INDOPOSCO.ID – Setiap 43 detik, satu anak di dunia meninggal karena pneumonia. Penyakit yang sering dianggap sepele ini masih menjadi penyebab utama kematian balita di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Menyambut Hari Pneumonia Sedunia pada 12 November, MSD Indonesia mengajak para orang tua menjadi “pahlawan kesehatan” bagi anak-anaknya dengan langkah sederhana: memahami bahaya pneumonia dan memastikan anak mendapat imunisasi lengkap.
Menurut data UNICEF, lebih dari 725.000 anak di bawah usia lima tahun meninggal dunia setiap tahun akibat pneumonia. Dari jumlah itu, sekitar 190.000 merupakan bayi baru lahir yang masih sangat rentan terhadap infeksi. Di Indonesia, pneumonia menimbulkan beban ekonomi yang besar. Data BPJS Kesehatan mencatat total biaya pengobatan penyakit ini mencapai sekitar Rp8,7 triliun pada tahun 2023.
Managing Director MSD Indonesia, George Stylianou, mengatakan bahwa momen Hari Pahlawan dan Hari Pneumonia Sedunia menjadi pengingat penting bagi setiap orang tua untuk berperan aktif menjaga kesehatan anak.
“Hari ini bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional, dan dua hari lagi kita memperingati Hari Pneumonia Sedunia. Kedua momen ini mengingatkan kita bahwa setiap orang tua bisa menjadi pahlawan bagi kesehatan anak-anaknya, termasuk dengan melindungi mereka dari pneumonia. MSD berkomitmen memperluas edukasi agar lebih banyak keluarga memahami langkah pencegahan yang tepat. Dengan kesadaran dan kolaborasi bersama, kita dapat menurunkan angka kematian anak akibat pneumonia,” ujar George dikutip Selasa (11/11/2025).
Pneumonia merupakan infeksi saluran pernapasan bawah yang sering menyerang anak-anak. Menurut Global Burden of Disease (GBD), kematian akibat pneumonia dapat mendekati nol pada tahun 2030 jika upaya pencegahan dilakukan secara menyeluruh, termasuk peningkatan cakupan vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) hingga lebih dari 90 persen.
Dokter Anak Konsultan Respirologi FKUI RSCM, Wahyuni Indawati, menjelaskan bahwa vaksinasi adalah hak dasar setiap anak sekaligus langkah penting dalam menjaga kesehatan masyarakat.
“Melengkapi imunisasi sesuai rekomendasi pemerintah dan IDAI merupakan bentuk perlindungan penting terhadap bahaya pneumonia. Pemberian vaksin PCV terbukti efektif melindungi bayi dan anak-anak dari infeksi bakteri penyebab utama pneumonia,” jelas Wahyuni.
Ia menambahkan bahwa vaksinasi PCV telah menjadi bagian dari Program Imunisasi Nasional, yang ditujukan untuk melindungi jutaan anak Indonesia. Namun, rendahnya kesadaran orang tua dan maraknya misinformasi masih menjadi hambatan dalam upaya pencegahan.
Dokter Spesialis Anak, Kanya Ayu Paramastri turut mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap gejala awal pneumonia yang sering disalahartikan sebagai batuk pilek biasa.
“Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika batuk dan demam disertai kesulitan bernapas atau tarikan dinding dada. Deteksi dini adalah kunci untuk mencegah komplikasi berat seperti gagal napas dan kematian,” tegasnya.
Semwmtara, Country Medical Lead MSD Indonesia, dr Amrilmaen Badawi, MBiomedSc, menekankan pentingnya peran ibu dalam menyebarkan informasi kesehatan yang benar.
“Pencegahan pneumonia berawal dari pengetahuan yang benar. Saat seorang ibu memahami langkah pencegahan yang tepat, ia dapat menjadi sumber inspirasi bagi keluarga dan lingkungannya. Setiap ibu yang bertindak untuk melindungi anaknya adalah pahlawan sejati,” ujarnya.
Vaksinasi PCV diakui secara global sebagai intervensi paling efektif untuk mencegah pneumonia akibat bakteri Streptococcus pneumoniae. Menurut rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin PCV diberikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan dengan dosis booster di usia 12–15 bulan. Dalam jadwal imunisasi terbaru, vaksin PCV15 juga telah diperkenalkan, dengan cakupan perlindungan lebih luas terhadap 15 serotipe bakteri penyebab pneumonia.
“MSD Indonesia berharap melalui edukasi, vaksinasi, dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia dapat melahirkan generasi anak yang lebih sehathb dan bebas dari pneumonia,* pungkasnya. (srv)











