INDOPOSCO.ID — Universitas Terbuka (UT) memperkuat pengembangan riset dan inovasi mahasiswa melalui kolaborasi lintas perguruan tinggi, peningkatan investasi penelitian, serta hilirisasi hasil riset agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Komitmen penguatan riset mahasiswa tersebut mengemuka dalam penyelenggaraan International Seminar on Science and Technology (ISST) ke-6 yang dirangkai dengan Rapat Tahunan Badan Kerja Sama (BKS) Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Wilayah Barat, Senin (12/10/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ajang bagi akademisi, dosen, dan mahasiswa untuk memperluas jejaring, bertukar gagasan riset, serta mengembangkan kolaborasi penelitian di bidang sains dan teknologi. Forum tersebut juga melibatkan jejaring perguruan tinggi bidang matematika dan ilmu pengetahuan alam se-Indonesia atau MIPA-Net.
Selain seminar ilmiah, ISST ke-6 memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengikuti berbagai kompetisi akademik. Keterlibatan mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan inovasi dalam menjawab tantangan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Wakil Rektor Bidang Akademik UT, Prof. Rahmat Budiman, S.S., M.Hum., Ph.D., menegaskan, bahwa pengembangan riset di lingkungan kampus harus diarahkan pada hasil yang memberikan dampak nyata, bukan sekadar menghasilkan publikasi ilmiah.
“Tentu kami senantiasa mendorong agar tidak hanya berhenti pada publikasi. Komitmen di tingkat universitas bukan hanya pada publikasi, melainkan bagaimana penelitian tersebut sampai pada hilirisasi,” ujar Rahmat ditemui indoposco.id di kampus UT, Senin (12/10/2026).
Menurut dia, hasil penelitian perlu dikembangkan agar dapat diterapkan menjadi produk, teknologi, maupun inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat. Untuk itu, UT memperkuat sinergi dengan berbagai mitra strategis sekaligus memberikan dukungan pembiayaan penelitian kepada dosen.
UT juga menyiapkan penghargaan atau reward bagi dosen yang berhasil menghasilkan luaran penelitian konkret, seperti hak paten dan produk terapan. Insentif tersebut diharapkan menjadi stimulus bagi sivitas akademika untuk menghasilkan penelitian berkualitas dan memiliki nilai guna.
“Kita tidak hanya selesai membiayai, tetapi juga memberikan reward bagi para dosen yang berhasil menghasilkan luaran dari penelitian tersebut. Reward itu sebenarnya sebagai stimulus bagi para dosen untuk melakukan penelitian yang betul-betul berdampak dan diharapkan oleh masyarakat,” tegasnya.
Sekretaris Jenderal MIPA-Net, Dr. Berry Juliandi, S.Si., M.Si., menilai investasi sains menjadi fondasi penting bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing dan mencapai kemajuan sebagai negara maju. “Tidak ada negara yang maju atau menjadi superpower yang tidak melakukan investasi di dalam sains,” ujarnya.
Berry mengatakan, pertemuan tahunan yang melibatkan hampir 100 institusi perguruan tinggi tersebut menjadi kesempatan strategis untuk memperkuat jejaring penelitian sekaligus merumuskan rekomendasi berbasis keilmuan bagi pemangku kebijakan.
Menurut dia, pengembangan sains di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan investasi riset, penguatan kualitas sumber daya manusia, serta hambatan birokrasi. Karena itu, diperlukan dukungan kebijakan dan pendanaan yang memadai agar penelitian dapat berjalan lebih efektif.
Sementara itu, Wakil Ketua BKS PTN Barat, Dr. Eng. Heri Satria, S.Si., M.Si., menyampaikan bahwa kolaborasi BKS PTN Barat dengan MIPA-Net diarahkan untuk meningkatkan kualitas riset dan publikasi ilmiah, khususnya di bidang matematika.
Kerja sama tersebut mencakup pengembangan penelitian berbasis sains data, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dan machine learning. Pemanfaatan teknologi itu diharapkan membuka peluang lahirnya metode penelitian yang lebih efektif, akurat, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Heri menambahkan, forum ilmiah tersebut juga diarahkan untuk menghasilkan luaran yang dapat dipublikasikan secara luas sehingga hasil penelitian akademisi tidak hanya tersimpan di lingkungan kampus, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai referensi bagi masyarakat dan pemangku kepentingan.
Selain memperkuat riset, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UT terus meningkatkan mutu pendidikan dan penjaminan kualitas program studi. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menjalin kerja sama dengan Lembaga Akreditasi Mandiri Sains Alam dan Lingkungan (Lamsama).
Dekan FST UT, Dr. Subekti Nurmawati, M.Si., mengatakan, kolaborasi tersebut diharapkan membantu program studi mengidentifikasi tantangan akademik, memperkuat tata kelola, dan memenuhi standar penjaminan mutu pendidikan tinggi.
“Kami berharap melalui sinergi ini, seluruh program studi dapat mengoptimalkan penjaminan mutu dan tata kelola pendidikannya. Target utamanya jelas, yakni meraih akreditasi dengan predikat unggul demi memperkuat daya saing lulusan,” ujar Subekti.
Ia menegaskan, penguatan mutu pendidikan perlu berjalan beriringan dengan percepatan hilirisasi riset. Penelitian yang dilakukan sivitas akademika harus mampu menghasilkan solusi yang dapat diterapkan untuk menjawab berbagai persoalan di tengah masyarakat.
Melalui ISST ke-6 dan Rapat Tahunan BKS PTN Wilayah Barat, UT berharap kolaborasi lintas perguruan tinggi semakin kuat dan berkelanjutan. Sinergi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas publikasi ilmiah, tetapi juga memperluas keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan penelitian serta mendorong lahirnya inovasi yang bermanfaat bagi pembangunan nasional. (nas)

















