• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Tifa Nusantara

Redaksi Editor Redaksi
Minggu, 18 April 2021 - 06:01
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – INI bukan tentang VakNus (Vaksin Nusantara). Ini tentang ahli yang namanya sulit dieja: Dr Tifauzia Tyassuma MSc.

BacaJuga:

Pengusaha Pilihan

Weda Bay

Bali Lombok

Kita panggil saja Tifa. Yang keahliannya di bidang epidemiologi –penyebaran virus/penyakit– tapi kegiatannya banyak di bidang nutrisi.

Buku-buku nutrisinya banyak banget. Termasuk yang terbaru: Nutrisi Surgawi.

“Anda ini ahli epidemologi atau ahli nutrisi?” tanya saya.

“Saya ahli epidemolonutrisi,” jawab Tifa lantas tertawa.

Tifa kini mengambil S-3 di Universitas Indonesia (UI)–tempatnya pernah sebentar menjadi dosen. Penelitian S-3 Tifa bertolak dari buku nutrisi surgawi itu.

Menurut Tifa, ”empat sehat lima sempurna” sudah harus diganti dengan ”delapan nutrisi kitab suci” antara lain protein hewani, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, umbi-umbian, rempah-rempah, dan dua lagi saya lupa. Itulah makanan yang disebut dalam kitab suci Alquran.

Saya sengaja hanya ingat yang enam itu. Saya terlalu percaya pada pembaca Disway yang pasti akan mengingatkan dua selebihnya. Lihatlah komentar-komentar pembaca Disway. Apa saja mereka tahu.

Kadang saya malu kalah tahu dari mereka.

Yang saya tetap ingat adalah kacamatanya. Dan senyumnya. Dan giginya.

Tifa memang meneliti khusus susunan gigi manusia. Yang 32 biji itu. Lihatlah, kata Tifa, gigi kita itu. Meski jumlahnya 32, tapi hanya terdiri dari delapan jenis –tiap jenis dua buah.

Delapan jenis gigi itu dibuat Tuhan secara sengaja. Agar cocok dengan delapan jenis makanan yang seharusnya dimakan manusia. “Gigi taring kan hanya dua buah. Berarti jatah untuk makan daging itu hanya 1/8 dari keseluruhan makanan yang kita makan,” ujarnya.

Semua itu akan jadi bahasan dalam disertasinya.

“Kalau penelitian itu bersandar pada kitab suci apakah bisa diterima secara ilmiah?” tanya saya.

“Metode Pak Terawan saja bisa diterima. Yang level keilmiahannya di bawah. Yang saya lakukan itu seharusnya ditempatkan di level tertinggi dalam ilmu pengetahuan,” jawab Tifa.

Orangnya memang pede (percaya diri). Sangat pede. Karena itu dia tidak mungkin jadi bawahan. Dia hanya sebentar jadi dosen di Fakultas Kedokteran (FK) UI. “Saya tidak bisa kalau harus absen pagi dan sore,” kata Tifa.

Sebagai orang yang akan mendasarkan penelitiannya pada kitab suci, Tifa termasuk ilmuwan yang bisa menerima metode penelitian Terawan: empiric base.

Menurut Tifa, harus ada leveling di bidang penelitian. Tidak harus semua penelitian harus seperti disyaratkan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Penelitian seketat BPOM itu bisa dimasukkan level yang tertinggi kedua setelah holy research. Lalu harus dibuat model penelitian level berikutnya.

Meski bisa menerima model penelitian Terawan mengenai Xxx -saya sudah berjanji untuk tidak menulis kata VakNus- itu, Tifa tetap usul pada Terawan –lewat saya.

“Janganlah menggunakan istilah VAKSINASI bagi metode dendritic cells immunotherapy,” tulis Tifa pada saya.

Tifa pun bercerita kenapa: karena dari asal katanya saja, vaccination artinya metode untuk memasukkan kuman (virus) yang berasal dari sapi (Vacca) kepada tubuh manusia.

Waktu itu, pionir vaksinasi, Edward Jenner, pada 1789, memasukkan Virus Variola dari Kuda -lho gimana sih kok malah kuda?- ke tubuh seorang remaja usia 15 tahun. Nama remaja kecil itu James Phepps. Itu untuk melihat apakah si James bisa mendapatkan kekebalan yang diharapkan.

James Phepps, waktu itu berumur enam tahun, meninggal di usia 21 tahun.

Anak Edward Jenner sendiri, Janner, jadi kelinci percobaan bapaknya. Sang anak diberi injeksi kuman Variola setiap tahun.

Janner, anak Edward itu, meninggal akhirnya. Kena pneumonia. Sad story.

