Ekspor Sarang Burung Walet Makin Diminati dan Nilainya Terus Meningkat

indoposco.id – Tren ekspor Sarang Burung Walet (SBW) menunjukan peningkatan signifikan dalam lima tahun terakhir. Rumah dari burung walet atau Collocalia sp ini dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan dan banyak dihasilkan di pulau Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi.
“Ini adalah anugerah dari Tuhan untuk kita, tanpa perawatan khusus walet memberikan sumbangan devisa negara dan pendapatan bagi petani,” ujar Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, di Jakarta, Jumat (15/1/2021).
Mentan bersyukur, komoditas asal sub sektor peternakan ini juga mendapat dukungan dari Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi. Dukungan terhadap komoditas SBW disampaikan saat meluncurkan Platform Dagang Digital Indonesian Store (IDNStore), di Jakarta, Kamis (14/1/2021).
Mendag Lutfi yakin akan tercapainya pertumbuhan yang ditargetkan RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) dan komoditas ekspor SBW menjadi andalan, bahkan sebagai “harta karun”.
Sebagai informasi, dari data pada sistem perkarantinaan, IQFAST Badan Karantina Pertanian (Barantan) tercatat bahwa selama masa pagebluk Covid-19, jumlah ekspor SBW sebanyak 1.155 ton dengan nilai Rp28,9 triliun atau meningkat 2,13 persen dari pencapaian di 2019 yang hanya 1.131,2 senilai Rp28,3 triliun saja.
“Selain sinar matahari, tanah subur dan banyak lagi yang diberikan Sang Maha Penguasa kepada bangsa ini harus kita jaga, harus kita kelola,” kata Syahrul.
SBW dapat hidup baik dengan ekosistem yang terjaga, mulai dari hutan, laut dan sungai sebagai penghasil pakan walet alami.
Saat ini, SBW yang diperdagangkan merupakan komoditas binaan dari Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH),Kementan untuk produktivitasnya. Sementara untuk pendampingan eksportasi mulai dari harmonisasi aturan dan persyaratan teknis sanitasi negara tujuan dan bimbingan teknis sanitari dan keamanan pangan, food safetynya dilakukan oleh Barantan.
Menurut Mentan Syahrul, melalui Barantan pihaknya telah mendampingi 23 eksportir SBW Republik Indonesia (RI) sehingga berhasil teregistrasi oleh otoritas karantina pertanian Cina, GACC (General Administration of Customs of the People’s Republic of China).
Tercatat sebanyak 262 ton atau 23 persen dari total ekspor SBW RI dibeli oleh Tiongkok. Sebagai pengekspor SBW terbesar di dunia, para pelaku usaha RI banyak menyasar pasar Tiongkok karena harga jual yang lebih tinggi dibandingkan negara tujuan lain, yakni antara Rp25 juta hingga Rp40 juta per kilo.
Namun dengan harga yang lebih tinggi ini, secara khusus Tiongkok juga menyaratkan ketentuan registasi bagi tempat pemroses sarang walet di samping pemenuhan persyaratan teknis tentunya.
Sementara itu, diketahui tempat pemrosesan sarang walet juga memerlukan tenaga kerja yang cukup besar atau padat karya, sehingga mampu memberikan dampak ekonomi berupa peluang kerja bagi masyarakat sekitarnya.
“Saat ini 13 pelaku usaha tempat pemrosesan sarang burung walet lainnya tengah kita dampingi untuk penetrasi pasar Tiongkok, semoga bisa sama-sama kita dukung agar tahun ini selesai,” terang Syahrul.
Sarang Walet RI Laris di Mancanegara
Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil menyampaikan, selain Tiongkok, ada 23 negara tujuan ekspor lain bagi SBW RI, antara lain Australia, Amerika Serikat, Kanada, Hongkong, Singapura, Afrika Selatan dan lainnya.
“Setiap negara tujuan memiliki protokol ekspor masing-masing dan kami selaku otoritas karantina mengawal persyaratan teknisnya,” kata dia.
Jamil menyebut, pihaknya telah memiliki laboratorium pengujian yang telah diakui oleh negara mitra dagang. Selain percepatan layanan, pihaknya juga juga terus melakukan inovasi teknologi perkarantinaan untuk memfasilitasi pertanian diperdagangan internasional.
Dia menambahkan, partisipasi dan dukungan dinas pertanian, peternak dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan komoditas SBW sangat diperlukan.
Salah satunya terhadap ancaman penyakit flu burung atau avian influenza (AI). “Kita pernah mengalaminya di 2005 dan diperlukan upaya yang panjang untuk mengendalikannya,” tutur Jamil.
“Bersama kita jaga, laporkan jika melalui lintaskan unggas khususnya kepada petugas karantina agar SBW tetap dapat berkontribusi pada pemulihan ekonomi nasional,” tutupnya. (*)