• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Politik

Perlu Kepemimpinan Komitmen Kuat Lawan Oligarki

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Rabu, 24 Mei 2023 - 02:22
in Politik
kpu

Ilustrasi - Suasana pencoblosan pemilihan umum (Pemilu) 2019 di TPS jalan Kalimantan, Makassar, Sulawesi Selatan. Foto: Antara/Darwin Fatir/am

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Firman Noor, menegaskan diperlukan kepemimpinan nasional yang berkomitmen kuat untuk melawan oligarki dan memperkuat kelembagaan partai politik guna mencegah berlanjut-nya situasi stagnasi demokrasi yang saat ini ditengarai terjadi di Indonesia.

“Kita membutuhkan pemimpin atau jajaran pemimpin yang punya komitmen kuat, pertama untuk melawan oligarki, dan yang kedua komitmen untuk membantu memperkuat kelembagaan partai politik,” kata Firman dalam webinar Asosiasi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bertajuk “Vote Minus Voice: Urgensi Penguatan Kapasitas Lembaga Demokrasi”, di Jakarta, Selasa (23/5).

BacaJuga:

Baleg DPR Soroti E-Voting sebagai Langkah Besar Reformasi Pemilu Indonesia

Dapat 40 Dukungan, Wakil Ketua DPR Sari Yuliati Mantap Daftar Bakal Calon Ketum PPK Kosgoro 1957

DPD RI Dorong Percepatan Pembahasan RUU Pemilu, Tekankan Pentingnya Perspektif Daerah

Firman menuturkan hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil mengingat ada catatan bahwa kepimpinan nasional pascareformasi mampu menggalang kekuatan koalisi partai politik (parpol) pendukungnya, untuk mewujudkan rencana kerjanya.

Oleh karena itu ke depan, Firman berharap ada pemimpin nasional yang kuat dengan komitmen untuk memperbaiki parpol dan itu akan didukung oleh koalisi parpol pengusung.

“Sehingga ada gelombang besar dari sisi leadership untuk memperbaiki negara ini, dengan melawan oligarki dan memperkuat partai politik,” ujarnya, seperti dikutip dari Antara.

Partai politik diyakini menjadi salah satu elemen penting dalam mewujudkan hak pilih yang ditunaikan dari bilik pemilu menjadi suara dalam penyelenggaraan negara.

Oleh karena itu penguatan pelembagaan partai politik penting guna menghindari cengkeraman oligarki, yang menurut Firman banyak ditemui dalam penelitian-penelitian yang dilakukannya.

Dalam webinar tersebut, Firman, yang saat ini tengah menjadi Visiting Fellow Researcher di Lund University, Swedia, memaparkan materi-nya yang bertajuk “Oligarki, Partai Politik, dan Kemunduran Demokrasi”.

Firman mengawali paparannya dengan menyampaikan pengalamannya melakukan penelitian ke sebuah parpol di Padang, Sumatera Barat, pada 2001, dan menemukan bahwa kepengurusan di sana tersebut menjadi replika kepengurusan pusat yang kebanyakan akademisi dan/atau aktivis sosial.

Akan tetapi, ketika melakukan penelitian lanjutan dua tahun berselang, Firman mendapati pengurus generasi awal sudah tidak lagi terlihat dan justru digantikan orang-orang yang sebelumnya hanya berada di level sekunder, yang kebanyakan adalah pengusaha lokal.

Temuan Firman sejalan dengan fenomena politik nasional yang dituangkan Ketua Umum Partai Golkar 1998-2004 sekaligus Ketua DPR 1999-2004, Akbar Tandjung, melalui disertasi-nya yang belakangan diterbitkan sebagai “The Golkar Way”.

Firman menuturkan dalam “The Golkar Way”, tergambar-kan terjadinya faksionalisasi di tubuh Partai Golkar yang terbagi menjadi tiga kelompok yakni Struktural di bawah Akbar Tandjung, Tradisional di bawah Wiranto, dan Saudagar di bawah Jusuf Kalla.

“Ternyata yang memenangkan pertarungan adalah kaum saudagar. Dan saya amati setelah itu tren yang terjadi adalah kebanyakan partai-partai oleh pimpinan yang punya latar belakang pengusaha, termasuk partai yang saya teliti di Padang itu,” ujarnya.

