• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Perubahan Budaya secara Langsung Menggerus Karakter Bangsa, Perlu Langkah Konkret dan Aksi Nyata Jaga Keutuhan Budaya

Laurens Dami Editor Laurens Dami
Minggu, 2 Juni 2024 - 08:08
in Nasional
ddco

Dompet Dhuafa dan Bina Trubus Swadaya melaksanakan kegiatan Fokus Group Diskusi dengan mengangkat judul: “Revitalisasi Cerlang Budaya Lokal Dalam Membangun Karakter Bangsa sebagai Sarana Pemberdayaan Masyarakat,” di Jakarta, pada Rabu (29/5/2024). (Dok. Dompet Dhuafa)

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Dompet Dhuafa dan Bina Trubus Swadaya melaksanakan kegiatan Fokus Group Diskusi dengan mengangkat judul: “Revitalisasi Cerlang Budaya Lokal Dalam Membangun Karakter Bangsa sebagai Sarana Pemberdayaan Masyarakat,” di Jakarta, pada Rabu (29/5/2024).

Pada sambutanya, Parni Hadi selaku Inisiator dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika, mengatakan, bangsa Indonesia punya Pancasila yang luhur, agung dan indah. Tapi seperti tidak ada dampaknya secara nyata, maka apa yang salah. Jangan-jangan bangsa ini hanya pandai bicara saja, bisa berbicara tapi tidak bisa melaksanakan.

BacaJuga:

Kalimantan Membara, BPGMN Targetkan Penurunan Karhutla Secara Bertahap

Konser Andrea Bocelli Tuai Sorotan, Legislator Tekankan Solidaritas Palestina

Revitalisasi 2026 Sasar 35.769 Sekolah Melalui Swakelola, Ditargetkan Rampung Akhir Tahun

Parni juga mengungkapkan Dompet Dhuafa telah berbuat untuk membangun bangsa dan karakter bangsa. Tapi inisiator Dompet Dhuafa ini mengungkapkan kesedihannya.

“Saya kok sedih, saya sedih. Tatkala korupsi, tatkala culas, bohong, curang, dan mementing kepentingan pribadi daripada kepentingan bangsa dan negara, sudah menjadi hal biasa, tatkala ideologi sudah jadi basa basi, menurut saya itu tanda kemerosotan budi pekerti (bangsa),” kata Parni Hadi.

Parni Hadi juga menyinggung soal tingkat kemiskinan yang belum menurun. Dia pun berharap agar FGD ini menghasilkan sesuatu yang kongkrit dan dapat diaplikasikan. Parni juga menyinggung soal mental korup dan menandakan kemorosotan budi pekerti. Jumlah orang miskin tidak berkurang, masih banyak jumlahnya, ingin memberantas kemiskinan, tapi kok masih banyak yang miskin, apa yang salah? (padahal) kita punya Pancasila.

“Maka mari bedah dan bongkar pada fokus grup diskusi hari ini, kemudian melahirkan langkah konkret, bisa diterima dan dipraktikan. Selanjutnya bisa dicoba dilaksanakan, sebab di Indonesia sudah banyak yang bicara dan tulisan. Mungkin tulisan hasil penelitian jika ditumpuk sudah sampai langit, tapi tidak dilaksanakan dalam kehidupan nyata,” tambah Parni.

Sementara, Pendiri dan Pembina Trubus Bina Swadaya Bapak Bambang Ismawan dalam sambutannya membocorkan rahasia panjang umur Trubus Bina Swadaya (TBS) yang masih tetap eksis melakukan pemberdayaan para petani miskin di daerah sejak empat dekade lalu.

Menurutnya, permasalahan kemiskinan sangat dinamis dan masih terus menjadi momok di Indonesia. Maka, selama masih ada kemiskinan, TBS masih tetap relevan berperan melakukan pemberdayaan. Meski pun sudah malang melintang di dunia pemberdayaan petani miskin selama 40 tahun lebih, Bambang Ismawan mengatakan, pihaknya selalu membuka diri untuk belajar dan bekerjasama dengan siapa pun.

