INDOPOSCO.ID – Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji mengingatkan, agar pemerintah mempersiapkan rumah sebagai sentra pendidikan. Hal ini sesuai dengan falsafah Ki Hajar Dewantara “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani”.
“Falsafah Ki Hajar Dewantara itu menjadikan rumah sentra pendidikan. Kalau yang dianut sekarang entah falsafah dari mana?” tegas Indra Charismiadji kepada INDOPOSCO.ID, Rabu (5/5/2021).
Ia menyebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) gagal dalam mengelola pendidikan di masa pandemi Covid-19. Dalam masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) mereka telah mengeluarkan tiga surat keputusan bersama (SKB).
“Semuanya (SKB) merujuk pelaksanaan pelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Artinya mereka gagal melaksanakan PJJ,” ungkapnya.
Menurut Indra, Kemendikbud Ristek harus melakukan evaluasi mendalam pada pelaksanaan PJJ di masa pandemi, sebelumnya menerapkan PTM terbatas. Hal ini untuk mengantisipasi sewaktu-waktu terjadi lonjakan kasus Covid-19.
“Kita tidak menginginkan Indonesia seperti India. Tapi dengan lonjakan kasus Covid-19 saja, pemerintah harus kembali menerapkan PJJ. Itu untuk kepentingan kesehatan dan keselamatan bersama,” katanya.
Ia mengatakan, pada pelaksanaan PJJ harus ada perubahan mainset pada guru dan tenaga kependidikan. Dengan memberikan pelatihan pedagogik digital.
Karena, menurutnya, PJJ di Jakarta dalam setahun ini saja masih banyak guru dan tenaga kependidikan yang tidak bisa menggunakan teknologi. “Jadi menurut saya selama ini mereka (guru) mengajar atau tidak. Ini di wilayah Jakarta loh, bagaimana yang di daerah,” ujarnya.
Indra menegaskan, gagalnya PJJ disebabkan oleh guru yang belum terbiasa dengan pembelajaran daring. Kondisi tersebut diperparah oleh Kemendikbud Ristek yang tidak memberikan pelatihan.
“Belajar itu tidak harus ke sekolah. Sama seperti kita bekerja tidak harus datang ke kantor. Guru belum siap, siswa juga belum siap, jadinya hanya zoom, google room hanya tempat ceramah dan penugasan yang membuat membuat siswa boring,” ujarnya.
Ia menuturkan, harus ada upaya pelatihan kepada guru bagaimana merubah mainset lama. Bahwasanya kelas menjadi tempat ceramah. “Kami di program guru cerdas cukup 3 bulan untuk merubah mainset itu. Kini sudah 6 ribu guru sudah mengenal teknologi (pedagogik digital),” katanya. (nas)












