INDOPOSCO.ID – Rumah Batik Palbatu terus mendorong pemberdayaan teman Tuli melalui pelatihan membatik, pendampingan, dan kolaborasi lintas seni. Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan, tetapi juga membuka peluang usaha dan membangun kemandirian ekonomi bagi penyandang disabilitas.
Founder Akademi Batik Tuli’s dan Rumah Batik Palbatu, Budi Dwi Hariyanto, mengatakan pemberdayaan teman Tuli membutuhkan proses panjang yang tidak cukup hanya melalui pelatihan keterampilan. Pendampingan, kedekatan, serta dukungan antarpeserta menjadi faktor penting agar kemampuan yang diperoleh dapat berkembang menjadi sumber penghidupan.
Hal tersebut disampaikan Budi yang akrab disapa Hary dalam pameran seni bertajuk Sense of Silence: Melihat Bunyi, Membaca Rasa di Rumah Wijaya, Jakarta Selatan, Minggu (1/11/2026).
Kegiatan tersebut sekaligus menandai penutupan Akademi Batik Tuli’s 2026 dan penyerahan sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) kepada peserta yang dinyatakan lulus uji kompetensi bidang batik.
Menurut Hary, proses belajar membatik membutuhkan ketekunan dan komitmen. Tidak semua peserta dapat mengikuti seluruh tahapan pelatihan hingga selesai. Karena itu, penyelenggara berupaya membangun hubungan yang dekat dengan peserta agar mereka memiliki motivasi untuk terus belajar dan mengembangkan keterampilan.
”Proses belajar membatik membutuhkan ketekunan dan komitmen. Tidak semua peserta melanjutkan pelatihan hingga tahap akhir. Karena itu, kami terus berupaya membangun kedekatan dan persahabatan dengan peserta sebelum mendorong mereka mengembangkan keterampilan menjadi sumber penghidupan,” katanya.
Hary menjelaskan, salah satu tantangan dalam pelatihan adalah komunikasi, terutama ketika menjelaskan istilah dan tahapan membatik yang banyak menggunakan istilah Jawa. Kondisi tersebut menuntut penyelenggara mengembangkan metode pembelajaran yang lebih mudah dipahami dan sesuai dengan kebutuhan peserta Tuli.
Selain membekali peserta dengan keterampilan, Rumah Batik Palbatu juga ingin membuka kesempatan bagi mereka untuk menjadi pengusaha batik. Hary menyatakan kesiapannya mendampingi peserta yang ingin merintis usaha secara mandiri. Pembentukan kelompok juga didorong agar para perajin memiliki jaringan dan dukungan bersama setelah menyelesaikan pelatihan.
Aktris sekaligus praktisi seni Widi Dwinanda menilai karya seni dapat menjadi medium komunikasi yang melampaui perbedaan cara berkomunikasi. Karya para perajin Tuli dinilai memiliki potensi untuk menyampaikan gagasan, pengalaman, dan ekspresi kepada masyarakat luas.
Menurut Widi, kolaborasi batik dengan berbagai disiplin seni, seperti teater, tari, dan fesyen, dapat memperluas ruang apresiasi sekaligus membuka peluang pemanfaatan karya dalam industri kreatif.
Kain batik karya perajin Tuli, misalnya, dapat dikembangkan menjadi bagian dari kostum pertunjukan maupun produk fesyen sehingga pemanfaatannya tidak terbatas pada kegiatan pameran.
“Jadi, bukan hanya seni batik saja, tetapi ketika sudah berkolaborasi dengan teater atau dunia fesyen, semua bidang seni bisa hadir. Namun, pusatnya tetap karya-karya teman Tuli,” tutur Widi dalam diskusi tersebut.
Sementara itu, Co-Initiator Rumah Wijaya, Omar Danishwara, mengatakan ruang komunitas yang dikelolanya terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang. Beragam kegiatan digelar di tempat tersebut, mulai dari pertemuan komunitas, lokakarya, pertunjukan seni, hingga kegiatan perusahaan.
Menurut Omar, Rumah Wijaya ingin menciptakan lingkungan yang membuat setiap pengunjung merasa diterima dan menjadi bagian dari komunitas.
“Kami menyebutnya tamu atau sahabat Wijaya. Dengan kata sahabat itu lebih dekat,” ujarnya.
Omar mengungkapkan, Rumah Wijaya menerima sekitar 500 pengunjung pada September dan meningkat menjadi sekitar 700 hingga 800 pengunjung pada Oktober. Berbagai kegiatan komunitas tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan kelompok masyarakat sekaligus mendorong kolaborasi lintas komunitas.
Pameran Sense of Silence: Melihat Bunyi, Membaca Rasa menjadi ruang pertemuan antara teman Tuli dan teman dengar melalui karya seni batik. Selain pameran, rangkaian kegiatan juga meliputi diskusi inklusi kebudayaan, lokakarya membatik tulis, serta peragaan busana inklusif.
Kegiatan yang berlangsung pada 1 November 2026 tersebut terbuka untuk umum dengan dukungan pendampingan juru bahasa isyarat. Penyerahan sertifikat kompetensi BNSP kepada peserta yang lulus uji kompetensi juga menjadi salah satu bentuk pengakuan atas keterampilan yang telah mereka pelajari.
Salah satu peserta Akademi Batik Tuli’s, Dewi Nurhadi, membagikan pengalamannya selama mengikuti program pelatihan. Ia mengaku sempat menghadapi kesulitan dalam memahami materi pada awal pembelajaran. Namun, setelah mengikuti proses belajar selama tiga semester, kemampuannya dalam membatik semakin berkembang.
“Saya mengalami keterbatasan pemahaman, sehingga awal-awal masuk akademi banyak hal yang membuat saya kaget. Tapi setelah tiga semester ikut belajar, saya bisa menyelesaikan pekerjaan saya selama empat hari,” ujar Dewi.
Saat menyampaikan pengalamannya, Dewi juga memperlihatkan kain putih yang telah dihiasi motif bunga hasil karyanya. Penjelasan Dewi diterjemahkan oleh Sinta Noviza selaku juru bahasa isyarat.
Program pemberdayaan melalui batik ini memperlihatkan pentingnya membuka akses yang setara bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan keterampilan dan berpartisipasi dalam industri kreatif. Namun, keberlanjutan pemberdayaan juga membutuhkan pendampingan, pengakuan kompetensi, serta akses pasar agar keterampilan yang diperoleh dapat memberikan manfaat ekonomi dalam jangka panjang. (ney)


