Sambutan juga disampaikan Ketua Dewan Pembina Suluk Nusantara Bapak Bambang Wiwoho. Ia memaparkan tentang globalisasi yang telah menggempur nasionalisme dan peradaban bangsa Indonesia.

Globalisasi ini banyak melahirkan sifat negatif seperti berkembangnya budaya hedonisme, pragmatis dan egois. Maka, ia sangat menghargai upaya Dompet Dhuafa dan Trubus Bina Swadaya yang menyelenggarakan forum diskusi untuk mencari solusi menyelesaikan permasalahan budaya anak bangsa.

Rahmad Riyadi selaku Ketua Pelaksana Fokus Grup Diskusi, disela acara tersebut menuturkan kegiatan FGD ini diperlukan untuk memahami perubahan budaya, dan mengantisipasi masuknya budaya budaya asing.

Tidak hanya itu, budaya kuliner pun turut disinggung. Seperti misalnya masakan rendang yang pernah dinobatkan menjadi makanan paling enak di dunia. Menurutnya, paparan globalisasi dan teknologi pun turut berperan dalam mengikis budaya nasional.

Pada sesi pertama dihadiri Dr. Restu Gunawan selaku Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republika Indonesia, Prof. Nurhayati Rahman dari Universitas Hasanudin, Garin Nugroho Riyanto selaku Praktisi Seni Film dan Yudi Latif selaku Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika dengan moderator Wahyu Wiwoho.

Saat pemaparannya, Restu Gunawan mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat kaya bahkan tidak sedikit yang sudah diakui sebagai warisan budaya dunia seperti batik dan makanan rendang.

Sayangnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang rendah diri dalam menonjolkan kebudayaannya di kehidupan sehari-hari. Misalnya saja, masyarakat Indonesia masih kurang percaya diri dalam mengenakan batik untuk acara-acara berskala internasional atau masih lebih percaya obat-obatan dan suplemen kimia dibandingkan mengonsumsi jamu untuk menjaga kesehatan. Padahal, batik dan jamu merupakan dua kebudayaan Indonesia yang sudah diakui dunia.

Maka, untuk memperbaiki permasalahan budaya, kita harus mengubah paradigma pola berpikir kita tentang kebudayaan, bahwa kebudayaan merupakan investasi bangsa. Kebudayaan adalah tuntunan hidup yang bisa menjadi tontonan dan kebudayaan bukan hanya bagian dari masa lalu, tapi juga masa kini dan masa depan.

Pembicara kedua, Prof. Dr. Nurhayati Rahman mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki karya sastra terpanjang di dunia bahkan lebih panjang dari epik India, Mahabarata dan Ramayana. Karya sastra ini adalah La Galigo. Bagi sebagian masyarakat Bugis yang menganut kepercayaan Tolotang, La Galigo bahkan dianggap sebagai kitab suci.

La Galigo yang digubah pada masa pra-Islam disampaikan turun temurun melalui bahasa lisan atau dengan cara bertutur. Karya sastra ini juga dipertunjukkan dengan cara ditembangkan. Sayangnya, menurut Nurhayati, saat ini hanya tinggal satu orang yang bisa menembangkan La Galigo dengan baik.

Selanjutnya, Garin Nugroho menilai Indonesia sedang krisis humaniora yang menyebabkan lunturnya nilai-nilai budaya di antara anak bangsa. Ini terjadi salah satunya karena konfigurasi kepemimpinan di Indonesia tidak melibatkan tokoh-tokoh yang ahli dalam bidang humaniora. Jika humaniora hilang, maka hal-hal yang menyangkut budaya lokal juga tidak akan terlindungi.

Sementara, Yudi Latif memandang, masyarakat Indonesia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menyerap kebudayaan asing dan mengombinasikannya dengan kebudayaan lokal. Hal ini, misalnya terlihat dari relief-relief di dalam Candi Borobudur yang menggabungkan unsur kebudayaan India dan kebudayaan lokal.

Kemampuan menyerap ini memerlukan dua prasyarat, yaitu penalaran krisis dan terbuka sehingga kita bisa mengambil apa yang datang dari luar secukupnya saja. Seharusnya kemampuan inilah yang perlu kembali dikembangkan oleh masyarakat Indonesia agar bisa tetap menerima arus informasi dari luar namun tetap bisa menjaga kearifan lokal.

