsisten mengawal pembentukan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi. Melalui PT Industri Baterai Indonesia (PT IBI), MIND ID bekerja sama dengan konsorsium Contemporary Amperex Technology Co., Limited, Brunp, dan Lygend (CBL) membentuk perusahaan patungan PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB).
CATIB saat ini tengah membangun fasilitas produksi Battery Cells, Module, dan Pack di Karawang dengan kapasitas awal sebesar 6,9 GWh pada fase pertama. Kapasitas tersebut direncanakan akan diekspansi hingga mencapai total 15 GWh pada fase kedua, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri kendaraan listrik. (nas)










