Disway

Tung Desember

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Bagi Tung Desem, tiap hari selalu tanggal 22 Desember: Hari Ibu. Cintanya pada ibunya tidak hanya setahun sekali.

Setiap bulan Tung wajib satu minggu penuh menemani ibunya. Di Solo. Ia mengantar sang ibu ke pasar. Ke kolam renang. Ke mana pun sang ibu mau. Tentu, yang paling sering: memijat ibunya.

Berita Terkait

“Selama satu minggu itu tidurnya pun selalu di kamar ibunya,” ujar Ming Ming, istri Tung Desem. Ming Ming adalah nama panggilan. Sejak kecil. Nama resminyi: Suryani Untoro. Disingkat Yani. Kini jadi Yani Tung.

Ming Ming bercerita: sesibuk-sibuk Tung ia selalu bisa mengosongkan jadwal seminggu penuh. Yakni di minggu terakhir setiap bulannya. Khusus untuk ke Solo. Menemani sang ibu.

Tung sendiri lahir di Hari Ibu: 22 Desember 1971. Di Solo. Ayahnya seorang guru. Di sekolah Tionghoa.

Kamis depan, 22 Desember 2022, adalah ulang tahun ke-55 Tung Desem. Tulisan ini sebagai hadiah ulang tahunnya.

Rasanya Tung Desem-lah motivator terbaik Indonesia saat ini. Terutama untuk masalah keluarga dan kalangan bisnis.

Ia selalu bisa membangkitkan semangat siapa saja. Terutama semangat hidup. Semangat untuk maju. Juga semangat untuk berbuat baik.

Pun bila Anda hanya bertemu Tung berdua. Cara bicaranya sama dengan ketika ia berbicara di hadapan 5.000 orang peserta seminarnya.

Bulan lalu Tung ke rumah saya. Tentu juga dengan Ming Ming yang cantiknya 5i itu. Ia dalam perjalanan ke Solo memenuhi ritual ”Seminggu Bersama Ibu”.

Di rumah saya hadir beberapa manajer Harian Disway. Salah satunya wanita, belum juga mau menikah. Tung pun memberikan ”seminarnya” kepada satu wanita itu. Sangat menarik. Bagaimana memilih suami. Bagaimana memutuskan untuk kawin.

Ia berbicara dengan sangat runtut, logis, dan antusias. Saya, yang tidak lagi berkepentingan dengan motivasinya itu, jadi ikut antusias mendengarkannya. Siapa tahu ada pembaca Disway yang jomblonya never ending.

Kemarin saya mendengar, manajer Harian Disway itu menemukan calon suami. Waktu dia berkenalan dengan si calon, dia bilang tidak mau lagi pacaran. Mau kawin. Ternyata sang calon juga tidak mau pacaran lagi. Maunya kawin.

Umur mereka sekitar 33 tahun.

Punya tamu Tung, saya serasa dapat uang miliaran rupiah. Ia satu jam di rumah saya. Ia tidak berhenti menjawab pertanyaan. Isi pembicaraannya layak didengar 5.000 orang di ruang seminar. Tarifnya Rp 2.500.000/orang.

Kalikan sendiri berapa miliar ia kehilangan uang di rumah saya hari itu.
Pun ketika Tung kena Covid-19. Ia tidak berhenti memberikan motivasi.

Terutama kepada siapa saja yang senasib. Dari tempat tidurnya di rumah sakit, Tung menelepon saya. Video call. Ia memberi penjelasan mengapa saya yang pertama ditelepon. Ini rahasia berdua.

Lalu ia menelepon banyak orang. Ia sebarkan semangat sembuh. Termasuk lewat video pendek yang ia rekam sendiri di kamar RS itu.

Tentu Tung tidak hanya bisa bicara. Ia memang selalu mengajak orang untuk sukses. Ia sendiri sangat sukses. Ia kaya raya. Kehidupan keluarganya juga membuat iri siapa saja. Suami-istri ini ibarat lebah dan bunga. Lebahnya nempel terus di bunga. Tidak puas-puas mengisap madunyi. Bunganya pun terus segar. Tidak pernah layu. Sang bunga terus bergoyang seperti selalu terkena angin sepoi-sepoi sepanjang masa.

“Saya tidak takut Pak Tung selingkuh atau apa. Itu urusan ia dengan Tuhan. Saya takut kalau Pak Tung sakit,” ujar Ming Ming.

Tidak hanya begitu sayang pada istri. Cara Tung berbakti pada orang tua juga istimewa. Bukan hanya kepada ibunya. Juga kepada bapaknya.

Waktu bapaknya sakit, Tung belum kaya. Tapi sudah bekerja. Sudah punya penghasilan. Ia pun berhemat habis untuk bisa menyenangkan sang ayah.

