INDOPOSCO.ID – Di tengah naik-turunnya harga kebutuhan pokok dan ketidakpastian penghasilan, bilik suara tak lagi sekadar tempat menyalurkan aspirasi politik. Ia menjelma ruang sunyi tempat banyak orang menimbang satu pertanyaan sederhana, siapa yang bisa membuat hidup terasa sedikit lebih aman besok pagi.
Ekonom Talitha Chairunissa menilai kondisi ekonomi masyarakat berpengaruh langsung terhadap cara pemilih menentukan pilihan politik di Indonesia. Tekanan daya beli, menurutnya, membuat pertimbangan ideologis sering tersisih oleh kebutuhan yang lebih mendesak dan konkret.
Dalam diskusi hasil Survei KedaiKOPI di Jakarta, pada Minggu (11/1/2026) lalu, Talitha mengungkapkan bahwa figur pemimpin yang dianggap tegas masih menjadi magnet kuat bagi pemilih.
“Ketegasan itu masih dinyatakan sebagai satu hal penting bagi pemilih di Indonesia. Masyarakat Indonesia senang sekali dengan pemimpin yang tegas,” kata Talitha.
Ketika pendapatan tidak pasti dan tabungan menipis, pilihan politik pun berubah menjadi soal bertahan hidup. Kelompok masyarakat dengan kondisi ekonomi rentan, lanjut Talitha, cenderung bersikap pragmatis dan fokus pada hasil yang bisa dirasakan secepat mungkin.
“Trade-off (pilihan sulit) ini adalah apa yang mau saya korbankan demi saya mendapatkan sesuatu. Ketika ekonomi sulit, masyarakat akan memilih apa yang paling relevan untuk hidupnya saat ini,” ujarnya.
Namun, orientasi pada kecepatan dan efektivitas kebijakan menyimpan risiko tersendiri. Publik, menurut Talitha, bisa saja mulai memaklumi pengorbanan nilai-nilai lain demi janji stabilitas dan bantuan ekonomi.
“Masalahnya muncul ketika ketegasan dibayar dengan ketidakjujuran. Moralitas seharusnya tidak menjadi harga yang dikorbankan,” tutur Talitha.
Ia juga menolak anggapan bahwa pemilih yang terpengaruh kondisi ekonomi bertindak irasional. Justru sebaliknya, pilihan tersebut dinilainya sebagai respons logis terhadap situasi yang penuh ketidakpastian.
“Ketika orang tidak tahu besok bisa makan atau tidak, maka yang dipilih adalah pemimpin yang dianggap mampu memberi rasa aman paling cepat,” jelasnya.
Karena itu, Talitha mendorong agar pembahasan yang berkembang luas di masyarakat tidak berhenti pada menyalahkan pemilih. Peran akademisi, media, dan masyarakat sipil dinilai krusial untuk memperluas cara pandang publik—bahwa politik tidak hanya soal bantuan instan, tetapi juga tentang arah jangka panjang.
Penguatan literasi ekonomi dan politik, menurutnya, penting agar demokrasi tidak terus terdesak oleh kebutuhan sesaat.
“Demokrasi yang sehat membutuhkan pemilih yang tidak hanya bebas memilih, tetapi juga memiliki ruang ekonomi yang memadai untuk berpikir kritis dan mempertimbangkan nilai-nilai jangka Panjang,” tambahnya.
Di negeri di mana banyak keputusan politik masih berangkat dari isi dompet, tantangan terbesar demokrasi mungkin bukan sekadar soal siapa yang menang, melainkan bagaimana memastikan rakyat bisa memilih tanpa dibayangi rasa lapar dan takut akan hari esok. (her)