Pada sesi kedua dihadiri G.K.R Mangkubumi dari Keraton Yogyakarta, Maria Loreta dari Yayasan Agro Sorgum Flores, Andi Makmur Makka selaku Pangadareng dan Ilham Khoiri dari Bentara Budaya Kompas dengan moderator Facthuri Rosidin.

Pada pemaparannya, GKR Mangkubumi menilai, teknologi digital yang memudahkan orang untuk berkomunikasi dari tempat yang berbeda sudah sangat menguasai masyarakat. Padahal, sebagai orang timur aktivitas utama masyarakat Indonesia adalah bersosialisasi. Maka, perlu dipikirkan solusi bagaimana kita bisa tetap mengadopsi teknologi digital tanpa terbawa arus negatif globalisasi.

GKR Mangkubumi juga mengungkapkan jika dahulu hal yang berkaitan dengan adat lebih banyak dibahas dalam lingkup keraton, kini pihaknya mulai membuka permasalahan adat lebih luas sebagai wawasan kepada masyarakat bahwa kita memiliki budaya yang perlu dilestarikan. Sebab, budaya adalah identitas, rasa percaya diri, rasa bangga sehingga jangan sampai identitas hilang tergerus zaman.

GKR Mangkubumi menambahkan, budaya Jawa menekankan pada mendahulukan kewajiban tanpa menanyakan haknya. Budaya Jawa juga menekankan pada keharmonisan dan kedamaian juga memanusiakan manusia yang menimbulkan kepekaan rasa. Maka, sebagai orang timur, kita harus peka terhadap rasa yang kita olah.

Pembicara lainnya, Maria Loreta menuturkan bagaimana ia berjuang membangkitkan kembali budaya lama masyarakat Nusa Tenggara Timur dalam mengonsumsi makanan dari sorgum.

Meski pemerintah menekankan untuk membudidayakan padi, jagung dan kedelai, Maria merasa ketiga tanaman ini tidak cocok di tanam pada kontur tanah NTT yang keras dan kering. Maka ia nekat terus mengembangkan sorgum hingga saat ini masyarakat NTT bisa berdaulat pangan meski harga beras kian melambung. Dalam budidaya sorgum, Maria juga masih menjaga kearifan lokal sehingga tanpa menerapkan ilmu pertanian yang baku, upayanya mengembangkan sorgum bisa tercapai.

Sementara pada kesempatan tersebut Andi Makmur Makka memaparkan perbedaan antara etnis Bugis dan Makassar. Meski sama-sama berada di Sulawesi Selatan, ternyata kedua etnis ini memiliki latar belakang dan karakter yang berbeda. Etnis Bugis, menurut Andi Makmur Makka berpusat di Bone sementara etnis Makassar pusatnya di Gowa. Keduanya berasal dari kerajaan besar di masa lalu, Bone dan Gowa.

Menurutnya, latar belakang etnis Makassar adalah penakluk karena itulah di masa lalu mereka memelihara angkatan perang yang kuat. Sementara, etnis Bone memiliki karakter selalu bekerjasama dengan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya. Namun, perbedaan antara kedua etnis tersebut lama-kelamaan pudar karena perkawinan yang terjadi di antara masyarakat dari kedua etnis.

Pembicara terakhir dalam diskusi ini adalah Ilham Khoiri yang merupakan GM Bentara Budaya Kompas Gramedia. Ia menjelaskan tentang sangat rendahnya budaya membaca di Indonesia. Indeks literasi Indonesia sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Pendidikan di Indonesia juga sepertinya belum menjadi prioritas, terbukti dengan adanya kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang belakangan menjadi polemik.

Di sisi lain, media sebagai watchdog atau alat sebagai alat pengontrol kekuasaan sekarang juga sedang terseok-seok. Akibatnya sulit mendapatkan informasi yang terverifikasi atau cover all side.

