Nasional

Jumlah Anak Putus Sekolah Meningkat Selama Covid-19, Ini Penyebabnya Kata KPAI

INDOPOSCO.ID – Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti mengatakan berdasarkan hasil pengawasan sejak Januari 2021, terjadi peningkatan jumlah anak putus sekolah selama masa pandemi Covid-19.

Pemantauan dilakukan pada Februari 2021 di Kota Bandung, Kota Cimahi, Kota Bengkulu, Kabupaten Seluma dan Provinsi DKI Jakarta. Pemantauan dilakukan dengan pengawasan langsung untuk Kota Bandung dan Cimahi, dan wawancara secara online dengan guru dan kepala sekolah jaringan guru Federasi Serikat guru Indonesia (FSGI).

“Ada lima alasan yang menyebabkan anak putus sekolah, yaitu karena menikah, bekerja, menunggak Iuran SPP, kecanduan game online dan meninggal dunia,” tutur Retno dalam keterangannya, Minggu (7/3/2021).

Menurut Retno, pandemi covid-19 sudah berlangsung selama setahun, seharusnya pemerintah daerah sudah dapat memetakan permasalahan pendidikan di wilayahnya, sehingga tidak ada peserta didik yang putus sekolah.

“Namun faktanya KPAI justru menemukan data-data lapangan yang menunjukan angka putus sekolah cukup tinggi, terutama menimpa anak-anak yang berasal dari keluarga miskin,” ungkapnya.

Berdasarkan hasil pantauan KPAI selama Januari-Februari 2021, alasan pertama siswa putus sekolah adalah karena menikah. Retno menyebutkan, jumlah siswa yang berhenti sekolah karena menikah jumlahnya mencapai 33 peserta didik dari Kabupaten Seluma, Kota Bengkulu, dan Kabupaten Bima. Rata-rata siswa yang menikah berada di kelas XII, yang beberapa bulan lagi ujian kelulusan sekolah.

“Karena masih PJJ, maka mayoritas yang sudah menikah tanpa sepengetahuan pihak sekolah. Wali kelas atau guru Bimbingan Konseling (BK) baru mengetahui setelah dilakukan home visit karena tidak pernah lagi ikut PJJ,” ucap dia.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button