“Jadi, saya usulkan ke Pak Terawan pakai saja nama Dendritic Cells Immunotherapy (DCI). Itu lebih bagus dan lebih tepat,” tulis Tifa.

Untuk mudahnya lantas sebut saja I-Nu (Imunoterapi Nusantara). Nama I-Nu bisa lebih keren dan lebih milenial dari pada istilah Vaknus.

“I-Nu kalau diucapkan kan seperti I know. Saya tahu. Keren sekali,” kata Tifa.

Usulnya itu berdasar:  ”Karena memang tidak ada sedikit pun virus atau pun potongan virus atau virus sintetis atau printing DNA atau spike atau apa pun dari virus itu yang masuk ke tubuh manusia, ” tulis Tifa.

Lebih mendasar lagi, Tifa ingin I-Nu bisa mengakhiri sejarah teknologi vaksin. Yang umur penemuannya sudah 200 tahun.

Era vaksin, kata Tifa, seharusnya sudah lewat.

I-Nu itu, lanjut Tifa, bisa membuat sejarah baru peradaban manusia. Yakni sebagai suatu terapi personalized sekaligus sebagai tonggak penting.

I-Nu bisa diartikan sebagai dimulainya “Era Personalized Medicine atau Precision Medicine. Yakni Kedokteran Abad 21. Yang lebih mengutamakan pendekatan personal bagi setiap kasus yang dihadapi setiap manusia”.

Kalau kita bicara tentang personalized medicine, maka metodologi riset klinis atau clinical research methodology harus banyak diubah dan dimodifikasi.

Riset baru, kata Tifa, sudah harus mengikuti arah perkembangan kemajuan Ilmu. Termasuk yang disebut sebagai Randomized Controlled Trials (RCTs) –yang menjadi syarat mutlak dilakukannya terapi medis bagi manusia.

Ya memang, ujar Tifa, risikonya besar: pabrik farmasi dan produsen vaksin akan marah-marah. “I-Nu itu kalau berhasil bisa diterapkan untuk menangkal virus dan kuman apa pun,” kata Tifa.

Tifa, dokter dan S-2 nya didapat dari Universitas Gadjah Mada Jogjakarta, masih punya usul lain: Terawan jangan pelit bagi-bagi ilmu. Bikinlah kursus sebanyak-banyaknya buat para dokter.

“Agar mereka juga bisa praktik dengan I-Nu,” kata Tifa, yang pada 1988 lulus SMAN 2 Jogjakarta.

“Saya pun mau ikut kursus itu”. (*)

Tags: disway

Berita Terkait.

Kanan Dalam
Disway

Pengusaha Pilihan

Senin, 12 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Weda Bay

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Bali Lombok

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Rocky Gerung

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Polsek Baru

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Jumling Suyudi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:00

OLAHRAGA

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang
Olahraga

Mandalika Mendunia, Pertamina Apresiasi Kolaborasi di Balik Sukses MotoGP 2026

Editor Dilianto
Senin, 12 Oktober 2026 - 20:51

INDOPOSCO.ID - Kesuksesan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat, bukan hanya...

SelengkapnyaDetails
Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:40
Tobat Ekologis, Menag Ajak Umat Bersahabat dengan Alam

5 Emas Asian Games Jadi Alarm Evaluasi, Okto Dorong Pembenahan Sistem Olahraga

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:30
Banjir Bandang Padang, Puan Desak Perlindungan Pengungsi hingga Pemulihan Ekonomi Warga Terdampak

Andra Soni Lepas Atlet Disabilitas Banten ke Ajang Nasional: Kalian Inspirasi Kita Semua

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:55
Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:17

BERITA POPULER

  • Sinergi Bea Cukai-Bareskrim Berbuah Manis, 5 Kg Sabu Berhasil Diamankan di Bogor

    Hendra Kurniawan Pimpin Polda Banten, Hengki Lanjut ke Jabar

    1063 shares
    Share 425 Tweet 266
  • Daftar Harga Mobil Elektrifikasi Wuling 2026, dari Aira EV hingga Wuling Darion EV

    928 shares
    Share 371 Tweet 232
  • Darion dan Eksion PHEV Wuling Raih Pengakuan di FCR 2026

    890 shares
    Share 356 Tweet 223
  • Elnusa Perkuat Produksi Migas, HWU EHR#10 Dukung Pembukaan Kembali Sumur Idle

    667 shares
    Share 267 Tweet 167
  • Bangun Energi Positif dari dalam, PLN Icon Plus Perkuat Kolaborasi Lewat ICONMOVE

    665 shares
    Share 266 Tweet 166
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.