• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

PHE Bidik Indonesia Jadi Hub CCS Asia, Dorong Dekarbonisasi Lintas Negara

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Sabtu, 24 Oktober 2026 - 12:12
in Ekonomi
utojo

Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Dannif Utojo Danusaputro, saat menjadi pembicara dalam panel diskusi di ajang Japan CCUS Summit 2026 bertajuk “From Partnerships to Projects: Delivering Cross-Border CCS between Japan and Asia” yang diselenggarakan di Tokyo, Jepang, Senin (19/10/2026). Foto: Dokumen PHE

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) memperkuat langkah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS) regional di Asia. Upaya ini dilakukan melalui pengembangan kerja sama lintas negara guna mendukung target dekarbonisasi kawasan sekaligus membuka peluang industri rendah karbon di Indonesia.

Komitmen tersebut disampaikan Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE, Dannif Utojo Danusaputro, dalam panel diskusi Japan CCUS Summit 2026 bertajuk “From Partnerships to Projects: Delivering Cross-Border CCS between Japan and Asia” di Tokyo, Jepang, pada Senin (19/10/2026).

BacaJuga:

PLN Indonesia Power Gandeng Kejati Sumut Perkuat Tata Kelola dan Mitigasi Risiko Hukum

3 Pekerja Pertamina Raih Tanda Kehormatan dari Presiden, Perkuat Pengabdian di Sektor Energi

Indeks Inklusi Keuangan Jakarta Capai 99,74 Persen, Bank Jakarta Perkuat Edukasi Masyarakat

Dalam forum tersebut, Dannif menekankan bahwa keberhasilan proyek CCS lintas negara tidak hanya ditentukan oleh besarnya kapasitas penyimpanan karbon yang tersedia. Kepastian regulasi, koordinasi kelembagaan, dan kelayakan finansial jangka panjang menjadi faktor penting untuk menarik investasi industri, khususnya dari Jepang.

Menurutnya, proyek CCS membutuhkan kepercayaan investor karena investasi yang ditanamkan harus menopang operasional dan pengelolaan karbon dalam jangka panjang, bahkan hingga 20-30 tahun.

“Bagi investor dan industri penghasil emisi di Jepang, kepercayaan dibangun di atas tiga pilar utama, yakni kepastian regulasi untuk mengelola risiko jangka panjang, kejelasan kelembagaan yang terkoordinasi dan transparan dalam pengelolaan perizinan hingga pengawasan lintas batas, serta kelayakan finansial jangka panjang (bankability),” ujar Dannif.

Ia menjelaskan, pengembangan CCS lintas negara merupakan kemitraan strategis dua arah. Di satu sisi, industri penghasil emisi membutuhkan solusi penyimpanan karbon yang aman dan berkelanjutan. Di sisi lain, penyedia fasilitas penyimpanan seperti Pertamina memerlukan kepastian pasokan karbon dioksida (CO₂), kesiapan fasilitas penangkapan karbon, serta komitmen komersial dalam jangka panjang.

Pembangunan hub CCS juga membutuhkan investasi awal yang besar, mulai dari studi karakterisasi geologis, pengeboran sumur, pembangunan fasilitas injeksi, hingga infrastruktur transportasi karbon. Karena itu, kepastian volume emisi dan kontrak kerja sama jangka panjang menjadi elemen penting untuk menjaga kelayakan proyek.

“Proyek CCS lintas batas bukan sekadar transaksi komersial penyimpanan karbon, melainkan sebuah kemitraan strategis jangka panjang. Bagi perusahaan seperti Pertamina, pembangunan hub CCS memerlukan investasi awal yang sangat besar untuk studi karakterisasi, pengeboran sumur, fasilitas injeksi, hingga infrastruktur transportasi. Oleh karena itu, kami membutuhkan kepastian volume emisi, kesiapan fasilitas penangkapan di pihak industri, dan kontrak kerja sama jangka panjang,” tegasnya.

Untuk mempercepat realisasi proyek, Dannif mendorong para pengembang CCS membangun kepercayaan melalui transparansi, mengembangkan infrastruktur berskala hub, memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, serta mengonsolidasikan kemitraan jangka panjang dengan para pelaku industri.

PHE menargetkan pencapaian tonggak penting dalam dua hingga tiga tahun ke depan, yakni terwujudnya keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) pada proyek CCS lintas batas komersial pertama di kawasan Asia-Pasifik hingga memasuki tahap injeksi.

Menurut Dannif, keberhasilan proyek perintis tersebut akan menjadi pembuktian bagi pengembangan CCS lintas negara di kawasan. Proyek yang mampu menunjukkan proses penangkapan, pengangkutan lintas batas secara aman, serta penyimpanan CO₂ secara permanen dengan dukungan regulasi yang andal berpotensi membuka jalan bagi proyek-proyek berikutnya.

