INDOPOSCO.ID – Memperingati Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober bukan sekadar mengenang ikrar sejarah pada tahun 1928, melainkan pengingat bahwa keberagaman budaya adalah fondasi kekuatan bangsa Indonesia. Di tengah semangat persatuan tersebut, masyarakat Sunda memiliki tanggung jawab moral untuk terus merawat warisan budaya sekaligus menjadikannya bagian tak terpisahkan dari kehidupan kebangsaan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Majelis Adat Sunda (MASDA) Provinsi DKI Jakarta yang juga Ketua Umum Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI), Dadang Rachmat, S.H., dalam pandangannya menyambut Hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2026).
Menurut Dadang, budaya bukanlah sekadar peninggalan masa lalu yang disimpan dalam seremoni atau pertunjukan semata. Budaya hidup melalui bahasa yang digunakan, nilai yang diwariskan, sikap pergaulan, hingga cara masyarakat membangun hubungan sosial.
Dalam tradisi Sunda, nilai silih asah, silih asih, silih asuh mengajarkan pentingnya saling mencerdaskan, menyayangi, dan membimbing. Sementara prinsip someah hade ka semah mencerminkan keramahan dalam menerima sesama. Nilai-nilai ini dinilai sangat relevan untuk merawat kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.
”Merawat budaya Sunda bukan semata-mata mempertahankan tradisi, melainkan merawat nilai kemanusiaan dan kebersamaan yang dapat berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Identitas kesukuan dan nasional tidak perlu dipertentangkan, justru keduanya saling menguatkan,” ujar Dadang. (srv)


















