INDOPOSCO.ID – Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI Ahmad Heryawan mendorong pemerintah memperketat pengendalian tata niaga impor tembakau dengan memperkuat komitmen industri untuk menyerap hasil produksi petani dalam negeri.
Menurut Aher, kebijakan impor perlu disesuaikan dengan kemampuan produksi nasional agar tembakau lokal memiliki kepastian pasar dan petani tidak dirugikan akibat masuknya produk dari luar negeri.
“Tata niaga impor tembakau itu harus dikendalikan. Mungkin kalau dihentikan karena masih kurang tembakau kita, tidak mungkin, tapi dikendalikan,” ujar Aher dalam Festival Aspirasi BAM DPR RI tentang Kesejahteraan Petani Tembakau dan Bawang Putih di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Senin (21/9/2026).
Aher menilai tembakau memiliki karakteristik berbeda dengan komoditas pangan yang dikonsumsi secara langsung masyarakat. Tembakau impor digunakan sebagai bahan baku industri sehingga pemerintah, menurutnya, memiliki ruang untuk mendorong pelaku industri meningkatkan penyerapan tembakau produksi petani dalam negeri.
“Tinggal ada komitmen perusahaan oleh negara dibuat berkomitmen untuk menyerap hasil tembakau masyarakat. Selesai, impor juga akan berkurang dengan sendirinya,” katanya.
Ia menegaskan impor semestinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang belum dapat dipenuhi oleh produksi domestik. Dengan demikian, impor tidak menggantikan komoditas yang sebenarnya masih mampu disediakan petani Indonesia.
“Impor seperlunya saja sebagai material ekonomi. Ketika kita punya produksi cukup untuk 90 persen atau 80 persen, impor kurangnya,” tegas Aher.
Menurutnya, pengendalian impor penting di tengah kekhawatiran petani terhadap meningkatnya produk tembakau dari luar negeri yang berpotensi memengaruhi penyerapan produksi lokal.
Aher juga mengingatkan agar kebijakan terkait industri hasil tembakau, termasuk pengaturan mengenai tar dan nikotin, turut mempertimbangkan dampaknya terhadap penggunaan bahan baku dari petani dalam negeri.
Selain tembakau, Aher menyoroti aspirasi masyarakat terkait penguatan produksi bawang putih lokal. Dalam forum tersebut, ia menerima masukan mengenai karakteristik bawang putih lokal yang dinilai memiliki rasa lebih kuat sehingga penggunaannya dapat lebih sedikit dibandingkan produk impor.
Menurut Aher, keunggulan tersebut perlu didukung kajian yang lebih mendalam agar dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam penyusunan kebijakan. Ia juga menilai upaya mencapai swasembada bawang putih perlu dilakukan secara bertahap, mulai dari penguatan ketersediaan benih hingga peningkatan kapasitas produksi.
“Kalau kemudian kita sangat memungkinkan untuk sampai kepada swasembada, mengapa tidak? Urusan bibit kan tinggal dibuat tahapan-tahapan, tahun berapa kita swasembada bibit yang berakibat pada swasembada produksi,” tutur Aher.
Ia optimistis produksi bawang putih nasional masih dapat ditingkatkan apabila didukung kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan. Dengan potensi pertanian yang dimiliki Temanggung, penguatan produksi lokal diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memperkuat kesejahteraan petani.(dar)

















