INDOPOSCO.ID – Kesenjangan sarana pendidikan madrasah masih menjadi pekerjaan besar. Menjawab kebutuhan tersebut, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menyiapkan anggaran Rp17,5 miliar untuk merenovasi 700 Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) dan Madrasah Tsanawiyah Swasta (MTsS) pada 2026 melalui program Madrasah Layak Belajar.
Pimpinan BAZNAS Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan, Idy Muzayyad, mengatakan bantuan sebesar Rp25 juta per madrasah difokuskan pada perbaikan ruang kelas, bukan pembangunan gedung baru. Renovasi dilakukan secara swakelola dengan memperhatikan kenyamanan, kebersihan, sirkulasi udara, pencahayaan, dan keamanan struktur.
“Nominalnya sebanyak Rp25 juta per madrasah. Kali ini untuk tahun 2026 kita mengalokasikan untuk 700 madrasah, yang totalnya berarti angkanya adalah 17,5 miliar” ujar Idy kepada awak media usai peluncuran Program Madrasah Layak Belajar di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Program ini melanjutkan capaian periode 2024–2025 yang telah menjangkau 2 ribu titik di 37 provinsi. Namun, cakupan tersebut masih jauh dari kebutuhan, mengingat jumlah madrasah swasta di Indonesia mencapai sekitar 84 ribu.
“Untuk program ini memang kita harapannya terus meningkat ke depan agar lebih banyak madrasah lagi yang bisa kita jangkau. Memang dari sisi kebutuhan itu masih sangat jauh dari yang kita berikan karena jumlah madrasah swasta di Indonesia ada sekitar 84 ribu madrasah (swasta),” katanya.
Untuk memperluas jangkauan, BAZNAS akan memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Agama (Kemenag), unit pengumpul zakat (UPZ), serta perusahaan BUMN dan swasta guna menghimpun dana dari lebih banyak muzaki dan donatur.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Kelembagaan dan Sarana Madrasah Kemenag, Papay Supriyatna, menyebut terdapat sekitar 88 ribu madrasah di Indonesia, terdiri atas 4.085 madrasah negeri dan sekitar 84 ribu madrasah swasta. Meski bantuan Biaya Operasional Sekolah (BOS) tersedia, kebutuhan pengembangan sarana dan prasarana masih besar.
“Kami sudah melakukan simulasi penghitungan untuk madrasah baik negeri maupun swasta dan itu ketemu di angka Rp6 triliun lebih untuk pemenuhan itu semua. Itu untuk kebutuhan fisik (bangunan)” jelas Papay.
Papay menilai bantuan BAZNAS menjadi langkah penting, meski belum sebanding dengan kebutuhan pembenahan fisik madrasah. Ia pun mengajak masyarakat turut mendukung penyediaan ruang belajar yang layak bagi anak-anak Indonesia.
Sementara itu, Wakil Ketua BAZNAS Zainut Tauhid Sa’ad turut menyoroti pentingnya perbaikan fasilitas pendidikan. Ia mengungkapkan survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan 38 persen responden menempatkan perbaikan sarana dan prasarana pendidikan sebagai prioritas.
“Tingkatnya mencapai 38 persen dari total responden. Artinya apa? Kebutuhan siswa-siswi madrasah untuk bisa mendapatkan tempat belajar yang nyaman, yang baik, yang bisa mendorong semangat untuk belajarnya itu adalah madrasah yang layak, yang nyaman,” tutur Zainut.
Zainut juga membandingkan kondisi kelayakan sekolah di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dengan madrasah di bawah Kemenag. Menurutnya, kesenjangan tersebut menjadi alasan kuat agar program renovasi terus diperluas.
“Dari 100 persen untuk pendidikan yang dikelola oleh sekolah di bawah Kementerian Pendidikan Dasar, itu 80 persen layak dan sangat layak. Sementara yang 20 persen kurang layak. Sementara yang di bawah Kementerian Agama, madrasah-madrasah itu terbalik. Yang 80 persen itu tidak layak, yang 20 persen layak,” jelas Zainut.
Ia berharap Madrasah Layak Belajar menjadi program unggulan BAZNAS sekaligus mendorong lebih banyak pihak untuk terlibat dalam pembenahan fasilitas pendidikan madrasah.
“Dan tentu dengan adanya ini kami berharap nanti para donatur lebih tertarik. Meskipun ini bukan program baru, karena ini merupakan program luncuran dari tahun sebelumnya,” tutupnya. (her)

