Tung cari tempat kos yang sederhana. Yang murah. Agar bisa menabung. Pun bila tempat tidur di rumah kos itu lebih pendek dari panjang badannya.

Tinggi badan Tung 183 cm. Panjang ranjang di tempat kos sederhana hanya 178 cm.

Ia harus menabung. Ia ingin membelikan jam tangan ayahnya. Ayahnya selalu ingin punya jam tangan yang bagus.

Suatu saat Tung jalan-jalan dengan sang ayah. Mampir toko jam. Ayahnya lama sekali melihat satu jenis jam tangan di toko itu. Balik lagi. Lihat lagi. Balik lagi. Lihat lagi.

Tung menyimpan dendam di dadanya. Ia pengin membelikan sang ayah jam yang itu. Menunggu ada uang.

Setelah tabungannya cukup, Tung ke toko jam itu. Ia beli arloji itu. Ia pun mengajak sang ayah jalan-jalan. Lewat toko itu lagi. Sang ayah tentu mampir lagi. Ingin melihat jam incarannya itu.

Kecewa.
Jam yang ia suka sudah tiada.

Tung segera mengobati kekecewaan sang ayah. Ia keluarkan jam yang dimaksud dari sakunya. Ia serahkan jam itu ke ayahnya, di toko itu.

Kebahagiaan Tung di toko itu menghapus penderitaannya tidur di tempat tidur yang lebih pendek dari tubuhnya.

Ketika ayahnya sakit, Tung merawatnya secara total. Sang ayah sakit liver. Seperti yang saya alami. Sirosis. Lima tahun Tung merawat sang ayah. Di RS Surabaya. Lalu ia bawa ke Singapura. Sakitnya itu kian parah setelah sang ayah operasi katarak. Dua mata sekaligus.

Tung tahu papanya tidak pernah punya mobil. Maka di saat papanya sakit Tung bertekad membelikan sang papa mobil. Sekalian yang hebat, untuk ukuran papanya saat itu: BMW. Warna hitam.

Ia foto mobil baru itu. Ia tunjukkan foto itu ke sang ayah. Agar semangat hidupnya naik. Agar bisa cepat sembuh.
S

epuluh hari sang ayah dirawat di Singapura. Minta pulang. Di bawalah pulang ke Jakarta. Dimasukkan ke RS Siloam.

Tiga hari kemudian sang ayah meninggal dunia. Usianya 72 tahun.
Setelah jenazahnya dikremasi, abunya dibawa pulang ke Solo. Dinaikkan mobil BMW baru warna hitam itu. Sang papa akhirnya sempat naik BMW itu, biar pun sudah menjadi abu.

Tung tidak hanya bisa memberikan seminar lewat kata-kata. Ia lakukan semua yang ia katakan. Lewat perbuatannya. Dan budi pekertinya.

Termasuk Tung pernah berhenti bekerja karena mempertahankan kejujuran. Atasannya mengajaknya menyetujui anggaran besar untuk pasang iklan. Dapat bagian dari situ. Tung pilih berhenti. Ia tidak mau membuat atasannya stres akibat penolakannya. Ia akan selalu menolak keinginan seperti itu. Berarti akan banyak kebijakan atasan yang akan ia tolak.

Berhenti saja.

Padahal pekerjaan itu paling ia inginkan. Gajinya tinggi. Sampai-sampai ia berhenti dari pekerjaan bergengsi sebelumnya: kepala cabang Bank BCA Malang.

BCA adalah tempat kerja formal pertamanya. Sebelum itu ia jualan apa saja. Sambil menunggu kesempatan bisa masuk pendidikan khusus di BCA: Management Development Program (MDP). Sejak awal BCA memang mengembangkan pendidikan khusus. BCA selalu menyiapkan calon manajernya dengan pendidikan.

Syarat ikut MDP: harus lulusan terbaik universitas. Lamanya 1,5 tahun. Sampai sekarang, BCA meneruskan program pendidikan jenis ini. Itulah salah satu kekuatan fondasi BCA.

Tung selalu sekolah di sekolah negeri. Ia lulusan SMAN 3 Solo. Satu almamater dengan Ibu Iriana, istri Presiden Jokowi. Kuliahnya di UNS: maunya di dua fakultas sekaligus, ekonomi dan hukum. Tahun kedua ada larangan kuliah di dua jurusan. Tung pilih yang fakultas hukum.

Tung adalah marganya. Ia semarga dengan pemimpin Hong Kong masa lalu: Tung Chee Hwa.

Desem, adalah karena ia lahir di bulan Desember.

Waringin, nama akhirnya, adalah doa dari ayahnya: dengan maksud agar bisa jadi tempat bernaung banyak orang.

Jadilah Tung Desem Waringin (董国松).
Tapi Tung tidak mau jadi lawyer. Hati dan pikirannya selalu ingin damai. Tidak mau beperkara.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button