Menurut Firman tren tersebut berlangsung sampai saat ini dan nyaris tidak ada peralihan lagi, sejalan dengan pendapat ilmuwan politik Amerika Serikat, Jeffrey A. Winters, bahwa selepas oligarki sultanistik era Orde Baru berakhir justru menciptakan model baru yakni oligarki ruling collective.

Oligarki sultanistik adalah keadaan yang terjadi karena adanya monopoli sarana pemaksaan oleh satu oligark, sedangkan oligarki ruling collective adalah kepemimpinan bersama yang secara sadar mulai mendekati partai-partai politik guna menjaga kepentingan dan keuntungan.

Firman meyakini bahwa oligarki berbasis ekonomi lebih banyak mendominasi kepemimpinan partai-partai politik di Indonesia disebabkan antara lain kesenjangan kualitas pemimpin, pilihan rasional, lingkungan politik yang pragmatis dan mahal, menguat-nya peran pebisnis dalam politik, serta ketimpangan ekonomi yang tinggi.

Kondisi tersebut membuat pergeseran peran kalangan pengusaha dari sekadar menjadi elemen penyokong, menjadi pemimpin, bahkan akhirnya mendirikan parpol di Indonesia.

Dampak jangka panjang dari itu adalah pembajakan kehidupan demokrasi bahkan stagnasi demokrasi.

Selain parpol, AIPI menyoroti upaya mengkonversi hak pilih menjadi suara dalam penyelenggaraan negara juga memerlukan perbaikan dalam tiga aspek lain yakni penyelenggara pemilu, lembaga perwakilan, dan penguatan partisipasi publik. (mg1)

Tags: AIPIAsosiasi Ilmu Pengetahuan IndonesiaBRINfirman noorkepemimpinanPartai Golkarpemilupilpres

Berita Terkait.

Ahmad Doli Kurnia Tandjung
Politik

Baleg DPR Soroti E-Voting sebagai Langkah Besar Reformasi Pemilu Indonesia

Kamis, 4 Juni 2026 - 20:45
Sari Yuliati
Politik

Dapat 40 Dukungan, Wakil Ketua DPR Sari Yuliati Mantap Daftar Bakal Calon Ketum PPK Kosgoro 1957

Kamis, 4 Juni 2026 - 20:32
Menjelajahi Keindahan Bali dalam Semangat Kebersamaan Pengguna V-Strom 250SX
Politik

DPD RI Dorong Percepatan Pembahasan RUU Pemilu, Tekankan Pentingnya Perspektif Daerah

Rabu, 3 Juni 2026 - 03:21
Pasca-Kebakaran Kemayoran: 679 Orang Mengungsi, Anak dan Bumil Diutamakan
Politik

E-Voting Belum Mendesak, Leilsator Komisi II Dorong E-Counting untuk Percepat Penghitungan Suara

Selasa, 2 Juni 2026 - 22:04
“Kemesraan” Prabowo dengan Megawati dan Jokowi Turun Gunung, Pengamat: Pemain Utama Politik Mulai Menentukan Posisi
Politik

“Kemesraan” Prabowo dengan Megawati dan Jokowi Turun Gunung, Pengamat: Pemain Utama Politik Mulai Menentukan Posisi

Selasa, 2 Juni 2026 - 21:04
Habiburokhman: Kritik Dino Patti Djalal Kurang Konstruktif dan Minim Dasar Faktual
Politik

Bawaslu Ingin Penguatan Tata Kelola Digital Pemilu 2027, Komisi II: Tangkal Disinformasi

Selasa, 2 Juni 2026 - 18:32

BERITA POPULER

  • Timnas-U19

    Piala AFF U-19: Pastikan Rotasi Kontra Timor Leste, Nova Minta Garuda Muda Nikmati Laga

    2042 shares
    Share 817 Tweet 511
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    1140 shares
    Share 456 Tweet 285
  • AFF U-19: Indonesia Cukur Timor Leste, Persaingan Puncak Klasemen Makin Panas

    982 shares
    Share 393 Tweet 246
  • Malam Ini Indonesia vs Myanmar di Piala AFF U-19: Langkah Awal Pertahankan Mahkota

    953 shares
    Share 381 Tweet 238
  • Film “Pesta Babi” dan “Teman Tegar Maira”, DPD RI: Itu Suara Kesadaran tentang Papua

    3530 shares
    Share 1412 Tweet 883
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.