INDOPOSCO.ID – Lembaga riset Tenggara Strategics menggandeng pakar energi dari University of California dan advokat lingkungan San Francisco untuk merumuskan strategi percepatan transisi energi surya (PLTS) skala besar di Indonesia.
Dua pakar energi dari University of California, Berkeley yaitu Dr. Nikit Abhyankar dan Dr. Umed Paliwal. Keduanya berbagi pengalaman dan pembelajaran dari reformasi sektor kelistrikan India yang berhasil mendorong peningkatan signifikan kapasitas energi terbarukan dalam satu dekade terakhir.
Pakar energi dari University of California, Berkeley Nikit Abhyankar mengemukakan, saat ini total kapasitas energi terbarukan India telah mendekati 250 gigawatt, dengan hampir setengahnya berasal dari tenaga surya. Dari jumlah tersebut, sekitar 130 gigawatt merupakan kapasitas surya telah beroperasi.
“Pada tahun 2025, India berada di jalur untuk membangun hampir 40 gigawatt kapasitas tenaga surya baru, dan tren ini akan terus berlanjut bahkan meningkat dalam beberapa tahun ke depan,” kata Nikit di Jakarta dikutip Rabu (17/12/2025).
Selama ini, sebagian besar kapasitas surya India dibangun tanpa sistem penyimpanan energi. Hampir seluruh 130 gigawatt surya telah beroperasi, ditambah sekitar 100 gigawatt yang sedang dibangun, masih berupa panel surya tanpa baterai. Namun, Nikit menekankan bahwa tren tersebut kini mulai berubah.
“Tren baru di India adalah membangun surya yang dilengkapi dengan penyimpanan energi, yaitu surya plus penyimpanan. India telah membangun, atau lebih tepatnya, telah melelang banyak sekali proyek surya plus penyimpanan ini,” tutur Nikit.
“Ini benar-benar mengubah permainan, karena biayanya kurang dari 50 persen biaya pembangkit listrik tenaga batu bara baru,” tambahnya.
India dan Indonesia memiliki karakteristik sistem kelistrikan yang serupa, dengan ketergantungan tinggi pada bahan bakar fosil. Namun, India berhasil meningkatkan kapasitas energi terbarukan hingga mencapai lebih dari 170 GW pada tahun 2023.
Hal tersebut didorong oleh kebijakan nasional yang kuat, pengembangan taman surya skala besar, integrasi jaringan listrik yang lebih baik, serta penurunan biaya teknologi surya dan penyimpanan energi.
Pengalaman itu relevan untuk Indonesia yang tengah menargetkan pengembangan 100 GW tenaga surya sebagai bagian dari agenda transisi energi nasional. Indonesia sendiri telah menetapkan target ambisius melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru, dengan pembangunan 42,6 GW pembangkit energi terbarukan dan 10,3 GW sistem penyimpanan energi berbasis baterai.
Pencapaian target tersebut membutuhkan reformasi sektor ketenagalistrikan yang berkelanjutan, peningkatan kesiapan jaringan, serta mobilisasi investasi swasta dalam skala besar. (dan)










