• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Pembangunan yang Merusak Hutan Jadi Biang Banjir, FKBI Minta Mitigasi Radikal

Laurens Dami Editor Laurens Dami
Minggu, 30 November 2025 - 16:06
in Nasional
jirr

Kondisi banjir yang dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi di Kabupaten Aceh Tenggara sejak Minggu (23/11/2025). Foto: BPBD Kabupaten Aceh Tenggara

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Gelombang banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) kembali membuka mata publik mengenai rapuhnya ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat.

Di tengah upaya evakuasi dan penanganan darurat, muncul suara kritis dari pegiat perlindungan konsumen sekaligus Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi, yang menilai bahwa bencana tersebut bukan sekadar persoalan alam semata, tetapi cerminan dari kesalahan manusia dalam memperlakukan lingkungannya.

BacaJuga:

Hardiknas 2026, Paskibra dari Daerah 3T dan Papua Warnai Semangat Pendidikan Bermutu

Maraknya Kasus Daycare, BSN Ingatkan Penerapan SNI Taman Asuh Ramah Anak

Tantangan Ketenagakerjaan Kompleks, DPR RI: May Day 2016 Momentum Perkuat Kolaborasi

Tulus menyampaikan keprihatinan mendalam atas dampak banjir yang memaksa ribuan warga harus mengungsi dan kehilangan harta benda. Namun di balik empatinya, ia mendorong publik untuk jujur melihat akar persoalan yang sesungguhnya.

“Ini sejatinya bukan musibah, bukan pula bencana alam. Tetapi bencana yang dibuat oleh manusia (man made disaster). Jangan salahkan alam,” kata Tulus melalui gawai, Minggu (30/11/2025).

Ia memaparkan bahwa banjir yang muncul hampir setiap tahun di berbagai wilayah Indonesia bukan sekadar fenomena alam. Menurutnya, kerusakan lingkungan telah berlangsung secara masif selama bertahun-tahun, terutama akibat praktik penggundulan hutan atau deforestasi yang dilakukan tanpa aturan dan tanpa pertimbangan jangka panjang.

Tulus menyebutkan bahwa banyak kawasan hutan yang hilang karena dialihfungsikan menjadi area tambang, perkebunan kelapa sawit, dan tanaman pangan skala besar. Ia juga menyoroti perluasan kebun tembakau dan sejumlah komoditas lainnya yang terus menggerus tutupan hutan di berbagai provinsi.

“Banjir yang melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar terjadi karena dampak praktik penggundulan hutan secara ugal-ugalan serta alih tata guna lahan untuk tambang, perkebunan sawit, dan tanaman pangan lainnya,” tuturnya.

Menurut Tulus, kerusakan ini telah memicu ketidakseimbangan ekologi secara sistematis. Tanah kehilangan kemampuan menyerap air, aliran sungai menjadi dangkal, dan hilangnya pepohonan mempercepat laju limpasan saat hujan turun. Banjir besar yang kini melanda sebagian Sumatra hanyalah peringatan keras dari alam atas tindakan keliru manusia selama bertahun-tahun.

“Bahkan juga untuk kebun tembakau. Ini hanyalah alarm awal dari alam. Atas nama pembangunan, seharusnya tidak melakukan destruksi terhadap alam, terhadap hutan,” ujarnya mengingatkan.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa bencana dengan skala lebih besar bisa terjadi sewaktu-waktu jika tak ada perubahan kebijakan dan pola pikir dalam pengelolaan sumber daya alam. Perbaikan kosmetik saja tidak cukup. Ia mendesak pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk menerapkan langkah-langkah mitigasi yang bersifat mendasar dan radikal demi menjaga keselamatan generasi mendatang.

“Bencana yang lebih dahsyat akan terus mengintai, bahkan menjadi keniscsyaan, jika tak ada mitigasi yang radikal untuk menyelamatkannya,” tambah eks Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) itu.

Dengan kondisi yang kian mengkhawatirkan, suara dari para pemerhati lingkungan dan perlindungan konsumen menjadi pengingat bahwa alam memiliki batas kesabaran. Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah bencana akan datang, tetapi apakah manusia siap berubah sebelum terlambat. (her)

Tags: banjirFKBIHutanMitigasi Radikalpembangunan

Berita Terkait.

KAI: Dalam 10 Tahun 2.220 Perlintasan Liar Ditutup, 1.089 Titik Masih Berpotensi Risiko
Nasional

Hardiknas 2026, Paskibra dari Daerah 3T dan Papua Warnai Semangat Pendidikan Bermutu

Sabtu, 2 Mei 2026 - 06:44
KAI: Dalam 10 Tahun 2.220 Perlintasan Liar Ditutup, 1.089 Titik Masih Berpotensi Risiko
Nasional

Maraknya Kasus Daycare, BSN Ingatkan Penerapan SNI Taman Asuh Ramah Anak

Sabtu, 2 Mei 2026 - 05:31
KAI: Dalam 10 Tahun 2.220 Perlintasan Liar Ditutup, 1.089 Titik Masih Berpotensi Risiko
Nasional

Tantangan Ketenagakerjaan Kompleks, DPR RI: May Day 2016 Momentum Perkuat Kolaborasi

Sabtu, 2 Mei 2026 - 02:37
KAI: Dalam 10 Tahun 2.220 Perlintasan Liar Ditutup, 1.089 Titik Masih Berpotensi Risiko
Nasional

KAI: Dalam 10 Tahun 2.220 Perlintasan Liar Ditutup, 1.089 Titik Masih Berpotensi Risiko

Sabtu, 2 Mei 2026 - 00:34
Bersama Prabowo, KASBI Tanggapi Santai Aksi May Day di Monas
Nasional

Bersama Prabowo, KASBI Tanggapi Santai Aksi May Day di Monas

Jumat, 1 Mei 2026 - 23:57
Strategi Dua Kaki Prabowo di Hari Buruh: Merangkul Tanpa Memihak
Nasional

Strategi Dua Kaki Prabowo di Hari Buruh: Merangkul Tanpa Memihak

Jumat, 1 Mei 2026 - 23:03

BERITA POPULER

  • Buruh Sebut MBG Tidak Bermanfaat saat May Day, Prabowo Auto Respons Begini

    Buruh Sebut MBG Tidak Bermanfaat saat May Day, Prabowo Auto Respons Begini

    2618 shares
    Share 1047 Tweet 655
  • Breaking News: KRL Tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi, Jalur Lumpuh Total

    2558 shares
    Share 1023 Tweet 640
  • PSIM vs Persita: Ambisi Revans Laskar Mataram Digoyang Kendala Internal

    1567 shares
    Share 627 Tweet 392
  • Buruh dan Petani Pilih Aksi di DPR Ketimbang Monas demi Suarakan Kesejahteraan

    1127 shares
    Share 451 Tweet 282
  • Klaim Bukan Terpidana, Menteri LH Jumhur Hidayat Sebut Status Hukumnya ‘Ngambang’

    1029 shares
    Share 412 Tweet 257
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.