INDOPOSCO.ID – Keselamatan operasi minyak dan gas bumi (migas) membutuhkan peran aktif seluruh pihak, termasuk masyarakat yang beraktivitas di sekitar wilayah operasi. Untuk memperkuat kesadaran tersebut, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menggelar Sosialisasi Terpadu Keselamatan dan Keamanan Objek Vital Nasional (Obvitnas) di Balai Pertemuan Umum Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, pada Selasa (6/10/2028).
Kegiatan bertema “Keselamatan dan Keamanan Objek Vital Nasional Adalah Tanggung Jawab Kita Bersama” ini melibatkan perwakilan sembilan desa, kelompok nelayan, Kelompok Tani Hutan, serta Masyarakat Peduli Api (MPA). Sejumlah narasumber dari BPBD Kutai Kartanegara, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Timur, KSOP Samarinda, tim Pipeline Operations Maintenance Agreement (POMA), dan PHM turut memberikan edukasi keselamatan.
Head of Communication Relations & CID PHM, Achmad Krisna Hadiyanto, mengatakan sosialisasi ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat dukungan para pemangku kepentingan terhadap keselamatan operasi hulu migas sekaligus menjaga keberlanjutan produksi dan ketahanan energi nasional.
“Di tengah dinamika geopolitik dunia, keberlanjutan produksi migas PHM memberikan kontribusi nyata terhadap kemampuan negara kita untuk menyediakan energi yang diperlukan bagi kegiatan ekonomi masyarakat dan pembangunan Indonesia,” ujar Achmad, dikutip Jumat (23/10/2026).
Ia menambahkan, pemahaman masyarakat mengenai aktivitas dan risiko operasi migas menjadi kunci membangun hubungan yang harmonis antara perusahaan, pemerintah, dan warga.
“Melalui sosialisasi terpadu ini, kami ingin memastikan informasi mengenai keselamatan dan aktivitas operasi hulu migas dapat dipahami oleh masyarakat terutama yang beraktivitas di sekitar wilayah operasi perusahaan,” jelasnya.
Materi sosialisasi mencakup keselamatan pelayaran di Delta Mahakam, aktivitas penangkapan ikan, kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta perlindungan jaringan pipa migas. Nelayan juga diingatkan agar tidak memasuki zona terlarang di sekitar platform dan jalur pipa serta menggunakan jangkar sesuai prosedur untuk mencegah kerusakan fasilitas yang berpotensi mengganggu operasi, membahayakan keselamatan, dan mencemari lingkungan.
Penata Keselamatan dan Keamanan Pelayaran KSOP Samarinda, Kornelius Borus, memaparkan pentingnya kewaspadaan saat melintasi titik river crossing pipa migas, terutama ketika air surut, serta saat kapal bermanuver di kawasan terbatas pipeline river crossing RC-14. Sementara itu, DKP Kalimantan Timur menjelaskan ketentuan zona perairan dan aktivitas perikanan di Delta Mahakam.
Kepala Seksi Pencegahan BPBD Kutai Kartanegara, Mohd. Farid turut memberikan pembekalan mengenai teknik dasar pengendalian karhutla dan keselamatan relawan.
Diskusi berlangsung interaktif dengan membahas persoalan yang dihadapi masyarakat di lapangan, mulai dari aktivitas nelayan di sekitar wilayah operasi dan lintasan alat berat di jalur pipa hingga kebutuhan sarana penanganan karhutla serta indikasi bercak minyak di perairan.
Camat Anggana, Rokip mengapresiasi kegiatan tersebut dan berharap komunikasi antara perusahaan dan masyarakat semakin terbuka sehingga persoalan di lapangan dapat ditangani bersama.
“Kami berharap jalinan komunikasi dan penyampaian aspirasi kepada perusahaan dapat berjalan dengan baik dan saling mendukung, sehingga persoalan yang terjadi di lapangan dapat dievaluasi bersama,” jelas Rokip.
Melalui sosialisasi ini, PHM mendorong masyarakat menjadi mitra aktif dalam menjaga keselamatan lingkungan dan fasilitas operasi migas. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menekan potensi risiko sekaligus mendukung kelancaran operasi hulu migas di Delta Mahakam.
“Kami meyakini pentingnya kontribusi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga keamanan dan keselamatan fasilitas dan operasi hulu migas sebagai obvitnas demi ketersediaan dan ketahanan energi Indonesia,” pungkas Achmad.(her)

















