INDOPOSCO.ID – Ratusan orang memadati kediaman keluarga Wiranto di Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (22/11/2025) malam. Dalam suasana hening dan penuh keharuan, doa-doa dipanjatkan untuk almarhumah Rugaiya binti Mustafa Usman, istri Jenderal TNI (Purn) Wiranto, yang telah tujuh hari meninggalkan keluarga dan orang-orang yang menyayanginya.
Mengenakan koko putih dan peci hitam, Wiranto tampak tegar. Namun ketegarannya tak mampu sepenuhnya menutupi duka yang jelas menyelimuti raut wajahnya. Mantan Panglima ABRI dan menteri di tiga era pemerintahan itu berdiri di hadapan para tamu undangan, menyampaikan rasa terima kasih sekaligus kerinduan yang tak lagi bisa ia ungkapkan kepada sosok yang telah mendampinginya hampir seumur hidup.
Ungkapan Terima Kasih dan Kerinduan Seorang Suami
Di hadapan Wakil Presiden ke-6 Jenderal TNI (Purn) Tri Sutrisno, Agum Gumelar, Sutiyoso, Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, serta kerabat dan warga sekitar, Wiranto mengawali sambutannya dengan suara tenang. “Kami sekeluarga benar-benar merasa kehilangan,” ujarnya dengan lirih. “Dia orang baik. Tidak pernah mengumpat. Selalu tersenyum, mudah bergaul, dan suka menolong,” sambungnya.
Wiranto juga menyampaikan penghargaan mendalam kepada para dokter Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), dan RS Melinda 2 Bandung yang telah berupaya maksimal merawat almarhumah. Ia turut berterima kasih kepada semua pihak yang membantu proses pemakaman, dari Bandung hingga tempat peristirahatan terakhir di Delingan, Karanganyar, yang meninggal pada Minggu (16/11/2025) sore hari.
Namun kalimat yang paling menyentuh malam itu datang dari hatinya sebagai seorang suami. “Walaupun orang baik, namun sebagai manusia biasa tentu tidak luput dari kesalahan. Pada malam ini, izinkan kami memohon, maafkan Bunda Uga, ya. Maafkan bila ada salah dan khilaf almarhumah selama hidupnya,”tuturnya yang membuat suasana tahlilan menjadi sangat emosional. Banyak tamu tampak menunduk, menyeka air mata.
Doa tahlil mengalun panjang, dipimpin khusyuk oleh para ulama. Ratusan tamu yang memadati pendopo rumah, serta ratusan karangan bunga ucapan duka masih berjajar, baik dari Presiden Prabowo Subianto serta sejumlah Menteri Kabinet Merah Putih dan pejabat di negeri ini, untuk memberikan pelukan hangat dan ucapan penguatan kepada keluarga.
Malam itu, kata Wiranto bukan semata ritual tujuh harian. Tetapi turut menjadi ruang berbagi kenangan, tentang seorang istri, ibu, dan oma yang dikenang sebagai pribadi lembut dan selalu menyebarkan kebaikan.
“Mudah-mudahan doa semua yang hadir menerangi jalannya ketika menghadap Sang Khalik,” tutup Wiranto.
Pesan Menenangkan dari Menteri Agama
Sebelum acara tahlilan, para tamu melaksanakan salat Isya berjamaah dan mendengarkan tausiah dari Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Nasaruddin Umar.
Dalam ceramahnya, ia menyebut almarhumah sebagai sosok yang sudah menanam “banyak taman di surga”.
“Kita patut iri kepada almarhumah. Allah lebih mencintai dirinya hingga menjemputnya lebih cepat,” ujarnya menenangkan keluarga dan tamu undangan.
Ia menjelaskan, taman surga itu dibangun dari amal dan kebaikan almarhumah. Mulai dari mendidik anak-anak biologis hingga anak-anak intelektual dan spiritual yang pernah disentuh oleh kebaikan keluarga Wiranto.
“Jangan memandang enteng doa. Apalagi yang mendoakan itu anak biologis, intelektual atau anak spriritual. Sebagaimana hadist nabi, ada anak biologis yang lahir secera genetik, anak intelektual adalah anak-anak yang pernah diberikan beasiswa ataupun anak yatim yang pernah dibesarkan dan anak spiritual adalah anak-anak yang pernah kita berikan petunjuk untuk beribadah menjalankan hidup sesuai tuntunan agama. Selain itu amal baik lain almarhum serta ilmu yang ditingalkanya selama hidupnya,” tutur Menag. (dil)










