• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Headline

Diplomasi Jokowi dan Pilihan Baju Adat Badui

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Senin, 16 Agustus 2021 - 23:25
in Headline
Presiden Jokowi mengenakan baju adat Badui dalam sidang tahunan di Senayan, Jakarta, Senin (16/8/2021). (Biro Pers Setpres)

Presiden Jokowi mengenakan baju adat Badui dalam sidang tahunan di Senayan, Jakarta, Senin (16/8/2021). (Biro Pers Setpres)

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Sejak kemunculannya dalam kancah perpolitikan nasional, sosok Joko Widodo (Jokowi) selalu tampak menerapkan politik simbol. Ia bermain-main dengan filosofi dalam wujud simbol-simbol yang jika dimaknai kerap kali merupakan sindiran yang dalam terutama bagi lawan-lawan politiknya.

Boleh jadi hal itu menjadi ciri orang Jawa tulen yang senantiasa meminjam istilah kesantunan untuk tidak secara frontal dalam menyampaikan sesuatu. Tak terkecuali dalam hal pemilihan baju yang dikenakannya. Jokowi tak pernah sembarangan memilih segala apa yang dikenakannya.

BacaJuga:

Peserta SPPI Meninggal Bertambah Jadi 5 Orang, Begini Penjelasan Kemenhan

Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026, Prabowo: Kampus Harus Jadi Motor Kebangkitan Bangsa

Cemburu Jadi Motif Dugaan Penyiksaan Brutal Perempuan di Bandung, Korban Disundut Rokok hingga Dipukul Besi

Ia mencermati satu per satu setiap hal yang dipakainya termasuk untuk menunjukkan citra kesederhanaan yang dipilihnya sejak awal. Baju adat Badui hanya satu dari sekian banyak yang telah dipilih Jokowi sebagai caranya berdiplomasi kultural dengan masyarakat di pedalaman Banten.

Sekretaris Pribadi Presiden Anggit Nugroho saat dikonfirmasi terkait alasan di balik pemilihan baju adat Suku Badui tersebut mengatakan, Presiden Jokowi memilihnya lantaran desainnya sederhana, simpel, dan nyaman dipakai.

Selain itu, baju tersebut dipilih dari sekian banyak baju adat di Indonesia karena dianggap Jokowi sangat sesuai sesuai dengan kondisi Indonesia yang saat sedang menghadapi Pandemi Covid-19. Jokowi melihat dalam baju tersebut ada makna tentang kesederhanaan, kemandirian, ramah alam, dan pesan kearifan lokal.

Anggit menceritakan awal mula Jokowi memilih baju adat Badui saat akan menyampaikan pidato kenegaraannya dalam sidang tahunan di Senayan, Jakarta. Ia mengaku mendapatkan tugas setiap tahunnya untuk menyiapkan pakaian adat dari daerah-daerah di seluruh Nusantara. Setelah itu Presiden akan memilih dengan berbagai pertimbangan yang diprioritaskan memang dari daerah-daerah yang belum pernah ditampilkan.

Khusus untuk tahun ini, lanjut Anggit, Presiden meminta pakaian adat yang sederhana saja, tidak terkesan festive (meriah), mengingat kondisi negara sedang menghadapi Pandemi Covid-19.

Tim Sespri pun menyiapkan delapan pakaian adat dari lima daerah. Dari situ dipilih dua pakaian adat untuk pidato kenegaraan dan upacara 17 Agustus 2021. Setelah dipilih dan ditentukan, baju adat pun dibuat sesuai ukuran dan kali ini memang asli dibuat oleh masyarakat Badui dan tanpa modifikasi apapun.

Jaro Saija, Tetua Masyarakat Adat Badui yang menyiapkan sendiri baju itu. Sebelumnya Tim Sespri menyampaikan pesanan melalui telepon dan beberapa hari kemudian pesanan baju adat itu pun diambil.

Sejumlah tokoh Banten menyambut baik pilihan Jokowi untuk mengenakan baju adat Suku Badui dalam pidato kenegaraan 16 Agustus 2021. Ini dianggap sebagai kode dan politik simbol Jokowi sekaligus diplomasi budaya mengingat Suku Badui selama ini memang dikenal sebagai masyarakat adat yang sangat rendah hati, ramah, pekerja keras, dan sangat menjaga keselarasan dengan alam.

Kearifan kuno dari Suku Badui misalnya bahwa mereka selalu memilih kesederhanaan dan warna-warna selaras alam sebagai cerminan dari ilmu bumi atau “saipi bumi” (tanah).

