• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Pemerintah Harus Siapkan Opsi Metode Supply, Sikapi Kesenjangan Sumber Pasokan dan Demand

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Sabtu, 17 Mei 2025 - 10:03
in Ekonomi
E2S

Kiri ke kanan: Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro; Vice President Komersialisasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), Ufo Budiarius Anwar; Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis Pertamina Hulu Energi (PHE) Rachmat Hidajat; dan Anggota Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, serta moderator Azis Husaini, Editor Kotan, dalam diskusi Strategi Penguatan Sektor Gas Bumi Indonesia yang digelar Energy Editor Society (E2S), di Jakarta, Jumat (16/5/2025). Foto: Dokumen E2S

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Konsumsi gas bumi hampir dipastikan terus meningkat seiring dengan strategi transisi energi yang diusung pemerintah.

Namun, di sisi lain ada kesenjangan cukup besar antara lokasi atau sumber pasokan dengan lokasi demand.

BacaJuga:

Produsen Lem dari Ngawi Resmi Jadi Kawasan Berikat

Kolaborasi Mitsubishi Fuso–Takari Dorong Truk Listrik yang Lebih Fleksibel

Pegadaian Dukung Kartini Race 2026 sebagai Tonggak Baru Motorsport Indonesia

Untuk itu, pemerintah harus menyiapkan opsi berbagai metode penyaluran atau supply, baik gas pipa maupun dengan beyond pipeline, misalnya seperti Liquefied Natural Gas (LNG).

Vice President Komersialisasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Ufo Budiarius Anwar mengungkapkan, dalam beberapa tahun ke belakang serta ke depan temuan gas cukup besar.

Hanya saja, tantangannya adalah temuan tersebut berada di wilayah timur Indonesia, sementara demand terpusat di Indonesia bagian barat.

“Kita banyak temuan cadangan gas, tapi daerah timur Indonesia jadi bagaimana bawa cadangan gas menjadi produksi dan dikirim ke end user yang ada di Jawa dan Sumatera,” kata Ufo, dalam sesi diskusi Strategi Penguatan Sektor Gas Bumi Indonesia yang digelar Energy Editor Society (E2S), di Jakarta, Jumat (16/5/2025).

Berdasarkan data SKK Migas pada 2024, rata-rata penyaluran gas bumi mencapai 5.613,43 Billion British Thermal Unit per Day (BBTUD) dengan persentase pemanfaatan gas bumi sektar 60 persen lebih, diperuntukan untuk kebutuhan domestik.

Untuk industri 26,24 persen, kemudian pupuk dan kelistrikan masing-masing 12,3 persen dan 12,51 persen. Sisanya ada untuk LNG domestik 12,39 persen, untuk lifting minyak 3,73 persen, untuk LPG 1,37 persen bahan bakar gas (BBG) dan jaringan gas sebesar 0,13 persen dan 0,22 persen.

Sementara untuk ekspor persentasenya hanya 24,17 persen untuk ekspor LNG serta ekspor gas pipa yang diekspor ke Singapura 6,95 persen.

“Gas itu lokomotif energi Indonesia sangat cocok dengan transisi energi. Masalahnya ya infrastruktur tadi. Gas paling banyak digunakan paling besar kelistrikan, pupuk. Ada city gas jargas itu adalah potensi kurangi LPG impor tadi,” jelas Ufo.

Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis Pertamina Hulu Energi (PHE) Rachmat Hidajat mengakui, dengan adanya temuan gas di wilayah timur Indonesia membuat Pertamina sangat berharap kolaborasi dan keterlibatan pemerintah untuk bisa memastikan ketersediaan pasar konsumen gas.

“Harapan ke depan inventory kita banyak, tapi stranded field dan marjinal. Belum bisa optimasi semua, butuh kolaborasi dengan pemangku kepentingan,” tuturnya.

Sementara itu, anggota Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto menegaskan, infrastuktur dasar memang harus bisa disiapkan pemerintah.

