• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

GeNose Tak Terkatakan

Redaksi Editor Redaksi
Rabu, 17 Februari 2021 - 06:01
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Akhirnya GeNose dipakai di tempat-tempat umum. Awalnya di tiga stasiun kereta api: Senen, Jakarta; Gambir, Jakarta; dan Tugu, Jogja. Lalu ditambah lagi Bandung, Solo Balapan, SemarangTawang, Cirebon, dan Surabaya Pasar Turi.

BacaJuga:

Pulih Percaya

Independensi Habibie

Abu Putih

“Tiga rumah sakit di Jogja juga sudah menggunakannya,” ujar Dr dr Dian K. Nurputra. Dian adalah dokter yang bersama penemu GeNose, Prof Dr Kuwat Triyono mengembangkan alat pendeteksi baru Covid-19 itu.

Keduanya sama-sama dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Prof Kuwat dari MIPA, Dian dari kedokteran.

Setelah lebih dua minggu dipakai di tempat umum, Dian berkesimpulan bahwa tingkat ketertularan adalah tiga persen. Artinya, dari semua calon penumpang yang dites, lewat GeNose, tiga persen terdeteksi positif Covid-19. Itu sama dengan standar di mana-mana.

Calon penumpang ternyata lebih suka dites lewat GeNose. “Sampai membeludak,” ujar Dr Dian. Maka, seperti yang di stasiun Senen, Jakarta, Ge

Tentu, saya pun, seandainya akan naik kereta, akan pilih dites lewat GeNose. Begitu sederhana. Tinggal meniupkan napas dari mulut ke sebuah kantong plastik. Lalu udara yang kantong plastik tersebut dimasukkan alat GeNose. Dalam tiga menit hasilnya sudah bisa keluar.

Tapi di stasiun-stasiun tersebut juga disediakan alat tes antigen. Terserah penumpang, pilih yang mana. Bahkan kalau penumpang mau PCR di klinik atau di RS juga diizinkan. Yang penting ketika datang ke stasiun membawa hasil PCR yang masih valid.

“Sebenarnya bandara-bandara juga sudah minta,” ujar Dr Dian, ahli penyakit anak yang menyukai dunia penelitian. Tapi baru kira-kira lima minggu lagi bisa dilakukan. Sayang sekali masih begitu lamanya.

Tentu pemesanan akan GeNose membanjir. Apalagi harganya begitu murah: Rp70 juta/unit. Sudah termasuk pelatihan. Bandingkan dengan PCR yang di atas Rp700 juta. Bahkan sampai Rp1,2 miliar. Saya pun sudah memesan 10 buah. Sudah sejak tiga minggu lalu. Belum dapat kabar kapan bisa mendapatkannya.

Kalau hasilnya memang sudah begitu meyakinkan, baiknya soal modal harus diatasi bersama. Memang zaman sekarang ini semua pembelian harus kontan. Bahkan harus bayar di depan. Saya menangkap kesan, di soal modal ini GeNose ada masalah. Itu terlihat dari gejala kurang lancarnya produksi.

Memang untuk memesan komponen dari luar negeri, harus bayar di depan. Kalau kita mau cepat. Seperti sensor dan artificial intelligence itu. Yang harus dibeli dari Jepang.

Maka baiknya pemerintah segera menangkap keinginan yang tidak terkatakan oleh UGM ini. Tentu saya setuju agar mereka jangan dibantu modal. Harus tetap lewat mekanisme bisnis.

Tapi ada cara. Toh dana Covid ratusan triliun rupiah. Pasti ada jalan untuk UGM –apalagi presiden kita alumnus UGM. Cara yang paling aman adalah cara bisnis: pemerintah membeli GeNose dalam jumlah yang cukup. Dengan bayar di depan. Dengan demikian transaksinya jelas dan sah. Agar para peneliti di UGM tidak terkena masalah hukum di kemudian hari.

Presiden –waktu itu– Donald Trump pernah melakukannya. Kalau tidak, vaksin tidak bisa segera ditemukan.

Demikian juga Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson. Ambil keputusan cepat. Trump sudah berani membeli vaksin ke Pfizer dengan nilai tidak kepalang tanggung: USD 4 miliar. Untuk pesanan 100 juta vaksin. Bayar di depan.

Padahal, waktu itu, Pfizer belum resmi menemukan vaksin Covid-19 tersebut. Pfizer baru menyanggupi untuk melakukan penelitian. Dan memberikan gambaran bahwa kelihatan itu akan bisa menemukannya.

