INDOPOSCO.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan melemah dipicu rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS).
Rupiah pada Senin (8/8) pagi ini melemah 36 poin atau 0,24 persen ke posisi Rp14.930 per USD dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.894 per USD.
“Untuk awal pekan ini, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh rilis data non farm payroll yang lebih tinggi dari perkiraan,” kata analis Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Revandra Aritama di Jakarta, Senin (8/8).
Baca Juga : Tren Kenaikan Inflasi Domestik, Rupiah Melempem
Data ketenagakerjaan nonpertanian atau non farm payrolls (NFP) AS dilaporkan mencapai 528.000 tenaga kerja, lebih tinggi dibandingkan konsensus 250 ribu tenaga kerja.
“Hal ini menjadi sentimen positif bagi USD, sehingga mampu memberi tekanan pada rupiah,” tutur Revandra, seperti dikutip Antara.
Laporan data ketenagakerjaan Negeri Paman tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan adanya kenaikan suku bunga yang lebih besar oleh bank sentral AS The Fed.
Pelaku pasar dengan cepat bergerak memperkirakan sekitar 70 persen kemungkinan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin pada September.
Data ketenagakerjaan yang kuat meningkatkan taruhan untuk laporan harga konsumen AS pada Juni yang akan dirilis pada Rabu (10/8) nanti, yang dapat melihat sedikit kemunduran dalam pertumbuhannya, tetapi kemungkinan percepatan lebih lanjut dalam inflasi inti.
Revandra memprediksi pada Senin (8/8) ini rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp14.850 per USD hingga Rp14.950 per USD.
Pada Jumat (5/8/2022) lalu, rupiah ditutup menguat 39 poin atau 0,26 persen ke posisi Rp14.894 per USD dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.933 per USD.(mg1)