Tanpa infrastruktur dasar yang memadai, maka akan ada peningkatan biaya yang ujungnya akan berdampak pada harga gas.

“Kita enggak mempunyai infrastruktur dengan pipa. Ada tambahan ongkos kalau bukan pipa (LNG),” ungkapnya.

Oleh karena itu, keterlibatan pemerintah jadi kunci untuk bisa menguatkan sektor gas bumi Indonesia.

“Nanti dari ujung Aceh sampai Jawa Timur pipa tersambung Jawa dan Sumatera. Jadi kaya Arun akan menjadi receiving terminal storage baru alirkannya melalui pipa dan itu bisa murah,” ujar Sugeng.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro menuturkan, salah satu kunci untuk bisa meredam potensi kekurangan pasokan gas di beberapa wilayah adalah pemerintah harus terus menggenjot upaya integrasi maupun penyediaan infrastruktur gas.

Menurut Komaidi dari berbagai data sekitar 80 persen cadangan gas berada di Indonesia timur, sementara konsumen di bagian barat Indonesia.

“Kalau bangun pipa investor tanya berapa lama cadangan lewat. Kalau 5-10 tahun bangun pipa kemudian kalau balik modal 15 tahun, nggak akan dipilih,” terangnya.

“Kemudian opsi paling logis mengubah jadi LNG dengan skala kecil lebih mahal, sementara konsumen barat sudah terbiasa dengan harga gas murah ini yang perlu diluruskan,” sambungnya.

Salah satu tools yang bisa dimanfaatkan adalah keterlibatan badan usaha, baik milik pemerintah maupun swasta yang memiliki modal kuat untuk bisa mendorong pemanfaatan gas domestik. (rmn)

Tags: E2Sgas bumiSwasembada Energi

Berita Terkait.

bc2
Ekonomi

Produsen Lem dari Ngawi Resmi Jadi Kawasan Berikat

Senin, 4 Mei 2026 - 12:32
fuso
Ekonomi

Kolaborasi Mitsubishi Fuso–Takari Dorong Truk Listrik yang Lebih Fleksibel

Senin, 4 Mei 2026 - 12:02
Pegadaian Dukung Kartini Race 2026 sebagai Tonggak Baru Motorsport Indonesia
Ekonomi

Pegadaian Dukung Kartini Race 2026 sebagai Tonggak Baru Motorsport Indonesia

Minggu, 3 Mei 2026 - 22:33
Geopolitik Memanas, Rupiah Berpotensi Melemah ke Level Kritis Pekan Depan
Ekonomi

Geopolitik Memanas, Rupiah Berpotensi Melemah ke Level Kritis Pekan Depan

Minggu, 3 Mei 2026 - 21:30
emas
Ekonomi

Harga Emas Pekan Depan Diprediksi Bergejolak, 5 Faktor Kunci Ini Jadi Penyebabnya

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:08
Taiwan Tourism
Ekonomi

Taiwan Bidik Wisatawan RI, Usung Konsep “Negeri yang Tak Pernah Tidur”

Minggu, 3 Mei 2026 - 10:11

BERITA POPULER

  • Buruh Sebut MBG Tidak Bermanfaat saat May Day, Prabowo Auto Respons Begini

    Buruh Sebut MBG Tidak Bermanfaat saat May Day, Prabowo Auto Respons Begini

    3648 shares
    Share 1459 Tweet 912
  • PSIM vs Persita: Ambisi Revans Laskar Mataram Digoyang Kendala Internal

    1597 shares
    Share 639 Tweet 399
  • Buruh dan Petani Pilih Aksi di DPR Ketimbang Monas demi Suarakan Kesejahteraan

    1292 shares
    Share 517 Tweet 323
  • Breaking News: KRL Tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi, Jalur Lumpuh Total

    2569 shares
    Share 1028 Tweet 642
  • 22 Tahun UU PPRT Baru Disahkan, DPR RI: Ini Kemenangan Pekerja Perempuan

    1005 shares
    Share 402 Tweet 251
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.