Nasional

Koalisi Partai Islam Harus Tanggalkan Ego

INDOPOSCO.ID – Pengamat Komunikasi Politik M. Jamiluddin Ritonga mengatakan, munculnya gagasan koalisi partai Islam mendapat respon baik dari masyarakat. Namun terwujudnya gagasan tersebut, menurutnya, tidak mudah.

“Sejarah sudah membuktikan, partai Islam di Indonesia sulit bersatu. Partai Masyumi di era Orde Baru mengindikasikan hal itu,” ujar Jamiluddin Ritonga melalui gawai, Kamis (22/4/2021).

Ia mengatakan, untuk kondisi saat ini, koalisi PPP dan PKS tampaknya tak ada masalah. Selama hubungan kedua partai tersebut pada umumnya berjalan baik.

PBB memang antusias mendukung koalisi partai Islam. Namun, kemungkinan padunya Yusril Izha Mahendra dengan Muhaimin juga masih tanda tanya.

“Hubungan PKB dan PKS selama ini tampak tidak baik. Bahkan hubungan kedua partai ini ibarat air dan minyak yang sulit dipersatukan,” katanya.

Partai Islam PAN, dikatakan dia sudah menyatakan tidak tertarik ikut dalam koalisi tersebut. Padahal selama ini hubungan PAN dengan PKS dan PPP relatif baik. Sementara Partai Ummat yang dimotori Amien Rais juga menyambut dingin gagasan koalisi partai Islam.

“Petanya hubungan antar partai Islam tampak demikian. Kecenderungan ini memang membuat pesimis terbentuk koalisi partai Islam pada Pilpres 2024 nanti,” ungkapnya.

Namun demikian, menurutnya, peluang terbentuknya koalisi partai Islam masih terbuka. Selama PKB, PKS, dan PPP solid. Tentu soliditas tiga partai tersebut dapat terjaga, apabila PKB tidak terlalu dominan, khususnya dalam menentukan calon presiden (Capres).

“Kalau Muhaimin tidak memaksakan diri mengajukan capres, maka PKS kemungkinan akan rela berkoalisi. Sebab, PKS kelihatan lebih memilih mengusung Anies Baswedan pada Pilpres 2024,” ucapnya.

Ia menegaskan, ada kemungkinan PKS dapat menerima Muhaimin menjadi cawapres. Kalau pilihan ini diterima PKB, maka peluang koalisi Partai Islam masih terbuka.

“Kalau koalisi partai Islam hanya PKB, PKS, PPP, dan PBB, maka peluang Anies-Muhaimin untuk menang pada Pilpres 2024 tampaknya masih berat,” ungkapnya.

Kalkulasi itu, masih ujar Jamiluddin, didasari dari kemungkinan munculnya pasangan capres dan cawapres dari partai nasionalis yang elektabilitasnya lebih baik. Katakan muncul koalisi PDIP dan Gerindra, yang mengusung Prabowo – Ganjar atau Prabowo – Puan.

“Semua itu sebaiknya harus diperhitungkan sebelum memastikan pasangan Anies – Muhaimin sebagai kandidat pada Pilpres 2024. Koalisi partai Islam sebaiknya menanggalkan ego partai dengan mencari pasangan Anies yang tangguh sehingga dapat bersaing dengan kompetitor dari partai nasionalis,” ujarnya. (nas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button