INDOPOSCO.ID — Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa tantangan baru bagi generasi muda Indonesia. Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI Rizki Aulia Rahman Natakusumah menilai, semangat Sumpah Pemuda harus diwujudkan melalui penguasaan teknologi, peningkatan kompetensi, dan kesiapan menghadapi perubahan zaman.
Menurut Rizki, anak muda Indonesia memiliki potensi besar untuk mendorong kemajuan bangsa. Keberanian menyampaikan aspirasi, sikap kritis, dan kepedulian terhadap persoalan nasional menjadi modal penting menghadapi masa depan.
“Anak-anak muda sekarang di Indonesia sudah luar biasa cerdas, sudah luar biasa pintar, sangat vokal, dan sangat peduli bukan hanya terhadap isu-isu anak muda, tetapi juga terhadap kondisi nasional, bangsa, dan negara,” ujar Rizki dikutip dari laman resmi DPR RI, Rabu (28/10/2026).
Ia menilai, aspirasi generasi muda tidak berhenti pada persoalan lapangan kerja yang layak, tetapi juga mencakup penguatan demokrasi dan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Di tengah transformasi digital, Rizki menekankan pentingnya program pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan keterampilan (upskilling). Upaya ini diperlukan agar pekerja yang terdampak perubahan teknologi tetap memiliki peluang meningkatkan kemampuan dan kualitas hidup.
“Semangat anak muda sekarang ingin mendapatkan lapangan pekerjaan yang layak, ingin demokrasi kita tetap hidup dan semakin hidup ke depan, ingin bagaimana teknologi berkembang semakin maju, tetapi tidak meninggalkan orang-orang yang perlu di-reskill dan di-upskill agar bisa meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidupnya,” jelasnya.
Rizki juga mengingatkan bahwa pemenuhan aspirasi tersebut membutuhkan kolaborasi seluruh elemen bangsa. DPR RI, menurutnya, perlu terus membuka ruang bagi suara generasi muda agar kebijakan yang dihasilkan selaras dengan kebutuhan mereka.
Mengenai penggunaan AI yang semakin luas, Rizki menyebut teknologi ini sebagai kenyataan yang harus diarahkan untuk kegiatan produktif. Pemanfaatannya kini telah menjangkau pendidikan, dunia kerja, hingga lingkungan Sekretariat Jenderal DPR RI.
“AI sudah menjadi kenyataan hidup kita sekarang. Seluruh anak muda menggunakan AI, baik di sekolah, kuliah, maupun di tempat kerja. Setjen DPR juga menggunakan AI. Jadi ini harus bisa dimanfaatkan dan diarahkan kepada kegiatan yang produktif,” tutur Rizki.
Baginya, tantangan utama bukan sekadar mengenalkan AI, melainkan memastikan generasi muda mampu menggunakannya secara bijak untuk menghasilkan karya dan nilai tambah. Literasi digital perlu berjalan beriringan dengan pengembangan keterampilan agar anak muda siap menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
“Yang perlu adalah bagaimana kemampuan dan kemahirannya diarahkan kepada sesuatu yang produktif. Saya rasa ini menjadi tugas kita bersama. Tetapi saya optimistis anak-anak muda sekarang sudah jauh lebih aware dan jauh lebih pintar. Kalau semangatnya seperti ini, saya yakin mereka akan lebih siap menghadapi kehidupan di era AI,” tambahnya. (her)


















