INDOPOSCO.ID – Fenomena fatherless atau minimnya peran ayah dalam pengasuhan anak di Indonesia kian mengkhawatirkan. Dampaknya bukan sekadar persoalan emosional, tetapi juga dapat memicu tekanan mental serius hingga membuat anak kehilangan harapan untuk menjalani hidup.
Pendiri Yayasan Rumah Mans yang kini menjadi Rumah Istimewa, Abdullah Mansuri, mengungkapkan, pengalaman menggali cerita anak-anak yang mengalami fatherless membuka matanya terhadap beratnya beban psikologis yang mereka tanggung.
Bahkan, sejumlah anak mengaku pernah menyakiti diri sendiri hingga mengungkapkan keinginan untuk mengakhiri hidup.
“Curhatannya di luar ekspektasi saya. Ada yang menyakiti dirinya sendiri, mereka sudah tidak mampu bertahan, bahkan banyak yang bilang mau bunuh diri saja,” ujar Ayah Mansuri saat ditemui indoposco.id dalam peluncuran buku perdananya yang berjudul “Kalau Lelah, Pulang Ke Ayah, Nak!, Jumat (16/10/2026).
Keprihatinan tersebut mendorong Mansuri menghadirkan buku yang diharapkan menjadi teman sekaligus tempat bersandar bagi anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran figur ayah yang utuh.
Buku itu, dikatakan dia, ditujukan bagi anak-anak yang kehilangan sosok ayah akibat perceraian, ditinggal wafat, maupun mereka yang memiliki ayah secara fisik, tetapi tidak merasakan kehadiran dan keterlibatan emosionalnya.
Menurutnya, fenomena fatherless di Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Berdasarkan data yang disampaikannya, angkanya berkisar 22 hingga 25,8 persen. Persentase tersebut mencerminkan besarnya jumlah anak yang kehilangan peran ayah dalam proses tumbuh kembang mereka.
“Secara fisik ada ayahnya, tetapi perannya tidak ada. Jumlahnya lumayan besar, 22 persen itu bukan sedikit. Kalau diakumulasikan, ada puluhan juta anak,” ungkapnya.
Melalui buku tersebut, Mansuri ingin meyakinkan anak-anak yang mengalami fatherless bahwa mereka tidak sendirian menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Buku itu disusun untuk menjawab kegelisahan anak muda, mulai dari persoalan kehidupan, percintaan, hingga upaya bertahan menghadapi berbagai tantangan tanpa pendampingan ayah.
Ia berharap, para pembaca dapat menemukan semangat baru untuk melanjutkan kehidupan, memperbaiki diri, dan mengejar cita-cita meskipun harus tumbuh dalam kondisi keluarga yang tidak utuh.
“Buku ini menjawab semua kegelisahan, mengembalikan memori mereka tentang ayah, dan menyemangati bagaimana menjadi lebih baik ke depan,” jelasnya.
Mansuri menegaskan, buku tersebut bukan sekadar bacaan untuk anak-anak yang mengalami fatherless. Lebih dari itu, karya tersebut diharapkan menjadi pengingat bagi para ayah agar tidak mengabaikan peran pentingnya dalam kehidupan anak, apa pun persoalan yang sedang dihadapi keluarga.
Seperti, lanjut dia, persoalan ekonomi, keretakan rumah tangga, maupun kesulitan lainnya, menurut dia, tidak seharusnya menjadi alasan untuk sepenuhnya meninggalkan anak tanpa pendampingan dan perhatian emosional.
“Ini juga sebagai cermin dari seorang ayah. Kembalilah kepada pelukan anak-anak kalian. Dengan berbagai situasi dan kondisi, entah ekonomi atau lainnya, jangan pernah tinggalkan dan tetap adakan peran ayah di hidup anak-anak kalian,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, selain menjadi ruang penguatan bagi anak-anak yang mengalami fatherless, buku tersebut juga diharapkan menjadi jembatan komunikasi antara orang tua dan anak.
Selama ini, tidak sedikit anak yang kesulitan mengungkapkan perasaan, keresahan, maupun persoalan yang mereka hadapi kepada orang tua. Sebaliknya, orang tua juga kerap mengalami kesulitan memahami cara pandang dan kebutuhan emosional anak.
Di tempat yang sama, Pemimpin Redaksi Gradien Mediatama, Tri Prasetyo menilai, hubungan orang tua dan anak merupakan proses pembelajaran yang berlangsung sepanjang hayat. Karena itu, komunikasi dan keterbukaan menjadi bagian penting dalam membangun hubungan keluarga yang sehat.
“Kami percaya menjadi orang tua sebenarnya juga pembelajaran hidup sampai mati, menjadi anak pun ternyata sama. Nah, buku ini menjadi bagian dari proses komunikasi antara orang tua dan anak,” ujarnya.
Melalui buku ini, anak diharapkan memiliki sarana untuk menyampaikan hal-hal yang selama ini terpendam, sementara orang tua dapat lebih memahami perasaan dan kebutuhan anak.
“Ke depannya, semoga isu fatherless dan keresahan terkait fatherless ini bisa terjembatani dengan adanya buku ini. Itu harapan besar dari kami,” pungkasnya.(nas)

















