• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

RI Jadi Penghasil Minyak Makan Terbesar di Dunia Jika Gabungkan Sawit dan Kelapa

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Senin, 12 Agustus 2024 - 22:02
in Nasional
Petani-Sawit-co

Seorang petani memanen buah kelapa sawit. Foto : Youtube

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Cita-cita Indonesia menjadi lumbung pangan dunia bukanlah sebuah kemustahilan karena pada dasarnya Indonesia telah menjadi lumbung pangan dunia dalam arti yang luas. Saat ini Indonesia bersama Malaysia tercatat sebagai eksportir terbesar minyak kelapa sawit di dunia yang digunakan untuk minyak makan. Indonesia juga bersama Filipina menjadi eksportir minyak kelapa di dunia yang penggunaan terbesarnya untuk pangan.

“Jika digabungkan kelapa sawit dan kelapa saja, saat ini Indonesia terbukti mampu menjadi penghasil minyak makan terbesar di dunia. Keduanya adalah produk pangan dalam artian luas yang masuk dalam hampir setiap menu kuliner yang dikonsumsi manusia,” kata Ketua Umum Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi) Prof Dr Muhammad Syakir MS.

BacaJuga:

Mendiktisaintek Dorong Mahasiswa Berpikir Solutif, Kawal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Sambut Wajib Halal Oktober 2026, Ombudsman Tekankan Pentingnya Hak Masyarakat

Subsidi Biaya Haji dari APBN, MUI Ingatkan Transparansi

Di Indonesia memang produk minyak kelapa sawit dan minyak kelapa dihasilkan oleh pertanian di sektor tanaman perkebunan karena berasal dari tanaman tahunan. Namun, sesungguhnya dari perspektif produknya minyak kelapa sawit dan minyak kelapa, termasuk sembilan bahan pokok alias sembako yang dikenal sebagai minyak goreng.

“Di kedua komoditi tersebut, Indonesia telah menjadi lumbung pangan dunia. Sukses di sektor perkebunan yang menghasilkan minyak goreng terbesar di dunia itu menjadi pendorong untuk mewujudkan kedaulatan pangan di komoditi lain seperti tanaman pangan primer padi,” kata Syakir.

Sektor tanaman pangan primer, yaitu padi sudah semestinya berintegrasi dengan sektor perkebunan. Integrasi tersebut dapat mendongkrak produksi padi untuk mewujudkan cita-cita menjadi lumbung pangan dunia.

“Indonesia membutuhkan terobosan integrasi tanaman pangan padi dengan ekosistem perkebunan. Tanpa terobosan, stok pangan bisa terganggu karena pertumbuhan populasi penduduk tidak bisa dibendung,” kata Syakir.

Indonesia juga menghadapi banyak cekaman yang menjadi kendala produksi padi. Sebut saja cekaman iklim karena el nino dan la nina yang selalu datang silih berganti. Demikian pula degradasi lahan dan penciutan luas lahan terus terjadi.

“Padi tergolong tanaman yang sensitif terhadap berbagai cekaman, sehingga butuh banyak terobosan. Tidak bisa hanya bergantung pada satu terobosan. Dengan banyak terobosan terbukti Indonesia pada 2017-2021 bebas impor beras medium,” kata Syakir yang juga menjabat sebagai Tenaga Ahli Menteri Pertanian itu.

Menurut Syakir, sektor perkebunan merupakan andalan dan penyokong utama bidang pertanian di Indonesia. Perkebunan menjadi penyumbang pendapatan nasional dan menjadi penyumbang terbesar devisa negara Indonesia dari bidang pertanian seperti terlihat pada nilai ekspor komoditas-komoditas perkebunan dalam lima tahun terakhir.

Bahkan, pada era Covid 19 ketika perekonomian lesu, sektor pertanian tetap tumbuh positif berkat kontribusi komoditas perkebunan yang tetap bertahan meskipun subsektor lainnya tumbuh negatif.

“Ekosistem perkebunan lebih tangguh menghadapi krisis, sehingga menopang sektor lainnya,” kata Syakir yang juga peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu

Menurut Syakir, ekosistem perkebunan di tanah air memang relatif lebih baik dibandingkan dengan ekosistem pertanian lahan pangan. Pengelolaan komoditas perkebunan yang lebih modern dan terukur; inovasi teknologi yang lebih maju; serta sumber daya manusia sebagai pengelola yang secara proporsional lebih terdidik membuat sektor perkebunan lebih unggul dibanding pertanian tanaman pangan. Sistem rantai pasok pada komoditas perkebunan juga menjadi lebih efektif dan efisien.

