INDOPOSCO.ID – Di tengah gundukan lumpur sisa banjir yang belum sepenuhnya kering, kebahagiaan sederhana menyeruak di Desa Payameta, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang.
Untuk pertama kalinya pasca-bencana, warga di dua dusun, Dusun Tanjung dan Dusun Alur Putih merasakan nikmatnya makanan hangat yang siap santap. Bukan sekadar soal perut yang terisi, melainkan tentang hadirnya kepedulian di saat mereka merasa tak berdaya melalui program SPPB (Sedekah Pangan Penolak Bala) yang digulirkan oleh Laznas BMH (26/12).
Sutrisno, Kepala Dusun Tanjung, tak menyangka sore itu warganya akan mendapatkan bantuan yang begitu spesifik dan dibutuhkan. Ia mengaku terkejut sekaligus haru.
“Saya kaget awalnya, namun saya bahagia. Di sini, akhirnya 425 Kepala Keluarga (KK) bisa makan sore yang lezat dan hangat. Baru kali ini ada program bantuan makanan hangat yang kami terima,” ujar Sutrisno.
Bagi Sutrisno dan warganya, kedatangan tim BMH bukan sekadar pengiriman logistik, melainkan sebuah validasi bahwa penderitaan mereka didengar dan diperhatikan.
Urgensi bantuan ini tergambar jelas dari penuturan Ida, seorang ibu rumah tangga yang antre dengan membawa serta anaknya. Wajah lelahnya berubah sumringah saat menerima paket makanan tersebut.
Bagi Ida, memasak adalah kemewahan yang belum bisa ia lakukan saat ini. Banjir datang begitu cepat, merenggut kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan paling dasar.
“Kami tidak sempat menyelamatkan apapun, termasuk beras yang tertinggal pun terkena lumpur. Jadi ini (bantuan SPPB), saya terimakasih sekali kepada BMH. Sangat membantu,” tuturnya dengan nada bergetar.
Pengakuan Ida mewakili ratusan ibu lainnya di Payameta. Logistik mentah mungkin ada, namun tanpa peralatan masak yang bersih dan beras yang layak, rasa lapar menjadi ancaman nyata.
Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, yang terjun langsung memantau kondisi di lapangan, memberikan analisis mendalam mengenai situasi sosial-ekonomi warga terdampak. Menurutnya, fase recovery ini adalah masa kritis bagi ketahanan pangan keluarga, baik secara primer dalma hal pangan maupun pemberdayaan ekonomi.
“Tampak warga berharap program ini bisa simultan,” jelas Imam. (ibs)










