INDOPOSCO.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan energi terbarukan untuk memperkuat proses pascapanen di sektor perikanan dan perkebunan. Inovasi ini dinilai mampu menekan biaya operasional, menjaga kualitas produk, meningkatkan efisiensi energi, sekaligus mendongkrak nilai tambah hasil produksi, terutama di wilayah pesisir dan sentra perkebunan.
Kepala Pusat Riset Teknologi Konversi Energi BRIN, Tata Sutardi, mengatakan sejumlah hasil riset BRIN telah memasuki tahap hilirisasi dan berpotensi diterapkan lebih luas untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
“Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah fasilitas pengering dan pembuat es (ice maker) berbasis energi panas matahari atau solar thermal. Teknologi ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan pascapanen di wilayah pesisir, khususnya dalam menjaga mutu hasil tangkapan nelayan,” ujar Tata dalam keterangan, Minggu (18/10/2026).
Menurut Tata, pengembangan teknologi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Uji coba percontohan juga telah dilakukan melalui kerja sama dengan Pertamina di Indramayu.
“Pada beberapa topik, riset yang ada di pusat riset kami sudah memasuki tahap hilirisasi. Kami berharap hasil riset tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dan memberikan dampak nyata,” kata Tata.
BRIN juga menjalin kolaborasi dengan KKP untuk mengembangkan inovasi yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan nelayan. Salah satunya melalui pengembangan ekosistem green marine, termasuk pemanfaatan motor listrik untuk aktivitas penangkapan ikan harian dan penyediaan infrastruktur pendukung.
Energi yang tersedia dari sistem tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk menunjang pengolahan hasil perikanan. Dengan demikian, pemanfaatan energi terbarukan tidak hanya mendukung kegiatan penangkapan, tetapi juga dapat memperkuat rantai pasok hingga produk siap dipasarkan.
Dari sisi perikanan, Budi Yuwono dari KKP menyoroti pentingnya ketersediaan energi dalam menjaga kualitas hasil tangkapan. Kebutuhan tersebut mencakup penyediaan es, rantai dingin, penyimpanan, hingga pengolahan hasil perikanan.
Persoalan ini semakin penting karena sejumlah lokasi produksi masih menghadapi keterbatasan pasokan listrik. Kondisi tersebut dapat menghambat penanganan hasil tangkapan dan meningkatkan risiko kehilangan hasil pascapanen, terutama pada komoditas tongkol, cakalang, tuna, dan kembung.
“Energi adalah key factor dan juga enabler dalam pascapanen hasil perikanan. Energi terbarukan berpeluang mendukung rantai dingin, pengeringan, dan pengolahan hasil perikanan,” ujar Budi. (nas)

















