INDOPOSCO.ID – Pengembangan Proyek LNG Abadi Masela memasuki babak penting setelah groundbreaking digelar pada 16 Juli 2026. Proyek yang diproyeksikan menghasilkan produksi gas bruto sekitar 1,75 BSCFD tersebut dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk memperkuat pasokan gas nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, mengatakan berlanjutnya pengembangan Lapangan Abadi Masela menjadi sinyal positif bagi ketahanan energi dan neraca gas nasional dalam beberapa tahun mendatang.
Menurut dia, proyek tersebut memiliki arti strategis karena Lapangan Abadi Masela memiliki cadangan gas sekitar 18,54 TSCF. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 53,30 persen dari total cadangan terbukti gas nasional pada 2025.
“Produksi gas dari Lapangan Abadi Masela diproyeksikan dapat mencapai kisaran 34 persen dari produksi gas nasional saat ini,” ujar Komaidi dalam keterangan tertulis, Selasa (11/8/2026).
Dengan potensi produksi tersebut, pengembangan Blok Masela diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan gas domestik, khususnya di tengah kebutuhan pasokan energi yang terus meningkat.
Selain dari sisi ketahanan energi, Komaidi menilai proyek Masela memiliki dampak ekonomi yang besar. Nilai investasi pengembangan Lapangan Abadi Masela diperkirakan mencapai USD34,75 miliar atau sekitar Rp590 triliun, dengan asumsi nilai tukar Rp17 riu per USD.
Berdasarkan kajian ReforMiner, investasi tersebut berpotensi menciptakan nilai tambah terhadap perekonomian nasional hingga sekitar Rp2.363 triliun.
Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2023, total biaya investasi pengembangan Lapangan Abadi Masela sepanjang umur proyek diperkirakan mencapai USD34,754 miliar.
Angka tersebut terdiri atas investasi di luar sunk cost sebesar USD20,946 miliar, biaya operasi USD12,978 miliar, serta biaya Abandonment and Site Restoration (ASR) sebesar USD830 juta.
Nilai keseluruhan biaya tersebut setara sekitar 2,3 kali realisasi investasi hulu migas nasional pada 2025 yang mencapai USD15,42 miliar.
Menurut Komaidi, besarnya investasi tersebut menunjukkan bahwa proyek Masela tidak hanya memiliki arti penting bagi sektor energi, tetapi juga berpotensi memberikan efek berganda terhadap perekonomian nasional.
Pengembangan Lapangan Abadi Masela juga dinilai sejalan dengan kebijakan hilirisasi pemerintah. Pasokan gas dari proyek tersebut berpotensi mendukung kebutuhan industri di kawasan Indonesia Timur, termasuk untuk sektor petrokimia, smelter, kelistrikan, dan industri lainnya.
Kebutuhan gas untuk berbagai sektor tersebut diproyeksikan berada di kisaran 380–680 MMSCFD.
“Pengembangan Lapangan Abadi Masela berpotensi memberikan dampak positif terhadap penciptaan lapangan kerja,” jelas Komaidi.
Dia memperkirakan kebutuhan tenaga kerja pada puncak konstruksi proyek dapat mencapai sekitar 12 ribu pekerja. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen atau 3.600 pekerja diproyeksikan berasal dari masyarakat lokal.
Menurutnya, angka tersebut baru mencerminkan tenaga kerja yang terlibat secara langsung. Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja berpotensi lebih besar apabila turut memperhitungkan aktivitas ekonomi baru yang tumbuh di sekitar proyek.
ReforMiner juga menilai keterlibatan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dalam konsorsium Proyek LNG Abadi Masela dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan proyek.
Menurut Komaidi, posisi Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), ditambah dengan penguasaan infrastruktur distribusi gas dan pangsa pasar niaga gas domestik, menjadi keunggulan strategis yang dapat mendukung keberlanjutan proyek.
Kehadiran Pertamina juga dinilai berpotensi membantu mengintegrasikan bisnis dari sektor hulu hingga hilir sehingga risiko pasar proyek dapat ditekan.
Melalui anak usahanya, termasuk PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dan PT Pertagas, Pertamina memiliki akses terhadap jaringan transmisi, distribusi, serta konsumen gas domestik.
Komaidi mengatakan sinergi dengan calon pembeli gas dalam negeri perlu terus diperkuat. Koordinasi dengan PT PLN (Persero), PLN Energi Primer Indonesia, Pupuk Indonesia, serta BUMN lainnya perlu diarahkan untuk memastikan kesepakatan awal dapat ditindaklanjuti menjadi Gas Sales Agreement (GSA) atau Sales and Purchase Agreement (SPA) yang pasti, berjangka panjang, dan bankable.
“Dengan kepastian penyerapan di dalam negeri, eksposur proyek terhadap volatilitas harga LNG spot global dapat dikurangi dan kelayakan ekonomi proyek dalam jangka panjang dapat lebih terjaga,” katanya.
Integrasi Pertamina melalui PHE di sektor hulu dan PGN di sektor midstream-hilir juga dinilai dapat dioptimalkan untuk mendukung peningkatan serapan gas domestik.
Komaidi menyebut serapan dalam negeri sedikitnya 60 persen dari produksi gas Masela dapat menjadi salah satu opsi yang perlu didorong.
PGN sendiri mengelola jaringan pipa gas lebih dari 35 ribu kilometer yang melayani pasar di 17 provinsi dan 74 kabupaten/kota. Posisi tersebut memberikan peran strategis bagi Pertamina dalam mendistribusikan gas Masela ke berbagai pusat permintaan domestik.
Selain aspek pasar dan infrastruktur, posisi Pertamina sebagai BUMN strategis juga dinilai dapat memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, operator, dan BUMN dalam menyelesaikan berbagai kebutuhan proyek.
Hal itu mencakup perizinan, pengadaan lahan, pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), pengadaan utama, hingga pembangunan infrastruktur pendukung.
Meski groundbreaking menjadi tonggak penting, Komaidi mengingatkan pengembangan Proyek Abadi Masela masih menghadapi sejumlah tahapan krusial sebelum memasuki fase produksi.
Proyek tersebut masih harus melalui penyelesaian Front-End Engineering Design (FEED), pencapaian Final Investment Decision (FID) yang ditargetkan pada akhir 2026, pelaksanaan Engineering, Procurement and Construction (EPC), commissioning, hingga produksi perdana.
Rangkaian tahapan tersebut membuat risiko teknis maupun nonteknis proyek masih relatif tinggi. Karena itu, konsistensi seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor penting agar proyek dapat berjalan sesuai target.
Komaidi menilai keberhasilan pengembangan Abadi Masela yang telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) akan sangat bergantung pada konsistensi dan kepastian kebijakan pemerintah.
Menurut dia, perjalanan panjang proyek Masela menunjukkan bahwa hambatan pengembangan tidak hanya berasal dari persoalan teknis, tetapi juga perubahan kebijakan.
“Perubahan rencana pengembangan, termasuk perubahan skema dari LNG terapung menjadi LNG darat memberikan dampak yang tidak sederhana. Perubahan tersebut mengharuskan dilakukannya penyusunan ulang desain, lokasi fasilitas, kebutuhan lahan, infrastruktur, keekonomian, dan jadwal pelaksanaan proyek,” pungkasnya. (rmn)




















