Nasional

Jusuf Hamka dan Seribu Masjid

INDOPOSCO.ID – Mendadak sebuah mobil mewah Land Rover Range Rover SUV berwarna biru tiba dan mengambil posisi parkir khusus di depan Pojok Halal, Rest Area Cilandak, Tol Depok-Antasari, Jakarta Selatan menjelang Salat Jumat (12/2/2021) sekitar pukul 10.45 WIB.

Melihat tampilan mobil seharga Rp4,2 miliar dengan nomor polisi khusus B 1 RU tersebut sudah bisa ditebak yang duduk di dalamnya seorang bos besar, terlebih begitu kendaraan itu tiba, petugas keamanan tampak sigap menyambut.

Pintu mobil terbuka, pria berkopiah warna merah hati senada dengan warna baju lengan panjang model Shanghai bermotif bunga turun dari mobil.

Penampilannya tampak kontras dengan kendaraan super mewah yang ditungganginya. Sekilas pria paruh baya itu terlihat menggunakan topi merah hati, bersandal kulit yang berpadu dengan celana jins biru.

Senyum ramah mengulas air mukanya, matanya menghilang dari wajah putihnya saat tertawa, ciri khas keturunan Tionghoa. Dialah Muhammad Jusuf Hamka, pria etnis Tionghoa asal Samarinda, Kalimantan Timur. Pria yang lahir 64 tahun lalu di Jalan Krekot Bunder, Pasar Baru, Jakarta Pusat itu kini dikenal sebagai bos jalan tol yang dermawan.

Sifatnya yang dermawan dan rendah hatinya dikenal masyarakat dan banyak diulas oleh media daring, cetak, televisi bahkan media sosial. Putra angkat Ulama Indonesia, Prof Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka, terlahir dengan nama Josef Alun. Dia memilih memeluk Islam di bawah bimbingan sang ayah angkat pada 1981, serta mengganti namanya dengan panggilan Jusuf Hamka.

“Samarinda itu asal orang tua, saya lahir di Krekot Bunder, Pasar Baru belakang Pasar Metro Atom persis, daerah itu dari ujung ke ujung tau saya. Saya pernah jadi Jawara, tukang gelut. Pada kenal, bekas jadi RW 03 Pasar Baru,” kata Jusuf mengenalkan masa lalunya kepada Antara.

Untuk Indonesia

Tidak hanya dikenal sebagai pengusaha kaya raya, Jusuf Hamka juga dikenal dermawan juga rendah hati. Jusuf hafal betul dengan makna sila ketiga Pancasila, yakni Persatuan Indonesia. Mungkin buah dari pembelajaran yang didapat dari orang tua angkatnya Mantan Wakil Presiden RI ketiga, Adam Malik dan diperkuat didikan nilai Islam dari sang ayah angkat Buya Hamka.

Dalam buku semi otobiografi “Babah Alun Naik Haji”, Jusuf menceritakan momen kehilangan atas wafatnya sang orang tua angkat Adam Malik tahun 1984 saat dirinya naik haji pertama kali. Di saat bersamaan dirinya tengah teringat pesan dari ayah angkat, yakni “Kau tidak boleh mengkhianati hati nurani mu atau perasaan batin mu sendiri. Batin mu akan berasa bahagia apabila permohonan-Nya padamu telah kau isi dengan ibadah. Maka jangan sekali-kali kau kecewakan Dia,” nasihat Almarhum Buya Hamka.

Jusuf Hamka Dan Seribu Masjid

Jusuf dikenal sebagai pribadi yang santai sehingga memudahkannya bersosialisasi dan bersilaturahmi dengan berbagai kalangan masyarakat. Dikenal sebagai pribadi yang mengedepankan rasa kemanusiaan, nasionalisme dan menyerukan persatuan Indonesia, begitu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartanto mengenal sosoknya ditulis dalam kata pengantar buku ’Babah Alun Naik Haji’.

Dalam setiap kesempatan menghadiri acara sosialisasi ataupun silaturahmi, Jusuf selalu mengacungkan tiga jari yang merupakan representatif dari sila ketiga Pancasila.

Baginya, jika masyarakat Indonesia mengatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harga mati, maka persatuan Indonesia adalah harga pasti. Karena kalau tidak bersama Indonesia akan porak poranda, dengan bersatu Indonesia teguh, begitu pun jika bercerai akan runtuh.

Menurut Jusuf, dengan persatuan Indonesia tidak ada lagi istilah pribumi dan non pribumi. Istilah itu sudah ketinggalan atau norak di zaman sekarang ini. Caranya menyerukan persatuan Indonesia dengan bersatu dalam keberagaman. “We are Indonesia one nation (kita Indonesia satu bangsa, red) tanpa embel-embel,” katanya.

Di masa pandemi Covid-19 tidak mengurangi aktivitas Jusuf Hamka untuk terus menggalakkan aksi sosialnya lewat warung NKRI akan ditambah outlet (toko)- nya setelah ada di Sunter, Kemayoran dan Taman Lembang, akan hadir di wilayah Cilandak, Jakarta Selatan.

Pada momen perayaan Imlek 2021, Jusuf mengajak masyarakat keturunan Tionghoa untuk merayakannya dengan sederhana dengan suka cita dan menjaga kesetiakawanan sosial dengan memperhatikan masyarakat kurang mampu yang membutuhkan kepedulian mereka yang memiliki rezeki berlebih dan rasa kepedulian.

Tidak harus seluruh masyarakat yang terdampak yang jadi perhatian, minimal mereka yang tempat tinggalnya berjarak radius 100-200 meter dari tempat tinggal hendaknya mendapat perhatian.

Secara sederhana Yusuf mencontohkan kalau sampai ada masyarakat yang lapar maka keamanan dan ketertiban nasional juga terganggu sehingga sudah menjadi tanggungjawab bersama untuk mendukung saudara-saudara sesama anak bangsa yang tengah kesulitan.

Ambisi dan Target

Sejak 2017 sudah ada tiga masjid berdiri, dua masjid segera diresmikan, dua masjid sedang berproses, dan satu masjid pertama dibangun di Samarinda, telah menambah ‘cicilan hutan’ membangun 1.000 masjid yang diucapkan Jusuf Hamka.

Menyadari usianya sudah 64 tahun, mustahil dengan sisa umur yang ada dapat membangun seribu masjid, jika kemampuannya setahun satu masjid, tentu Jusuf membutuhkan 1.000 tahun untuk membangunnya.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button