Banyak budayawan kemudian menarik pelajaran dari masyarakat Badui yang dianggap sebagai pewaris tradisi keilmuan yang membumi dan senantiasa menjaga keselarasannya. Dalam keselarasan dengan bumi ada tiga elemen dasar yang terkandung di dalamnya yakni perihal kehidupan, keteraturan, dan kedamaian.

Hal-hal itulah yang dipercaya akan diterapkan Jokowi dalam sisa pemerintahannya beberapa tahun ke depan. Bagi mereka yang paham dengan cara berpikir dan bekerja Jokowi maka akan tahu benar kode-kode yang disampaikan melalui pemilihan baju adat ini.

Dilenglapi Tas Koja

Baju adat Badui yang dikenakan Jokowi tampak dilengkapi dengan tas unik yang kerap disebut koja. Tas diketahui terbuat dari serat pohon dan merupakan aksesori satu kesatuan dengan pakaian adatnya.

Sebenarnya ada satu lagi aksesori yang biasanya ada, yakni golok, namun tidak dipakai karena berdasarkan pertimbangan Paspampres terkait keamanan. Presiden Jokowi pun sempat diperbincangkan memakai sandal saat pidato kenegaraan dan harus diakui memang merupakan pertama kali dilakukan dalam sejarah pidato kenegaraan.

Pada 2019, Presiden Jokowi tercatat pernah memakai selop ketika memakai baju adat dari suku sasak NTB. Di tahun yang sama, Presiden Jokowi juga memakai selop ketika menggunakan pakaian adat Bali saat upacara pengibaran bendera Merah Putih.

Khusus tahun ini dengan mengenakan baju adat Badui, Deputi II Kantor Staf Presiden (KSP) Bidang Pembangunan Manusia Abetnego Tarigan menilai Presiden Joko Widodo tidak hanya sedang mengapresiasi keluhuran nilai-nilai adat dan budaya suku Badui, namun juga menangkal stigma negatif terhadap Suku Badui.

”Presiden mengangkat ke tingkat paling tinggi di salah satu acara kenegaraan. Hal ini dapat dimaknai sebagai cara presiden untuk menghentikan stigma dan makna negatif dari penyebutan Suku Badui,” ujarnya dilansir Antara.

Pihak KSP pun menganggap bahwa langkah Presiden untuk menggunakan pakaian adat dan mengangkat kebudayaan suku Badui dalam acara kenegaraan ini merupakan suatu inisiatif yang baik dalam menekankan kebhinekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebutan “Badui” sendiri merupakan sebutan yang disematkan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat adat sub-Sunda yang tinggal di wilayah Lebak, Banten. Namun penyebutan Suku Badui cenderung mengarah pada makna peyorasi karena kaitan sejarahnya sebagai produk era kolonial Belanda. Para kolonial secara gegabah mengidentifikasi Suku Badui layaknya Suku Badawi di tanah Arab yang hidup secara nomaden.

Walaupun kelompok masyarakat ini menyebut dirinya sebagai Urang Kanekes, namun dalam perkembangannya, istilah Badui kini tidak lagi bersifat peyoratif karena penyebutannya oleh banyak orang tanpa ada niatan untuk merendahkan.

Hilman Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), mengatakan istilah Badui dilekatkan pada mereka oleh orang luar dan terus berlanjut sampai sekarang. Tapi saat ini semua pun kadang memakai istilah ‘Badui’ karena sangat sering digunakan dan tidak dengan maksud merendahkan.

Dan kini, tibalah pada momen ketika Jokowi tampak kembali menggunakan politik simbol tahun ini. Di akhir pidatonya, ia menyatakan rasa sukanya pada pakaian adat Suku Badui yang disebutnya sederhana, simpel, dan nyaman dipakai.

Jokowi bahkan menyebut langsung nama tokoh Badui yang telah menyiapkan secara khusus baju adat tersebut untuknya, Jaro Saija. Adakah keinginan Jokowi untuk mengambil hati masyarakat adat yang masih begitu patuh pada sabda alam?

Sementara masih ada masyarakat Badui yang enggan melakukan vaksinasi namun jika Presiden mereka meyakinkan dengan menjadi bagian dari adat, penolakan-penolakan yang ada barangkali hanya akan menjadi riak-riak kecil belaka. Baju adat pun kemudian menjadi diplomasi kultural yang barangkali sudah lama terlupakan namun kini hidup kembali di tangan Jokowi sebagai solusi dalam berkomunikasi simbol yang kerap kali efektif. (aro)

Tags: baduiBaju AdatJokowi

Berita Terkait.