Di sisi lain, Indonesia sebagai negara agraris dengan kekayaan alam melimpah, memiliki potensi besar untuk menjadi lumbung pangan dunia. Berbagai komoditas pangan seperti padi, jagung, kedelai, berpeluang mengikuti jejak keunggulan komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, kopi, teh, kakao, dan karet yang berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

Namun, di tengah potensi yang besar ini, tantangan untuk mewujudkan kemandirian pangan masih sangat nyata sehingga komoditas pangan strategis membutuhkan penguatan yang lebih komprehensif.
Produksi pangan selain padi juga menghadapi tantangan perubahan iklim, degradasi lahan, serta penciutan luas lahan telah menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan produksi pangan nasional.

Tanaman pangan yang umumnya tanaman semusim memiliki kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman perkebunan yang umumnya merupakan tanaman tahunan. Sinergi sektor perkebunan—yang memiliki ekosistem yang lebih mapan—dengan sektor pangan diharapkan mampu menjadi katalisator bagi Indonesia menuju lumbung pangan dunia.

“Para stakeholder di sektor perkebunan dapat menjadi pengungkit untuk meningkatkan produksi di sektor pangan,” tandas Syakir.

Menurut Ketua Panitia Focus Group Discussion (FGD) Peragi Dr Ir Prama Yufdy, contoh sinergi sektor perkebunan dengan tanaman pangan adalah penggunaan sebagian lahan perkebunan yang belum dikelola untuk tanaman pangan atau tumpangsari tanaman perkebunan dengan tanaman pangan maupun integrasi dengan ternak.

Sebut saja jagung di bawah tegakkan perkebunan kelapa atau jagung di bawah tegakkan perkebunan kelapa sawit.

Demikian pula padi gogo di bawah tegakkan perkebunan kelapa. Ternak seperti sapi juga dapat diintegrasi dengan perkebunan sawit dan kelapa.

“Selama ini sinergi tersebut telah diterapkan di beberapa tempat, tetapi belum banyak yang melakukannya secara profesional dengan manajemen yang baik karena umumnya dilakukan oleh perkebunan rakyat dan pertanian rakyat,” kata Prama.

Menurut Syakir, terobosan integrasi tanaman padi dengan ekosistem perkebunan dapat menjadi penyokong kebijakan pemerintah yang dalam dua bulan terakhir ini semakin membaik.

Data dari Badan Pusat Statistik berdasarkan perhitungan KSA amatan Juni 2024, maka neraca untuk potensi produksi pada Agustus dan September 2024 sudah tumbuh positif 0,08-0,38 juta ton. Angka itu diperoleh dari asumsi konsumsi bulanan 2,58-juta ton dengan produksi 2,66-2,96 juta ton.

Data tersebut sangat menggembirakan karena pada bulan yang sama tahun lalu neraca produksi dan konsumsi masih bernilai negatif.

“Sukses ini harus terus dipercepat agar produksi pangan tidak mengalami kemunduran kembali,” pungkas Syakir.

Ekosistem perkebunan juga harus berintegrasi dengan beragam tanaman pangan lain agar keragaman pangan di Indonesia tetap terjaga. Di daerah yang makanan pokoknya jagung dapat dikembangkan jagung. Demikian pula yang sagu dan singkong, maka dikembangkan sagu dan singkong.

“Pangan pokok rakyat harus kembali ke khittah yaitu berbasis kultur dan ekosistem. Jangan semua bergantung pada padi,” kata Syakir.

Peragi melihat peluang ekosistem perkebunan seperti lahan yang luas, manajemen modern, teknologi yang maju, serta sumberdaya manusia yang lebih baik dapat menjadi pengungkit meningkatnya produksi pangan menuju Nusantara Baru Indonesia Maju yang berdaulat pangan. Tentu harapan tersebut tidak mungkin tercapai tanpa keterlibatan semua pihak terkait untuk bersama-sama mewujudkannya.

“Secara konsep integrasi pangan karbohidrat dan pangan protein dapat diintegrasikan dengan perkebunan, tetapi secara teknis dibutuhkan kebijakan dan modifikasi agronomik agar semua komoditi perkebunan, pangan, dan ternak dapat berproduksi optimal. Para ahli terkait dibutuhkan untuk merumuskannya,” kata Syakir.

Berkenaan dengan hal tersebut Perhimpunan Agronomi Indonesia bersama Perkebunan Nusantara berencana mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Strategi Indonesia Mencapai Lumbung Pangan Dunia: Potensi Sektor Perkebunan untuk Kemandirian Pangan Nasional FGD yang akan dipandu oleh Ketua Peragi Prof Dr Edi Santosa, SP MSi. sebagai moderator.

