INDOPOSCO.ID – Ketahanan energi tak lagi cukup dibangun dari dalam negeri. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan gejolak pasar global, konektivitas serta kerja sama antarnegara menjadi faktor penting untuk menjaga pasokan tetap aman. Pesan inilah yang mengemuka dalam penyelenggaraan 51st ASCOPE (ASEAN Council on Petroleum) Council Meeting di Bali, 26–28 Oktober 2026, yang mengusung tema Strengthening Resilience Through Collaboration.
Sebagai tuan rumah, PT Pertamina (Persero) mendorong penguatan kolaborasi perusahaan energi nasional se-ASEAN untuk mengantisipasi risiko gangguan pasokan, memperkuat ketahanan infrastruktur lintas batas, dan mengoptimalkan cadangan energi kawasan. Langkah ini diarahkan untuk menjaga ketersediaan sekaligus keterjangkauan energi bagi masyarakat di tengah dinamika global yang memengaruhi rantai pasok dunia sejak awal tahun.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, menegaskan bahwa tantangan industri energi semakin kompleks sehingga membutuhkan respons bersama tanpa mengesampingkan kepentingan domestik setiap negara.
“Tantangan energi regional yang kita hadapi hari ini terlalu kompleks untuk diatasi sendirian. Melalui tindakan kolektif dan kemitraan strategis di bawah kerangka ASCOPE, kita dapat memastikan ketahanan serta memperkuat konektivitas energi regional yang kokoh untuk melindungi pasokan domestik dari hantaman krisis global,” tegas Oki dalam sesi roundtable meeting, Rabu (28/10/2026).
Menurut Oki, sinergi regional menjadi fondasi untuk membangun kawasan Asia Tenggara yang lebih terhubung dan siap menghadapi situasi darurat energi.
“Kita membutuhkan jalur kolaborasi yang lebih erat dan terpadu untuk merespons darurat energi global serta dinamika yang kita hadapi saat ini. Pertamina menyambut baik kehadiran seluruh delegasi ASEAN di Bali. Pengalaman dan pengembangan teknologi yang kita miliki dapat berkontribusi secara signifikan terhadap ambisi bersama yang praktis dan saling menguntungkan,” tambahnya.
Pentingnya kerja sama tersebut juga disampaikan Managing Director Petroleum Authority of Brunei Darussalam, Shamir Salahudin. Ia menekankan bahwa ketahanan energi merupakan kepentingan bersama seluruh negara ASEAN, termasuk Brunei sebagai negara pengekspor minyak. Kolaborasi regional dibutuhkan agar masyarakat memiliki akses terhadap sumber energi yang andal.
“Tahun ini terdapat dinamika geopolitik yang signifikan, menjadi sangat penting bagi negara ASEAN dan perusahaan energi nasional masing-masing negara untuk saling berkolaborasi. Forum ini juga merumuskan kesepakatan bagaimana kami untuk bekerjasama dalam memastikan ketahanan energi di kawasan ASEAN,” jelas Shamir.
Sementara itu, VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyatakan bahwa kepemimpinan Indonesia dalam forum tersebut, melalui Pertamina sebagai pemimpin delegasi Indonesia sekaligus ASCOPE Secretary in Charge (ASIC), diarahkan untuk memperkuat fondasi ketahanan energi nasional melalui kerja sama regional yang konkret.
Pertamina mendorong tiga fokus utama: memperkuat keandalan infrastruktur dan jaringan energi regional; menjaga pasokan sembari mengakselerasi transisi energi yang terukur dan berkeadilan; serta menerjemahkan komitmen bersama menjadi aksi nyata untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah fluktuasi harga energi global.
“Forum ini diharapkan dapat meningkatkan kolaborasi serta mendorong kebijakan yang mencerminkan suara kolektif ASEAN, sekaligus memperkuat posisi tawar kawasan dalam peta energi global demi mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan di masa depan,” tutup Baron. (her)


