Ilham menambahkan, saat ini kita banyak terkecoh dalam era post-truth media sosial di mana orang tidak mencari kebenaran tapi mencari pembenaran. Hoax pun bertebaran di mana-mana. Akibatnya masyarakat kita banyak mengalami masalah psikologi dalam media sosial, di antaranya gejala phubbing yaitu mengabaikan orang lain karena kecanduan media sosial. Masyarakat Indonesia juga dinilai sedang mengalami krisis identitas.

Tentang Dompet Dhuafa

Dompet Dhuafa adalah lembaga filantropi islam yang berkhidmat dalam pemberdayaan kaum dhuafa dengan pendekatan budaya, welasasih (filantropis) dan wirausaha sosial. Sudah berjalan lebih tiga dekade (30 tahun), Dompet Dhuafa berkontribusi menghadirkan layanan bagi pemberdayaan dan pengembangan umat melalui lima pilar program yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial kebencanaan, dakwah dan budaya, serta CSR. (adv)

Tags: karakter bangsaKeutuhan BudayaPerubahan Budaya

Berita Terkait.

bpgmn
Nasional

Kalimantan Membara, BPGMN Targetkan Penurunan Karhutla Secara Bertahap

Jumat, 16 Oktober 2026 - 00:30
andrea
Nasional

Konser Andrea Bocelli Tuai Sorotan, Legislator Tekankan Solidaritas Palestina

Kamis, 15 Oktober 2026 - 22:12
revitalisasi
Nasional

Revitalisasi 2026 Sasar 35.769 Sekolah Melalui Swakelola, Ditargetkan Rampung Akhir Tahun

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:08
mega
Nasional

DPD RI Ajak Pelajar Bahas Kebijakan Publik hingga Isu Lingkungan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:06
ut
Nasional

Pemanfaatan AI di Dunia Pendidikan Berkembang Pesat, Warek UT: Kami Terapkan dalam Pembelajaran

Kamis, 15 Oktober 2026 - 15:25
Jurnalisme di Era AI: Produksi Bisa Cepat, Verifikasi Jangan Sampai Terlewat
Nasional

Jurnalisme di Era AI: Produksi Bisa Cepat, Verifikasi Jangan Sampai Terlewat

Kamis, 15 Oktober 2026 - 13:22

OLAHRAGA

esi
Olahraga

PB ESI 2026–2030 Fokus Ubah Potensi Generasi Digital Jadi Prestasi Dunia

Editor Laurens Dami
Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:07

INDOPOSCO.ID - Pengurus Besar Esports Indonesia (PB ESI) resmi melantik kepengurusan baru untuk masa bakti 2026–2030. Langkah itu menjadi momentum...

SelengkapnyaDetails
Gempa Bumi Getarkan Banyumas di Jawa Tengah, Pusat Episenter 25 Km dari Kota

Hasil Liga Champions: Liverpool Pesta Gol, PSG Mengamuk di Markas City

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:57
Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Mandalika Mendunia, Pertamina Apresiasi Kolaborasi di Balik Sukses MotoGP 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:51
Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:40
Tobat Ekologis, Menag Ajak Umat Bersahabat dengan Alam

5 Emas Asian Games Jadi Alarm Evaluasi, Okto Dorong Pembenahan Sistem Olahraga

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:30

BERITA POPULER

  • Daftar Harga Mobil Elektrifikasi Wuling 2026, dari Aira EV hingga Wuling Darion EV

    Daftar Harga Mobil Elektrifikasi Wuling 2026, dari Aira EV hingga Wuling Darion EV

    945 shares
    Share 378 Tweet 236
  • Gempa Bumi Getarkan Banyumas di Jawa Tengah, Pusat Episenter 25 Km dari Kota

    930 shares
    Share 372 Tweet 233
  • Gandeng Musisi Tanah Air, Kemendikdasmen Kian Menggelorakan Lagu Anak Lewat KICAU

    741 shares
    Share 296 Tweet 185
  • Pengusaha Pilihan

    727 shares
    Share 291 Tweet 182
  • Darion dan Eksion PHEV Wuling Raih Pengakuan di FCR 2026

    890 shares
    Share 356 Tweet 223
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.