Pembicara kunci Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara III (Persero)bDr Ir Mohammad Abdul Ghani diundang untuk menyampaikan materi Perkebunan pilar strategis penopang kemandirian pangan; sementara narasumber lain Prof Dr Rachmat Pambudi dari IPB University menyampaikan Skenario menuju kemandirian pangan nasional; Prof Dr Ir Sudradjat M.S, Dewan Pakar Peragi menyampaikan Potensi perkebunan untuk kemandirian pangan nasional; Ir Rasidin Azwar MSc PhD dari Tim Pakar Appertani menyampaikan Optimasi pemanfaatan lahan perkebunan untuk penyediaan pangan karbohidrat (padi dan jagung); dan Prof Dr Luki Abdullah dari IPB University menyampaikan paparan Pengembangan ternak terintegrasi pada ekosistem Perkebunan untuk penyediaan protein (susu dan daging).

FGD tersebut direncanakan di Gedung Display, BSIP Perkebunan, JalanTentara Pelajar No 1, Kota Bogor, Jawa Barat. Diharapkan kehadiran para pembicara kunci dan narasumber dapat memberikan rumusan yang dapat menjadi pertimbangan pemerintah dan para stakeholder tanaman perkebunan dan tanaman pangan untuk bersinergis mewujudkan Nusantara Baru Indonesia Maju memiliki kedaulatan pangan. (srv)

Tags: kelapaKelapa Sawitminyakperkebunan

Berita Terkait.

brian
Nasional

Mendiktisaintek Dorong Mahasiswa Berpikir Solutif, Kawal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Kamis, 8 Oktober 2026 - 20:02
bpjph
Nasional

Sambut Wajib Halal Oktober 2026, Ombudsman Tekankan Pentingnya Hak Masyarakat

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:33
haji
Nasional

Subsidi Biaya Haji dari APBN, MUI Ingatkan Transparansi

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:09
abdul
Nasional

Mendikdasmen: Guru P3K Paruh Waktu Diangkat Penuh Mulai 2027 Nanti

Kamis, 8 Oktober 2026 - 18:08
Edukasi
Nasional

Sempat Capai 90 Kasus Sebulan, Gangguan Layang-Layang di Jalur Kereta Cepat Whoosh Kini Melandai

Kamis, 8 Oktober 2026 - 13:25
KKP dan BPOM Perkuat Sinergi Pengawasan Mutu Ikan untuk Dukung Program MBG
Nasional

BPKH Siap Salurkan Nilai Manfaat Rp8,83 Triliun untuk Haji 2027

Kamis, 8 Oktober 2026 - 13:01

OLAHRAGA

bri
Olahraga

Jelang MotoGP Mandalika, BRI Latih 500 Volunteer Kelola Sampah

Editor Dilianto
Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:19

INDOPOSCO.ID – Menjelang ajang MotoGP Mandalika 2026 pada 9–11 Oktober, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI melatih 500...

SelengkapnyaDetails
Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid

Sentuhan Magis Pertamina di Bandara Lombok: Antarkan Semarak MotoGP Langsung Saat Mendarat

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:23
novendra

Novendra Priasmoro Berjaya, Percasi DKI Siapkan Skuad Terbaik untuk Kejurnas 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 23:13
PB FORKI

GGK Indonesia Diperkuat, PB FORKI Siapkan Program Bela Diri untuk Perempuan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:35
elkan

Elkan Baggott Usai Indonesia Juara: Kami adalah Raja Asia Tenggara

Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:07

BERITA POPULER

  • Todotua

    Asian Games 2026 Ditutup Manis, Kontingen Indonesia Bawa Pulang 39 Medali dan Catat Hasil Optimal

    2714 shares
    Share 1086 Tweet 679
  • Cetak 5 Gol ke Gawang Bangladesh, Mitchell Baker Samai Rekor Iswadi Idris

    1212 shares
    Share 485 Tweet 303
  • Jelang Final, Jay Idzes Terus Suntikkan Semangat untuk Skuad Garuda

    980 shares
    Share 392 Tweet 245
  • Firli Bahuri Raih Doktor, Tawarkan Model Baru Penyelesaian Konflik Sosial

    974 shares
    Share 390 Tweet 244
  • Pernyataan SBY Gugatan PHPU Salah Alamat, Analis: MK Bisa Nilai Keabsahan Pencalonan Gibran

    873 shares
    Share 349 Tweet 218
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.