Uni Eropa kelihatan ragu-ragu untuk membayar vaksin AstraZeneta di muka. Akhirnya membayar juga –telat. Ketika vaksin berhasil ditemukan Uni Eropa tidak diprioritaskan untuk dikirimi. Akibatnya parah. Inggris sudah melakukan vaksinasi sejak pada 2 Desember. Eropa ketinggalan jauh. Rakyat Eropa marah.

Inggris yang baru keluar dari asosiasi Eropa ternyata membuktikan ”berada di luar Eropa bisa lebih baik”.

Kembali ke soal GeNose. UGM memang ber-partner dengan lima perusahaan swasta –termasuk perusahaan perakitnya. Satu perusahaan mengerjakan satu bidang. Lalu dirakit oleh satu perusahaan berikutnya.

“Kemampuan produksi mereka bisa 3.000 unit per bulan,” ujar Dr Dian. Berarti sebenarnya tidak ada masalah. Maka saya membaca apa yang tidak bisa dibaca dari mulut Dr Dian: modal tadi.

Harga komponennya sendiri memang tidak mahal. Tapi jumlah pemesanan tidak bisa sedikit. Agar tidak menjadi mahal karena ongkos logistik. Itulah sebabnya tetap diperlukan uang besar.

Mungkin UGM tidak akan mengalami kesulitan ini kalau ber-partner dengan perusahaan raksasa. Tapi UGM kelihatannya tidak ingin jatuh ke kapitalisme besar. UGM memilih perusahaan kecil sebagai partner.

aya terharu melihat idealisme UGM seperti itu. Pesanan saya yang hanya 10 unit itu pun semata karena keterharuan itu.

Tapi inilah momentum bagi UGM untuk memiliki usaha yang bisa langsung mendapat pasar yang besar. Tentu speed juga jadi faktor penentu dalam bisnis.

Meski bisnis ini sulit ditiru tetap saja kecepatan tidak boleh diabaikan. Tetap saja momentum adalah faktor penentu. Kalau produksi GeNose ini tidak didukung bersama, bisa-bisa UGM kehilangan momentum.

GeNose adalah juga salah satu momentum bagi ilmuwan Indonesia. Untuk bisa menjadi tuan di negeri sendiri. Di bidang ini. Bahkan punya potensi bisa ekspor secara besar-besaran.

Pasangan Prof Kuwat dan dokter Dian sendiri sebenarnya bukan pasangan baru. Bukan baru di GeNose. Keduanya sebenarnya sedang mengerjakan penelitian bidang sakit napas dan lumpuh layu. Tapi karena ada Covid penelitian pun dibelokkan dulu ke GeNose. Kebetulan masih satu garis. Hanya saja, kalau semula namanya e-Nose, kini menjadi GeNose –ditambah Gadjah Mada di depannya.

Dian sendiri lahir di Malang. SMA-nya di SMAN 1 Malang. Lalu masuk fakultas kedokteran Universitas Brawijaya, Malang.

Setelah ditugaskan di berbagai pelosok Nusantara –Aceh, Poso, Papua, dan sebagainya– Dian masuk S-2 UGM. Lalu meneruskan S-3 di Kobe, Jepang.

Setelah mendapat gelar doktor, Dian dilarang pulang. Harus mengajar dulu di Jepang selama dua tahun. Tidak masalah. Istrinya sudah ia bawa ke Jepang. Satu anaknya lahir di sana.

Tiba kembali di Jogja, Dian menghadiri presentasi Prof Kuwat. Yang lagi mencari partner penelitian.

Meski sama-sama meraih gelar doktor di Jepang, tapi baru di forum itulah Dian berkenalan dengan Prof Kuwat. Jadilah mereka sepasang peneliti yang tangguh. Dengan karya yang ikut menentukan hasil penanganan pandemi di negeri ini. Kalau jadi. (*)

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Pulih Percaya

Kamis, 30 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Independensi Habibie

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Abu Putih

Senin, 27 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Satpam MBG

Sabtu, 25 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Anak Telur

Jumat, 24 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Dua Menit

Rabu, 22 Juli 2026 - 08:00

BERITA POPULER

  • Jasad

    Kasus Pembunuhan Satpam Waduk Jatiluhur, DPR Tekankan Keadilan dan Perlindungan Keluarga Korban

    1738 shares
    Share 695 Tweet 435
  • Industri Sawit Nasional Miliki Fondasi Kuat dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja

    1799 shares
    Share 720 Tweet 450
  • Blak-blakan Soal Keputusannya Gabung Persib, Mariano Peralta Tegaskan Hal Ini

    924 shares
    Share 370 Tweet 231
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    3127 shares
    Share 1251 Tweet 782
  • Sertifikasi Mutu KKP Dorong Belut Kalimantan Tembus Pasar Global

    819 shares
    Share 328 Tweet 205
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.