INDOPOSCO.ID – Di tengah pesatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pencarian informasi, pemerintah dan pemangku kepentingan kesehatan menyoroti meningkatnya misinformasi seputar kanker leher rahim dan Human Papillomavirus (HPV).
Memperingati World Cervical Cancer Elimination Day, MSD Indonesia bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menggelar edukasi publik untuk memperkuat literasi kesehatan dan menekan peredaran hoaks.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat lebih dari 1.900 konten hoaks sepanjang 2024, dengan 163 hoaks berkaitan dengan isu kesehatan, terutama vaksinasi dan obat herbal. Lonjakan ini menggambarkan urgensi penguatan edukasi yang kredibel di era digital dan teknologi AI yang semakin meluas.
HPV Dapat Menyebar Melalui Banyak Rute, Termasuk Kontak Tidak Langsung
Dalam presentasinya, Prof. DR. Dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si, Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang, memaparkan berbagai hasil penelitian internasional yang menunjukkan bahwa HPV dapat menyebar tidak hanya melalui hubungan seksual.
Penelitian dari India, Tanzania, Romania, hingga Cina menunjukkan:
• HPV dapat ditemukan pada cairan tubuh, permukaan kulit, ujung jari, pakaian, hingga peralatan medis.
• Virus risiko tinggi terdeteksi di 53,8% lokasi fasilitas umum seperti toilet, wastafel, dan puskesmas.
• HPV mampu bertahan di permukaan hingga 7 jam, sehingga risiko paparan dapat terjadi melalui kontak tidak langsung.
Prof. Soedjatmiko menegaskan bahwa pemahaman masyarakat perlu diperluas.
“HPV bukan hanya soal perilaku seksual. Infeksi bisa terjadi tanpa gejala dan baru berkembang menjadi kanker 15–20 tahun kemudian. Karena itu pencegahan pada usia muda sangat penting,” ungkapnya.
Infeksi HPV Terjadi Sebelum Usia 15 Tahun
Data Global Burden of Disease 1990–2017 menunjukkan:
• Kanker leher rahim mulai terdeteksi pada usia 15 tahun,
• Artinya infeksi HPV terjadi jauh lebih dini — bahkan sebelum anak memasuki usia remaja.
Pola serupa juga terlihat dalam data epidemiologi 2020 yang memperlihatkan peningkatan infeksi sejak usia sekolah dasar hingga remaja.
Prof. Soedjatmiko menambahkan: “Pemberian imunisasi HPV di usia sekolah adalah tindakan pencegahan terbaik. Ini bukan hal baru, vaksin HPV sudah digunakan lebih dari 130 negara dan terbukti aman sejak 2006.”
Kemenkes RI Tekankan Pentingnya Edukasi Berbasis Bukti
Direktur Pengelolaan Imunisasi Kemenkes, dr. Prima Yosephine, MKM, menekankan bahwa penyebaran informasi yang tepat menjadi fondasi penting untuk menurunkan angka kejadian kanker leher rahim di Indonesia.
“Pemerintah berkomitmen memperluas cakupan imunisasi HPV, baik untuk anak perempuan maupun laki-laki. Edukasi yang benar memungkinkan masyarakat membuat keputusan kesehatan yang tepat.”
70% Masyarakat Percaya Informasi dari AI Tanpa Verifikasi
Survei Katadata Insight Center mencatat 64,7% masyarakat menggunakan AI untuk mencari informasi kesehatan, dan 70% di antaranya mempercayainya tanpa pemeriksaan ulang.
Deputi Pembinaan Komunikasi Pemerintah, Noudhy Valdryno, menyoroti risiko tersebut: “AI dapat mempercepat penyebaran informasi — benar maupun salah. Karena itu literasi digital dan kesehatan harus berjalan seiring.”
MSD Indonesia Dorong Peran Media dalam Perang Melawan Hoaks Kesehatan
Country Medical Lead MSD Indonesia, dr. Amrilmaen Badawi, MBiomedSc, menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan informasi.
“Teknologi memberi kesempatan, tetapi juga tanggung jawab. Memeriksa sumber, memastikan rujukan ilmiah, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan adalah langkah sederhana yang sangat penting.”
MSD Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendukung edukasi kesehatan publik agar ruang digital tetap menyehatkan, terpercaya, dan bebas misinformasi. (eva)