Peserta SPPI Meninggal Bertambah Jadi 5 Orang, Begini Penjelasan Kemenhan
Headline

Peserta SPPI Meninggal Bertambah Jadi 5 Orang, Begini Penjelasan Kemenhan

Sabtu, 27 Juni 2026 - 15:38
Sediakan Payung yuk, Hari Ini Sebagian Wilayah Jakarta Berpotensi Diguyur Hujan
Headline

Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026, Prabowo: Kampus Harus Jadi Motor Kebangkitan Bangsa

Sabtu, 27 Juni 2026 - 09:31
Cemburu Jadi Motif Dugaan Penyiksaan Brutal Perempuan di Bandung, Korban Disundut Rokok hingga Dipukul Besi
Headline

Cemburu Jadi Motif Dugaan Penyiksaan Brutal Perempuan di Bandung, Korban Disundut Rokok hingga Dipukul Besi

Jumat, 26 Juni 2026 - 22:24
Kekejaman Taufik Hidayat: Aniaya Perempuan di 4 TKP Berbeda, Korban Alami Kebutaan
Headline

Fakta Mengejutkan! Tersangka Penganiayaan Brutal Perempuan di Bandung Ternyata Residivis Kasus Serupa

Jumat, 26 Juni 2026 - 19:43
Trunoyudo
Headline

Polri Mutasi 1.121 Personel, Kapolda Aceh dan Papua Barat Daya Berganti

Jumat, 26 Juni 2026 - 12:02
gempa
Headline

Gempa Dahsyat Guncang Venezuela: 164 Meninggal, Hampir 1.000 Orang Luka-luka

Kamis, 25 Juni 2026 - 19:03

BERITA POPULER

  • Ronaldo

    Hasil Piala Dunia: Ronaldo Pimpin Portugal Berpesta, Inggris Kehilangan Taji di Hadapan Ghana

    1722 shares
    Share 689 Tweet 431
  • Hasil Piala Dunia: Portugal Libas Uzbekistan 5-0, Martinez Sanjung Habis Cristiano Ronaldo

    1686 shares
    Share 674 Tweet 422
  • Hasil Piala Dunia 2026: Kalah Telak dari Prancis, Pelatih Norwegia Sengaja Simpan 10 Pemain Andalan

    1424 shares
    Share 570 Tweet 356
  • Hasil Piala Dunia Grup F: Jepang-Swedia Dampingi Belanda ke Fase Gugur

    1080 shares
    Share 432 Tweet 270
  • Piala Dunia 2026: Nagelsmann Ungkap Penyebab Kekalahan Jerman dari Ekuador

    997 shares
    Share 399 Tweet 249
Tak Gentar Lawan Argentina, Tanjung Verde Optimistis Tatap Babak 32 Besar Piala Dunia
Olahraga

Tak Gentar Lawan Argentina, Tanjung Verde Optimistis Tatap Babak 32 Besar Piala Dunia

Editor Dilianto
Sabtu, 27 Juni 2026 - 14:18

INDOPOSCO.ID - Timnas Tanjung Verde akan berhadapan dengan Timnas Argentina pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 yang berlangsung di...

SelengkapnyaDetails
Hasil Piala Dunia : Tanjung Verde Lolos 32 Besar, Deroy Duarte: Rasanya Seperti Bermimpi

Hasil Piala Dunia : Tanjung Verde Lolos 32 Besar, Deroy Duarte: Rasanya Seperti Bermimpi

Sabtu, 27 Juni 2026 - 13:16
Hasil Piala Dunia : Uruguay Angkat Koper dari Piala Dunia 2026, Marcelo Bielsa Kecewa Berat

Hasil Piala Dunia : Uruguay Angkat Koper dari Piala Dunia 2026, Marcelo Bielsa Kecewa Berat

Sabtu, 27 Juni 2026 - 11:43
Hasil Piala Dunia 2026: Kalah Telak dari Prancis, Pelatih Norwegia Sengaja Simpan 10 Pemain Andalan

Hasil Piala Dunia 2026: Kalah Telak dari Prancis, Pelatih Norwegia Sengaja Simpan 10 Pemain Andalan

Sabtu, 27 Juni 2026 - 10:12
Jadwal Piala Dunia: Prancis-Norwegia Berebut Juara Grup, Belgia Buru Tiket Lolos

Jadwal Piala Dunia: Prancis-Norwegia Berebut Juara Grup, Belgia Buru Tiket Lolos

Jumat, 26 Juni 2026 - 17:03
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.