“Jika proyek pertama ini berhasil membuktikan bahwa CO₂ dapat ditangkap di satu negara, diangkut secara aman melintasi batas negara, dan disimpan secara permanen di bawah kerangka regulasi yang andal, maka pasar akan bergerak cepat dari tahap diskusi menuju replikasi. Keberhasilan ini akan memvalidasi kerangka kerja regulasi, model bisnis, solusi teknis, hingga struktur kemitraannya,” papar Dannif.

Pengembangan CCS lintas negara tersebut juga sejalan dengan visi Asia Zero Emission Community (AZEC), yang mendorong kolaborasi negara-negara Asia dalam mempercepat transisi menuju emisi nol bersih. Melalui kerja sama ini, Jepang berpeluang memperoleh kepastian solusi penyimpanan emisi jangka panjang, sementara Indonesia dapat mengembangkan industri rendah karbon bernilai tambah.

“Bersama pemerintah, kami berkomitmen menjadikan Indonesia sebagai hub CCS regional yang andal dan terpercaya untuk mendukung perjalanan dekarbonisasi di Asia,” ujar Dannif.

PHE menegaskan akan terus mengembangkan bisnis dan mengelola operasi hulu minyak dan gas bumi secara berkelanjutan dengan mengacu pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Komitmen tersebut turut diperkuat melalui penerapan tata kelola perusahaan yang baik, budaya kepatuhan, serta upaya pencegahan kecurangan (fraud) guna mewujudkan lingkungan kerja yang profesional, transparan, dan berintegritas. (rmn)

Tags: carbon capture and storageCCS Hub AsiaDekarbonisasiindustri hulu migasPertamina Hulu EnergiPHE

Berita Terkait.

pltu
Ekonomi

PLN Indonesia Power Gandeng Kejati Sumut Perkuat Tata Kelola dan Mitigasi Risiko Hukum

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:11
bahlil
Ekonomi

3 Pekerja Pertamina Raih Tanda Kehormatan dari Presiden, Perkuat Pengabdian di Sektor Energi

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 09:29
rano
Ekonomi

Indeks Inklusi Keuangan Jakarta Capai 99,74 Persen, Bank Jakarta Perkuat Edukasi Masyarakat

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 09:19
lpdb
Ekonomi

Jaga Kepercayaan Publik, LPDB Koperasi Benahi Sinkronisasi Data Keuangan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 05:05
maman
Ekonomi

Sinergi Kementerian UMKM-Barantin Perluas Jalan Usaha Mikro Menuju Pasar Global

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 01:11
mayapada
Ekonomi

Mayapada Hospital Tangerang Siapkan Fasilitas Baru Pengembangan Layanan Kanker Terpadu

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 00:30

OLAHRAGA

NOC Indonesia
Olahraga

Menuju Dakar 2026, NOC Indonesia Resmi Lepas 12 Atlet Muda Terbaik

Editor Folber Siallagan
Sabtu, 24 Oktober 2026 - 02:22

INDOPOSCO.ID – Sebanyak 12 atlet muda Indonesia bersiap membawa Merah Putih ke panggung dunia melalui Youth Olympic Games (YOG) Dakar...

SelengkapnyaDetails
champion

Hasil Liga Champions: MU Dipermak Como, Bayern Gagal Menang Atas Arsenal

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:10
persija

Persija vs Arema: Shin Tae-yong Siapkan Strategi Redam Singo Edan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:51
Hasil Liga Champions: Hujan Gol Tercipta, PSG hingga Liverpool Berpesta

Hasil Liga Champions: Hujan Gol Tercipta, PSG hingga Liverpool Berpesta

Rabu, 21 Oktober 2026 - 07:16
Super League Membara! Macan Lapar Cari Pelampiasan, Singa Edan dan Juku Eja Siap Jadi Algojo

Super League Membara! Macan Lapar Cari Pelampiasan, Singa Edan dan Juku Eja Siap Jadi Algojo

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:31

BERITA POPULER

  • IWBIF

    IWBIF 2026 Digelar di Jakarta, IWAPI Dorong Pengusaha Perempuan Indonesia Go Global

    1156 shares
    Share 462 Tweet 289
  • Kunci Wirausaha Kuat, Ekonomi Melesat Perpres No. 38 Tahun 202

    1313 shares
    Share 525 Tweet 328
  • Bea Cukai Gagalkan Pengangkutan 1,6 Juta Batang Rokok Ilegal di Tol Ciperna

    905 shares
    Share 362 Tweet 226
  • Atasi Suhu Panas, Pemprov Jakarta Gelar Operasi Modifikasi Cuaca

    892 shares
    Share 357 Tweet 223
  • Napoleon Bonaparte Tutup Usia, Dokter Tifa: Pertemuan Minggu Lalu Jadi Kenangan Terakhir

    875 shares
    Share 350 Tweet 219
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.