INDOPOSCO.ID – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai, banjir dan tanah longsor menerjang Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat disebabkan kerentanan ekologis terus meningkat akibat perubahan bentang ekosistem penting seperti hutan, dan diperparah oleh krisis iklim.
Periode tahun 2016 hingga 2025, seluas 1,4 juta hektar hutan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah terdeforestasi akibat aktivitas 631 perusahaan pemegang izin tambang, Hak Guna Usaha (HGU) sawit, Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), geotermal, izin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM).
Manager Kampanye Hutan dan Kebun Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nasional Uli Arta Siagian mengatakan, temuan tersebut menunjukkan fakta bahwa penyebab bencana ekologis yang terjadi saat ini adalah pengurus negara dan korporasi.
“Maka tanggung jawab pengurus negara adalah mengevaluasi seluruh izin perusahaan yang ada di Indonesia, terkhususnya di ekosistem penting dan genting,” kata Uli Arta secara daring di Jakarta, Senin (1/12/2025).
Ia mendesak pemerintah untuk serius menindaklanjuti persoalan tersebut. Ia secara khusus menagih janjipemerintah yang telah menyatakan akan mengevaluasi secara total izin korporasi penyebab bencana banjir dan longsor di Sumatra.
“Jika harus dilakukan pencabutan izin, maka itu harus dilakukan. Apalagi Menteri Kehutanan sudah bilang akan mengevaluasi, ya sekarang kami tagih, kami punya nama-nama perusahaan nya, silahkan evaluasi dan lakukan penegakan hukum,” ucap Uli Arta.
Selain itu, ia meminta pemerintah tidak hanya memberikan janji kepada ratusan ribu korban bencana di Sumatra, melainkan menuntut agar korporasi yang menyebabkan bencana bertanggung jawab menanggung seluruh biaya eksternalitas ditimbulkan.
“Jangan hanya berjanji di tengah ratusan ribu orang tengah berduka di Sumatra. Hal lainnya adalah menangih pertanggung jawaban korporasi untuk menanggung biaya eksternalitas dari bencana yang terjadi,” imbuh Uli Arta.
Banjir dan longsor yang menerjang Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada 25-27 November lalu menyebabkan 442 orang meninggal, 402 orang hilang, dan 156.918 orang harus mengungsi.(dan)










